Kudeta Partai Demokrat, Istana Tolak Tanggapi Surat AHY

"Diantar langsung oleh bapak Sekjen Partai Demokrat. Jadi kami sudah menerima surat itu dan kami merasa kami tidak perlu menjawab"

BERITA | NASIONAL

Kamis, 04 Feb 2021 14:19 WIB

Author

Dwi Reinjani, Astri Septiani

Kudeta Partai Demokrat,  Istana Tolak Tanggapi Surat  AHY

Konferensi Pers Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono seputar gerakan di partainya, Senin (01/02). (Medsos AHY)

KBR, Jakarta-  Menteri Sekretaris Negara, Pratikno membenarkan, adanya surat dari Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo. Namun menurut Pratikno, istana tidak akan menanggapi surat tersebut, lantaran yang terjadi saat ini adalah masalah internal partai Demokrat.

“Iya benar kami sudah menerima surat dari pak AHY yang ditujukan kepada bapak presiden, Diantar langsung oleh bapak Sekjen Partai Demokrat. Jadi kami sudah menerima surat itu dan kami merasa kami tidak perlu menjawab surat tersebut, karena itu adalah perihal dinamika internal partai, itu adalah perihal rumah tangga internal Partai Demokrat yang semuanya sudah diatur dalam AD/ART.” Ujar Pratikno dalam keterangannya secara virtual, lewat kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (04/02/2021).

Sebelumnya Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono mengirimkan surat   kepada presiden, untuk meminta klarifikasi adanya gerakan politik yang diduga dilakukan pejabat penting pemerintah di lingkup istana. Gerakan politik tersebut disinyalir merupakan gerakan untuk melakukan kudeta terhadap kepemimpinannya di partai Demokrat.

Pejabat pemerintah yang diduga melakukan gerakan tersebut adalah, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Moeldoko. Moeldoko mengakui adanya pertemuan dengan kader Partai Demokrat, namun ia menampik adanya tuduhan kudeta tersebut. 

Moeldoko menyebut tudingan kepadanya merupakan sesuatu yang sekadar lucu-lucuan atau dagelan.

"Kayak dagelan aja, lucu-lucuan. Moeldoko mau kudeta, lah kudeta apaan yang dikudeta? Anggaplah begini, saya punya pasukan bersenjata, anggaplah Panglima TNI pengen jadi ketua Demokrat. Emangnya bisa itu gue todong senjata para DPC/DPD. Gue todongin senjata. Semua kan ada aturan AD-ART dalam sebuah partai politik. Jangan lucu-lucuan gitu lah," kata Moeldoko saat konferensi pers, Rabu (3/2/21).

Moeldoko mengakui adanya beberapa pertemuan dengan sejumlah anggota partai demokrat, termasuk bertempat di rumahnya dan beberapa tempat lain yang tidak ia jelaskan secara rinci.

"Gak perlu penting. Intinya aku dateng diajak ketemu. Wong di kantor saya biasa menerima orang menerima berbagai kelompok," tambahnya.

Ia menyebut dirinya hanya orang luar yang tak punya urusan dengan partai Demokrat. Selain itu dia menyatakan dirinya tak pernah mengemis jabatan.

Panglima TNI era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu  mengatakan tidak ambil pusing dengan isu yang beredar tentang dirinya. 

Editor: Rony Sitanggang 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Upaya Kurangi Risiko Bencana Iklim

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Perkara Bukber Tahun ini

Kabar Baru Jam 10