Bagikan:

Harga Batu Bara Terus Melejit, Pengusaha Genjot Produksi

"Jadi perusahaan-perusahaan saya yakin bukan hanya anggota APBI, bukan hanya anggota APBI, semua penambang di tanah air sejak ekspor di mulai kembali fokus bagaimana memaksimalkan target produksi"

NASIONAL

Senin, 07 Mar 2022 14:31 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumsel. Rabu (15/

Ilustrasi: Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumsel. Rabu (15/1/20). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta— Eskalasi geopolitik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina memberikan berkah bagi emiten batu bara. 

Data perdagangan ICE Newcastle menunjukkan, harga emas hitam itu meroket hingga US$418 per metrik ton pada, Senin (7/03/2022). Harga ini naik sekitar US$60 per metrik ton atau sekitar 16,7 persen dibandingkan harga di ICE pada Kamis (3/3/2022) yang sebesar US$ 358,45/ton.  

Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan, momentum kenaikan harga ini membuat produsen batu bara berupaya meningkatkan produksinya.

"Jadi perusahaan-perusahaan saya yakin bukan hanya anggota APBI, semua penambang di tanah air sejak ekspor di mulai kembali fokus bagaimana memaksimalkan target produksi sesuai yang diberikan ESDM. Dan ekspor juga belum normal. Kalau kita lihat data di Januari-Februari hanya kurang dari 20 juta ton, di tahun lalu lebih dari 50 juta," kata Hendra Sinadia kepada KBR, Senin (7/3/2022).

Baca Juga:

Tidak hanya ekspor, penurunan produksi juga mengalami penurunan. Berdasarkan catatan Minerba One Data Indonesia (MODI), produksi Januari–Februari 2022 mencapai 73,47 juta ton atau turun 20,82 persen year on year (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara jika melihat produksi batu bara Januari–Februari 2021 mencapai 92,79 juta ton. Kenaikan harga komoditas ini memberikan peluang bagi pengusaha untuk menggenjot produksi dan memeroleh keuntungan.

"Di tengah situasi konflik yang tidak menguntungkan tentu saja harga ini menjadi berkah bagi penambang dan juga bagi negara karena negara diharapkan akan mendapatkan penerimaan lebih tinggi. Namun, harga ini bukan harga yang fundamental. Ini tentu bisa terkoreksi, naiknya cepat dan turunnya cepat tergantung bagaimana dinamika dari konflik tersebut," sambungnya.

Penjajakan Bisnis Dari Uni Eropa

Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menyebut ada beberapa pihak dari kawasan Uni Eropa yang tengah menjajaki impor batu bara dari Indonesia. 

Mereka yang tadinya bergantung pada Rusia, mulai melirik negara-negara penghasil batu bara terbesar, termasuk Indonesia.

"Kami mendengar beberapa pihak yang tadinya bergantung batu baranya dari Rusia sedang menjajaki untuk mencari pasokan lain di luar Rusia. Indonesia termasuk salah satu negara yang dijajaki untuk ekspor ke dana. Ini jadi peluang tapi tergantung dari masing-masing perusahaan. Belum tentu perusahaan punya slot ketersediaan baru bara yang siap untuk diekspor," ungkapnya.

Namun, kata Hendra, mayoritas dari pasokan batu bara Eropa membutuhkan tingkat kalori tinggi, di atas 6.000 kcal/kg GAR. 

Menurutnya, spesifikasi kalori tinggi itu belum bisa dipenuhi oleh seluruh perusahaan domestik. Ditambah, beberapa di antara perusahaan penyedia batu bara berkalori tinggi sudah memiliki kontrak dagang dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

"Kemudian, tentunya akan jadi pembicaraan bagaimana freight atau ongkos angkutnya. Secara geografis memang kalau dibandingkan Afrika Selatan atau Kolombia, ini kan karena jalur ke Eropa lewat Atlantik. Tentu kita kurang kompetitif. Pasti akan lebih mahal dibandingkan Afrika Selatan dan Kolombia. Termasuk kualitasnya tadi.

Tapi ini kan masih negosiasi. Belum tentu Afrika Selatan, Kolombia, dan Australia apakah mereka punya slot karena di sisi suplai pasokan di Indonesia dan Australia saat ini terhambat oleh faktor cuaca," bebernya.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Upaya Pemerintah Mengatasi KLB Polio