Kasus Siyono, Kapolri: Ada Indikasi Pelanggaran Prosedur, Tapi Bukan Kejahatan

"Yang bilang ini kejahatan kan kamu. Bukan, itu bukan kejahatan. Itu pelanggaran prosedur," kata Badrodin.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 20 Apr 2016 10:42 WIB

Author

Ria Apriyani

Kasus Siyono, Kapolri: Ada Indikasi Pelanggaran Prosedur, Tapi Bukan Kejahatan

Kapolri Badrodin Haiti. (Foto: Nurji/KBR)

KBR, Jakarta - Kepala Kepolisian Indonesia Badrodin Haiti mengakui ada indikasi atau dugaan pelanggaran prosedur yang dilakukan personel Detasemen Khusus Antiteror 88 Polri dalam kasus kematian Siyono.

Siyono merupakan salah seorang terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Antiteror Mabes Polri di Klaten Jawa Tengah.

Badrodin menolak jika dikatakan ada perbedaan dalam hasil otopsi antara yang dilakukan Polri dengan tim independen PP Muhammadiyah-Komnas HAM.

Terkait dugaan pelanggaran prosedur, Badrodin mengatakan hal itu harus dibuktikan dengan keterangan saksi-saksi.

"Yang bilang kejahatan itu kan kamu (wartawan). Bukan, itu bukan kejahatan. Itu pelanggaran prosedur," kata Badrodin di gedung DPR, Rabu (20/4/2016).

Kemarin, Dewan Etik Divisi Profesi dan Pengamanan Polri (Div Propam) menggelar sidang etik terhadap anggota Densus 88 Antiteror terkait kasus kematian Siyono. Sidang berlangsung tertutup.

Menurut Badrodin, sidang digelar tertutup demi menjaga keselamatan anggota Densus.

"Anggota Densus itu kan tidak boleh diketahui publik," kata Badrodin.

Siyono, warga asal Klaten tewas usai ditangkap Densus tanpa keterangan dan surat penangkapan. Hasil autopsi yang dilakukan tim forensik Muhammadiyah dan kepolisiam menunjukkan hasil yang berbeda.

Dalam otopsi Muhammadiyah-Komnas HAM, terungkap Siyono meninggal bukan karena luka di kepala seperti yang ada di catatan dari kepolisian.

Selain itu, di tubuh Siyono juga tidak ditemukan luka perlawanan. Sementara pihak kepolisian mengatakan Siyono meninggal karena terlibat perkelahian ketika coba melawan.

Editor: Agus Luqman
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Upaya Muslimah Bercadar Kikis Stigma (Bag 1)

Kabar Baru Jam 8

Menyoal Jaminan Kebebasan Warga, Apapun Agamanya

Kabar Baru Jam 10