Bagikan:

ADVERTORIAL

Kualitas Udara Memburuk, Perempuan dan Anak Rentan Terdampak

Sumber mobile pollutant datang dari pabrik - pabrik dan kegiatan industri manufaktur di kota satelit lndustri besar seperti Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi.

KABAR BISNIS

Sabtu, 23 Apr 2022 18:36 WIB

Kualitas Udara Memburuk, Perempuan dan Anak Rentan Terdampak

Acara bincang – bincang “Sisi Lain Dampak Polusi Pada Perempuan dan Anak”

KBR, Jakarta – Jumat, 22 April 2022, WRI Indonesia dan Vital Strategies sebagai penggerak program Clean Air Catalyst mengadakan acara bincang-bincang “Sisi Lain Dampak Polusi Pada Perempuan dan Anak”, yang diselenggarakan oleh Clean Air Catalyst, konsorsium global yang bertujuan untuk merancang solusi yang sesuai dan berbasis data untuk masalah – masalah polusi udara di di kantor World Resources Institute (WRI) Indonesia Jakarta. Dalam acara ini, menghadirkan sejumlah pembicara dari WRI Indonesia, Vital Strategies, dan Wahana Visi Indonesia.

Clean Air Catalyst (CAC) adalah proyek lima tahun mulai dari tahun 2020 hingga tahun 2025 yang diluncurkan oleh USAID dan berfokus pada kegiatan pengendalian pencemaran udara, bekerja sama dengan mitra-mitra global dalam konsorsium: World Resources Institute (WRI), Vital Strategies, OpenAQ, MAP-AQ, Internews, Climate & Clean Air Coalition, Columbia University Climate School – Clean Air Toolbox for Cities, dan Environmental Defense Fund.

Clean Aair Catalyst (CAC) bertujuan untuk memajukan solusi yang disesuaikan secara lokal dalam mendukung udara bersih, pengurangan perubahan iklim, dan peningkatkan kesehatan manusia di kota. Hal tersebut diimplementasikan pada tiga kota percontohan, yaitu Jakarta (Indonesia), Indore (India), dan Nairobi (Kenya). Di Jakarta, Clean Air Catalyst dipimpin oleh WRI Indonesia dan Vital Strategies.

Perempuan dan anak merupakan kelompok masyarakat yang paling terdampak atas memburuknya kualitas udara Jakarta, dan langkah awal untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan melakukan pemetaan masalah polusi udara dengan mempertimbangkan perubahan iklim, gender, dan ekuitas.

Ririn Radiawati, selaku Indonesia Country Coordinator for Evironmental Health, Vital Strategies dan Co-Lead Clean Air Catalyst for Jakarta Pilot, mengungkapkan, “ Paparan polusi udara pada ibu hamil dapat mempengaruhi kondisi lahir bayi. Hasil penelitian (Global Burden of Disease Study 2019) menemukan bahwa paparan polusi udara dalam jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan kondisi lahir bayi yang tidak baik, seperti berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur. Beberapa penelitian bahkan menemukan bahwa ada korelasi antara paparan polusi udara jangka panjang dengan kematian bayi dan stunting.”

Solusi untuk mengatasi masalah kualitas udara, menurut Ia adalah dengan mendorong kebijakan-kebijakan pencegahan polusi udara, seperti regulasi emisi kendaraan, ambang batas emisi pabrik, dan pengaturan wilayah pemukiman-industri. Selain itu, juga dengan meningkatan kesadaran semua pemangku kepentingan tentang bahaya polusi udara terhadap keseharan anak-anak, dan mengurangi paparan polusi bagi anak-anak, baik indoor maupun outdoor.

“Clean Air Catalyst berusaha memberikan kontribusi terhadap upaya Pemerintah dan masyarakat dalam upaya memecahkan permasalahan kualitas udara, melalui pemetaan masalah polusi udara dengan mempertimbangkan perubahan iklim, gender, dan ekuitas.” Ungkap Ririn, selaku Co-Lead Clean Air Catalyst.

Jakarta berkontribusi sekitar 16% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2020). Perkembangan kegiatan industri dan pertumbuhan ekonomi di ibukota negara ini bukan hanya membuka lapangan pekerjaan dan mendorong peningkatan pergerakan masyarakat di sekitar wilayah Jakarta-Bogor-Tanggerang-Bekasi (Jabodetabek), namun juga menghasilkan polutan berbahaya yang mencemari udara dan berdampak negatif pada kesehatan masyarakat.

Sumber mobile pollutant datang dari pabrik - pabrik dan kegiatan industri manufaktur di kota satelit lndustri besar seperti Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi. Sedangkan sumber polutan non-mobile datang dari pembangkit listrik yang mayoritas berbahan bakar batu bara.

Lebih lanjut lagi, menurut Franz Sinaga, Project Manager Phinlla (Program Pengelolaan Sampah), Wahana Visi Indonesia. Studi WHO di tahun 2016 menunjukan bahwa sekitar 93% anak-anak di dunia yang berusia di bawah 55 tahun, atau kurang lebih 1,8 milyar anak, menghirup udara yang sangat tercemar, sehingga membahayakan kesehatan dan perkembangan mereka. WHO juga memperkirakan pada tahun 2016, sekitar 600.000 anak meninggal karena infeksi saluran pernapasan bawah akut yang disebabkan oleh udara tercemar.

Menurutnya, ini dilakukan dengan peletakan alat pemantauan kualitas udara di daerah dengan paparan polusi udara tinggi dan dihuni oleh populasi rentan, meluncurkan beberapa pemantauan mobile bekerja sama dengan Google Cars yang menjangkau komunitas rentan, melakukan kajian Information Ecosystem Analysis (IEA) untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang polusi udara, dan melakukan seri workshop yang melibatkan akademisi, pemerintah, lembaga masyarakat, dan swasta, untuk memetakan permasalahan polusi udara yang berkaitan dengan perubahan iklim, gender dan ekuitas.

“Polusi udara mengancam anak di luar dan di dalam rumah. Polusi udara rumah tangga dari memasak dan polusi udara luar menyebabkan lebih dari 50% infeksi saluran pernapasan bawah akut pada anak-anak dibawah usia 5 tahun di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.” ujar Franz, selaku Project Manager Phinlla (Program Pengelolaan Sampah), Wahana Visi Indonesia.

Pemimpin implementasi Clean Air Catalyst di Jakarta, Muhammad Shidiq, Air Quality Lead WRI Indonesia. Menyatakan bahwa “Data-data yang dikumpulkan oleh Clean Air Catalyst mengindikasikan bahwa perempuan termasuk dalam komunitas yang paling terdampak oleh polusi udara, dan pada saat bersamaan, anak-anak juga menerima dampak yang paling buruk dari polusi udara”.

“Clean Air Catalyst berupaya menyasar penyebab-penyebab polusi udara dan meningkatkan kualitas udara secara umum dengan tiga landasan. Pertama, udara bersih membantu menjaga kesehatan, melindungi nyawa, mendukung kesehatan anak-anak, dan mencegah penyakit-penyakit kronis. Kedua, udara bersih dapat memitigasi perubahan iklim, membantu menghindari peningkatan suhu bumi sebesar 0.6 derajat Celsius pada 2050 melalui pengurangan polutan. Ketiga, udara bersih mampu mengurangi kesenjangan sosial dengan mengurangi polusi dan meningkatkan kualitas udara bagi masyarakat yang paling rentan.” ungkap Shidiq, selaku Air Quality Lead WRI Indonesia.

Ia berharap melalui acara bincang – bincang “Sisi Lain Dampak Polusi Pada Perempuan dan Anak” ini, media massa memperoleh informasi yang dapat membantu mendorong terciptanya pengetahuan masyarakat terhadap sumber-sumber polutan dan teridentifikasinya solusi inovatif yang dapat dilaksanakan guna perbaikan kualitas udara di Jakarta.

Baca juga: Stop Polusi Udara, Stop Pneumonia - kbr.id

Editor: Paul M Nuh

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Pengungsi dan Persoalan Regulasi di Indonesia