Bagikan:

Polri: Gafatar tak Terkait Terorisme

Meski begitu mabes polri menilai Gafatar tetap berbahaya karena mencampur adukan seluruh ajaran agama yang ada.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 12 Jan 2016 14:13 WIB

Polri: Gafatar tak Terkait Terorisme

Kegiatan Gafatar di Balai Sudirman Jakarta (Sumber: Situs Gafatar)

KBR, Jakarta- Kepolisian Indonesia  memastikan aliran Organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) tidak ada kaitannya dengan gerakan terorisme apapun termasuk ISIS. Juru Bicara Mabes Polri, Anton Charliyan mengatakan, gerakan ini justru hadir berlawanan dengan gerakan radikal yang sudah ada sebelumnya.

Kata Anton, landasan gerakan ini adalah gerakan kasih sayang. Meski demikian kata dia, Gafatar tetap berbahaya karena mencampur adukan seluruh ajaran agama yang ada.

"Salah satu gerakan yang mengatasnamakan agama, tapi tidak sesuai dengan syariat-syariat agama yaitu sangat berbahaya karena disini bukan fisik. Justru yang berbahaya itu idiologis jadi menyelewengkan idiologis," ujar Juru Bicara Mabes Polri, Anton Charliyan  kepada wartawan di Kantor Mabes Polri, Selasa (12/01/2016). 

Anton melanjutkan, "dan salah satu pernyataannya adalah Nabi Muhammad bukan nabi terakhir. Tetapi ada nabi terakhir selain itu dan yang dimaksud adalah AH yang sekarang ada di LP Cipinang sebagai guru besarnya dan Imamnya gerakan Gafatar itu sendiri."

AH yang dimaksud adalah  Ahmad Musadek. Pada 2008 pengadilan negeri Jakarta Selatan menghukum dia  4 tahun penjara  karena penodaan agama.


Juru Bicara Mabes Polri, Anton Charliyan menambahkan, pihaknya masih belum bisa mengetahui soal seberapa banyak pengikut gerakan ini. Mengingat kata dia, gerakan ini sudah tersebar cukup luas di seluruh Indonesia. Dia menghimbau kepada masyarakat untuk tidak mudah percaya kepada suatu kepercayaan yang belum jelas kebenarannya.

Kasus kelompok Gafatar mencuat setelah  Rica Tri Handayani, dokter asal Lampung yang dikabarkan hilang bersama anak balitanya Zafran Ali Wicaksono sejak 30 Desember 2015. Dokter Rica disebut ikut dalam Gafatar hingga kemarin mereka  ditemukan di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. 

Dokter Rica dijemput oleh Kanit Jatranas Polda DIY AKBP Ganda M Saragih dan sempat transit di Hotel Grand Kecubung Pangkalan Bun.

Petugas Resepsionis Grand Kecubung Hendri mengaku melihat rombongan kurang lebih 15 orang dengan menggunakan beberapa mobil. Salah satunya seorang wanita berjilbab yang mengenakan masker dan menggendong anak kecil.

"Mereka (rombongan) membawa ibu-ibu pakai jaket pakai masker, anaknya digendong tapi saya tidak tahu itu siapa," kata Petugas Resepsionis Grand Kecubung Hendri.

Rombongan tiba sekitar pukul 07.00 WIB, namun hanya berselang tiga jam mereka sudah keluar menuju Bandara Iskandar.

Data manifest penumpang Trigana Air mencatat ada 15 penumpang yang terbang dengan pesawat Trigana rute Pangkalan Bun - Semarang pukul 11.30 WIB yang di dalamnya ada nama Rica Tri Handayani dan Ganda M Saragih.

Editor: Rony Sitanggang 


Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Antisipasi Bencana Alam di Akhir Tahun

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11