Bagikan:

Kemendag Tugaskan BUMN Turunkan Harga Cabai

"Tetapi kami tetap mengupayakan pengiriman pasokan ke sana. Cuma, kami sekarang menugaskan BUMN, PPI, untuk berkomunikasi di mana sentra produksi yang ada."

BERITA | NASIONAL

Rabu, 04 Jan 2017 21:55 WIB

Author

Dian Kurniati

Kemendag Tugaskan BUMN Turunkan Harga Cabai

Pedagang membersihkan cabai rawit di Pasar Beringharjo, DI Yogyakarta, Rabu (4/1). (Foto: Antara)


KBR, Jakarta- Kementerian Perdagangan menugaskan PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) untuk menekan harga cabai yang kini di beberapa daerah mencapai Rp 180 ribu per kilogram. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan mengatakan, PT. PPI sudah berusaha memenuhi kebutuhan cabai keriting merah ke berbagai daerah.

Kata dia, pengiriman cabai ke daerah itu terhambat jalanan rusak akibat cuaca buruk.

"Itu kan ad hoc. Kami sudah menugaskan BUMN. Ad hoc, saat ini saja, besok belum tentu. Tetapi kami tetap mengupayakan pengiriman pasokan ke sana. Cuma, kami sekarang menugaskan BUMN, PPI, untuk berkomunikasi di mana sentra produksi yang ada. Karena permasalahan sekarang, contoh di Sumatra, ceritanya itu jalannya rusak, trus mau bagaimana? Sampai-sampai, di Sumatra Barat, cabai merah diekspor pakai pesawat," kata Oke di kantornya, Rabu (04/01/17).

Oke mengatakan, meski sedang musim penghujan, sebenarnya pasokan cabai masih ada. Hanya saja, kata Oke, pasokan cabai itu hanya ada di beberapa daerah tertentu. Sementara itu, untuk pengiriman cabai ke daerah lainnya, terhambat masalah transportasi.

Oke memperkirakan, harga cabai tinggi itu tak akan bertahan lama. Menurutnya, PT. PII akan mampu mengirim pasokan cabai ke beberapa daerah yang mengalami kekurangan. Kata dia, intervensi dari PT. PII sudah cukup untuk menormalkan harga cabai.


Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending