Tekan Jumlah Bayi Prematur, Ini Langkah Kemenkes

"Jumlah paling tinggi bayi prematur ada di Papua. Karena di sana tingkat pernikahan di bawah umur sangat tinggi. 50 persen dari jumlah nasional."

BERITA , NASIONAL , NASIONAL

Kamis, 30 Apr 2015 08:53 WIB

Author

Gun Gun Gunawan

Tekan Jumlah Bayi Prematur, Ini Langkah Kemenkes

Petugas melakukan perawatan bayi kembar siam pasangan ER dan RM di ruang NICU IGD RSUD dr Soetomo, Surabaya, Jatim, Kamis (2/4). ANTARA FOTO

KBR, Jakarta - Kementerian Kesehatan akan memasukkan pengetahun pola makan yang baik dalam pelajaran-pelajaran kesehatan di tahun ajaran baru nanti. Direktur Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan, Elizabeth Jane Soepardi mengatakan, pola makan masyarakat Indonesia kebanyakan memicu tingginya angka bayi prematur. Hal itu diperparah dengan tingginya angka pernikahan di bawah umur.

"Jumlah paling tinggi bayi prematur ada di Papua. Karena di sana tingkat pernikahan di bawah umur sangat tinggi. 50 persen dari jumlah nasional. Intervensi kami adalah akan memasukkan pengetahuan soal pola makan dalam tahun ajaran baru nanti," kata Elizabeth Jane Soepardi kepada KBR, Kamis (30/4/2015).

Direktur Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan, Elizabeth Jane Soepardi menambahkan, masyarakat Indonesia masih kurang mengkonsumsi buah dan sayur. Tingkat konsumsi buah dan sayur, kata dia, makin anjlok dalam 10 tahun terkahir. Hal tersebut menambah resiko kelahiran bayi prematur. Saat ini Indonesia menempati peringkat lima dalam jumlah bayi prematur.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 10

What's Up Indonesia

Kabar Baru Jam 8

Penyalahgunaan Narkoba di kalangan Pelajar dan Mahasiswa Meningkat, Penerapan Regulasi Tidak Tepat Sasaran

Kabar Baru Jam 7