BPS: Waspadai Kenaikan Harga Bawang hingga Tomat

Apalagi, kata Suhariyanto, permintaan terhadap bahan pangan diperkirakan bakal meningkat, karena pada akhir Mei sudah masuk bulan Ramadan.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 02 Mei 2017 16:46 WIB

Author

Dian Kurniati

BPS: Waspadai Kenaikan Harga Bawang hingga Tomat

Pedagang memilah bawang putih di Pasar Tradisional Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (26/4/2017). Harga bawang naik karena minimnya pasokan bawang impor dan meningkatnya permintaan pasar. (Foto: ANTARA)


KBR, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) meminta pemerintah mewaspadai beberapa bahan pangan seperti bawang putih, meski pada bulan April 2017 harga pangan sangat terkendali, bahkan deflasi.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kenaikan harga bahan pangan tetap harus diwaspadai, selain Tarif Dasar Listrik (TDL) yang kembali naik sejak 1 Mei 2017.

Apalagi, kata Suhariyanto, permintaan terhadap bahan pangan diperkirakan bakal meningkat, karena pada akhir Mei sudah masuk bulan Ramadan.

"Ada beberapa komoditas bahan makanan yang perlu mendapat perhatian karena masih memberikan sumbangan terhadap inflasi. Kenaikan bawang putih ke depan perlu diwaspadai karena andilnya terhadap inflasi sebesar 0,03 persen. Kedua, daging ayam ras dan tomat punya andil terhadap inflasinya 0,02 persen. Satu lagi adalah jeruk. Tetapi secara umum harga bahan makanan sangat terkendali," kata Suhariyanto di kantor BPS, Selasa (2/5/2017).

Suhariyanto menambahkan pada bulan April lalu harga bahan pangan sangat stabil hingga mengalami deflasi sebesar 1,13 persen. Namun, Suhariyanto mengingatkan ada tren kenaikan harga pada komoditas pangan yakni bawang putih, daging ayam ras, tomat, dan jeruk.

Menurut Suhariyanto, pemerintah seharusnya bisa menjaga harga pangan itu agar tak melonjak dengan cara memastikan pasokan aman.

Pada April 2017, BPS juga mencatat tingkat inflasi sebesar 0,09 persen. Pada bulan itu, hanya kelompok pangan yang mengalami penurunan harga sehingga deflasi 1,13 persen, dengan andil deflasi sebear 0,24 persen. Harga yang menurun itu misalnya terjadi pada cabai merah dan rawit sebesar 0,09 persen dan 0,08 persen.

Adapun tarif dasar listrik, kata Suhariyanto, pada April menjadi penyebab utama inflasi dengan andil 0,22 persen. Inflasi itu utamanya didorong pelanggan listrik 900 VA berskema pascabayar, yang persentasenya lebih besar dibanding yang prabayar.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18