Bagikan:

Pakar Politik Sebut Partai Baru Terlahir dari Barisan Sakit Hati

Sebab partai baru sebenarnya tidak menawarkan alternatif ideologi yang baru

NASIONAL

Jumat, 13 Jan 2023 15:32 WIB

Author

Ken Fitriani

Pakar Politik Sebut Partai Baru Terlahir dari Barisan Sakit Hati

Pakar Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Mada Sukmajati dalam Pojok Bulaksumur di UGM, Kamis (12/1/2023). Foto: Fortakgama UGM

KBR, Yogyakarta– Jelang tahun politik 2024, sejumlah partai politik (parpol) baru terus bermunculan. Misalnya Partai Gelora dan Partai Ummat.

Pakar Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Mada Sukmajati menilai, fenomena itu sebagai bentuk sakit hati dari partai lama yang pernah diikutinya. Sebab partai baru sebenarnya tidak menawarkan alternatif ideologi yang baru.

“Partai baru di Indonesia itu kebanyakan yang lahir karena baperan, sakit hati tidak dapat jabatan, lempar-lemparan kursi. Jadi simple sekarang ini, partai-partai baru di Indonesia ini lahir,” katanya dalam Pojok Bulaksumur di UGM, Kamis (12/1/2023).

Menurut Mada, parpol-parpol itu tidak memiliki banyak perbedaan dengan partai induk atau pecahan parpol sebelumnya. Misalnya Partai Ummat dengan PAN dan Partai Gelora dengan PKS. Hal ini justru menandakan bahwa ada pertarungan di kalangan internal mereka sendiri karena basis massa diperebutkan oleh partai pecahan dan partai induk.

“Contoh itu yang notabene konstituennya dari pemilu ke pemilu trennya segitu-gitu aja. Jadi kalau ada partai baru yang ideologinya sama tapi konstituennya nggak nambah kan berarti pertarungan sebenarnya ada di internal mereka sendiri,” jelasnya.

Baca juga:

Survei Elektabilitas Parpol Charta Politika: PDI Perjuangan Masih Jadi Juara

Wapres: Parpol Dilarang Kampanye Pemilu di Tempat Ibadah

Di sisi lain, kata Mada, beberapa studi juga menjelaskan bahwa pergantian perilaku pemilih jarang sekali terjadi. Hal ini terkait dengan ideologi masyarakat itu sendiri, karena jarang ditemukan pendukung partai nasionalis beralih ke partai Islam d sebaliknya.

“Biasanya itu muternya ya kalau ada partai nasionalis ya nasionalis. Jadi kalau nggak milih Gerindra ya PDIP atau sebaliknya. Kalau nggak milih PKB ya PPP,” tandasnya.

Mada menilai pola tersebut masih akan terjadi pada pemilu 2024 mendatang. Kemungkinan besar pemilih akan tetap dengan pilihan mereka pada pemilu sebelumnya.

“Sejauh ini polanya seperti itu. Tapi kita nggak akan tahu untuk 2024 nanti. Tapi berdasarkan pola ya kira-kira begitu,” imbuhnya.

Editor: Dwi Reinjani

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Episode 3: Mengapa Bisa Terjadi Kekerasan Seksual di Pesantren?

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending