Bagikan:

Pemerhati MotoGP: Pemerintah Harus Carikan Sponsor untuk Pembalap Nasional

"Nah, pemerintah mau enggak nih ngasih sponsor? Karena yang sudah-sudah saja, pihak sponsornya mental."

NASIONAL | OLAHRAGA

Jumat, 18 Mar 2022 16:54 WIB

Harus Carikan Sponsor untuk Pembalap Nasional

Pemerhati Balap MotoGP, Ya yat di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, NTB. (Foto: Dokpri. Ya yat)

KBR, Jakarta - Gelaran MotoGP Mandalika 2022 telah dimulai. Indonesia sebagai tuan rumah pada ajang balap internasional itu diwakili oleh lima pembalap. Kelima pembalap tampil di kelas yang berbeda, dari Asia Talent Cup hingga kelas Moto3. Diantaranya Reykat Yusuf Fadhillah, Veda Ega Pratama, Aan Riswanto, dan Muhammad Diandra Trihardika di kelas Asia Talent Cup. Sedangkan Mario Suryo Aji berlaga di kelas internasional Moto3.

Pemerhati dan MotoGP Enthusiast, Ya Yat menilai, Indonesia sebenarnya memiliki banyak talenta pembalap yang berpotensi mengikuti gelaran internasional. Termasuk, balap motor kelas utama MotoGP. Namun ia menyayangkan, kurangnya atensi dari pemerintah untuk mengasah bakat pembalap dalam negeri.

Berikut, wawancara KBR dengan pemerhati dan MotoGP Enthusiast, Ya yat:

Indonesia jadi tuan rumah balap MotoGP, menurut anda bagaimana persiapan sirkuitnya dan animo penontonnya?

Jadi kalau untuk MotoGP di Mandalika itu sih kita semua excited ya. Sebagai penggemar balapan kita senang banget, akhirnya berlangsung lagi di sini. Kan terakhir di (Sirkuit) Sentul tuh ya, tapi itu udah zaman kapanlah. Nah, untuk yang di Mandalika ini, kita menyambutnya dengan sukacita banget. Dari mulai sirkuit itu dibangun, kita juga pantau terus nih progresnya. Terus kita juga lihat reaksi para pembalap juga senang banget bisa balapan di Indonesia. Karena kan penikmat balapan di Indonesia itu banyak banget, walaupun MotoGP enggak ada di sini, tetapi MotoGP di sini terkenal banget loh. Orang pada nonton walaupun cuma lewat televisi.

Jadi yang pertama excited banget. Saya sendiri sampai sama-sama teman penikmat balapan ini agak-agak enggak percaya juga, emang beneran nih bakalan bisa digelar di sini. Sampai akhirnya kita ada candaan, kita percaya nih di MotoGP bakal ada (di Indonesia) kalau pembalapnya sudah sampai di Mandalika. Karena kadung percaya enggak percaya, tapi ternyata tahun ini terselenggarakan. Walaupun dengan beberapa delay, harusnya kan tahun kemarin, terus ternyata ada pandemi dan lain-lain kan. Akhirnya kan terselenggara juga nih.

Bagaimana di Indonesia sendiri untuk pengembangan atlet-atletnya. Susahkah sebenarnya masuk ke kelas MotoGP?

Sebelumnya kalau untuk pembalap Indonesia itu pernah ada yang menjajal trek sirkuit-sirkuit MotoGP. Tapi, pasti kan mentoknya itu cuma di kelas Moto2. Dari zamannya dulu ada Doni Tata, terus ada Rafid Topan, terus sekarang juga ada beberapa lagi.

Sebenarnya sih, kalau misalnya dari skill para pembalap itu mereka bisa istilahnya DORNA sudah melihat, bahwa pembalap-pembalap Indonesia ini sebenarnya berbakat. Sebenarnya ada skillnya. Kalau misalnya diasah, terus dilatih, dengan dilatihnya bukan cuma dilatih di dalam negeri saja ya, tetapi dilatih untuk berlaga di kelas internasional. Karena pelatihan yang paling penting itu justru di internasional. Mencoba bermacam-macam jenis track di luar negeri.

Nah kalau untuk atensi pemerintah kepada para pembalap di Indonesia, saya akui ini agak kurang banget. Kebanyakan pembalap-pembalap di Indonesia ini dilatihnya oleh swasta. Misalnya ada Honda atau dari Yamaha yang rutin banget menggelar balapan kompetisi, balapan ya, walaupun itu cuma tingkat di Indonesia atau lokal. Tapi mereka sering banget mengadakan balapan, dan itu lumayan mengasah kan, sebenarnya mengasah skill-nya para pembalap.

Dan terus, kalau untuk yang di internasional juga ada tuh, sekarang ini Asia Talent Cup. Nah ini sebenarnya kan kalau di luar negeri semacam Malaysia itu, ajang Asian Talent Cup menjadi batu loncatan untuk ke kelas Moto3. Jadi para pembalap yang masuk ke Asian pelengkap itu akan diperhatikan banget sama pemerintah negaranya.

Nah ini, untuk Indonesia sendiri sebenarnya banyak yang masuk ke Asian Talent Cup, cuma lagi-lagi apa pemerintahnya kurang memberi perhatian lebih, karena faktanya tidak sebesar atensi dari negara yang lain yang memang memperhatikan balapannya, pembalapnya, memperhatikan olahraga balapan. Nah mungkin atensi yang kurang itu di sini, karena cabang olahraganya banyak banget kali ya.

Baca juga:

- Suasana Desa Wisata Lombok Menjelang MotoGP Mandalika

- Geliat Ekonomi Akar Rumput Jelang MotoGP Mandalika

Harapan anda dengan MotoGP Mandalika 2022 terkait pengembangan atlet-atlet nasional?

Saya berharap sih, dengan gelaran MotoGP yang ada di Indonesia, atensi pemerintah kepada para pembalap kita itu akan jadi lebih besar dibanding sebelumnya. Karena pemerintah sendiri sudah melihat, ini atensi penonton MotoGP di Indonesia itu gede banget. Walaupun di sini tadinya enggak ada gelaran MotoGP, tapi kan heboh banget gitu. Nah akan lebih bagus lagi kalau misalnya ada pembalap Indonesia yang berlaga di kelas MotoGP.

Masalahnya untuk loncat ke kelas MotoGP itu musti dari awal dulu nih, dari Moto3, Moto2 terus di kelas utama nih MotoGP. Nah untuk yang ke Moto3 sendiri itu kan pertama harus punya skill, dan yang keduanya harus punya modal sponsor terutama.

Nah, pemerintah mau enggak nih ngasih sponsor? Karena yang sudah-sudah saja, pihak sponsornya mental. Misalnya di ajang Formula 1 kan ada Rio Haryanto. Lalu sebelumnya di balapan motor sendiri ada juga Erik Topan, Doni Tata, juga Dimas Ekky. Itu mentoknya salah satunya ya di sponsor.

Kalaupun pemerintah tidak bisa secara langsung memberikan sponsor, ya bisalah ajak kerjasama swasta. Karena nanti begitu dia naik lagi ke kelas Moto2, itu kebutuhan sponsornya juga akan jadi lebih gede lagi. Karena memang modal materinya cukup lumayan sih, untuk yang bukan cuma skill ya. Tapi untuk materinya juga lumayan banget, untuk balapan di kelas internasional kayak gitu.

Editor: Fadli Gaper

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Buntu Penolakan Pemekaran Wilayah Papua