78 Persen Hutan di NTB Rusak Parah

Jika tak segera ditangani, 10 sampai 20 tahun ke depan, NTB tidak lagi memiliki hutan.

BERITA | NUSANTARA

Rabu, 28 Nov 2018 09:41 WIB

Author

Zainudin Syafari

78 Persen Hutan di NTB Rusak Parah

Ilustrasi: Kerusakan hutan. (Foto: Antara)

KBR, Mataram– Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) diminta untuk bersikap tegas dalam menindak pelaku perambahan hutan. Permintaan itu disampaikan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTB karena melihat kerusakan hutan di NTB sudah semakin parah.

Direktur Walhi NTB, Murdani mengatakan, dari luas hutan di NTB sebanyak 1 juta hektar, 78 persen di antaranya dalam keadaan rusak berat dengan sisa tutupan lahan sebesar 22 persen. Walhi mencatat, laju kerusakan hutan di NTB setiap tahun mencapai 1,2 persen. Jika tak segera ditangani, 10 sampai 20 tahun ke depan, NTB dipastikan tidak lagi memiliki hutan.

"Kalau pemerintah tidak segera berbenah, lalukan evaluasi secara menyeluruh, maka dalam kurun waktu 20 tahun ke depan akan semakin masif terjadi banjir.  Akan lebih dahsyat bencananya karena tidak dilakukan penanganan bencana yang lebih menyeluruh. Penanganan yang saya maksud, Pemerintah harus melakukan evaluasi terhadap kebijakannya,” kata Murdani, Rabu (28/11/2018).

Kata Murdani, penindakan terhadap perusakan hutan baru menyasar sopir truk yang mengangkut kayu hasil perambahan hutan. Sementara cukong yang menjadi pemodal besar tak pernah tersentuh. 

Walhi menilai Pemerintah perlu mengevaluasi  program penanaman jagung yang dilakukan secara besar-besaran. Menurut Murdani program ini justru berkontribusi besar terhadap kerusakan hutan utamanya di Pulau Sumbawa. 

"Program penanaman jagung memang berdampak pada perekonomian warga utamanya di Dompu. Tapi di sisi lain,  program tersebut telah mengubah fungsi hutan hutan lindung menjadi ladang jagung," imbuhnya. 

Hasil pemantauan yang dilakukan Walhi menunjukkan dampak lain dari pembukaan lahan jagung besar-besaran ini. Selain banjir lebih sering terjadi, NTB juga banyak kehilangan mata air. Dari 702 sumber mata air, saat ini hanya tersisa sekitar 150 mata air.

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Madani Provinsi NTB, Mukarom mengatakan, lahan kritis   di Provinsi NTB mencapai 578 ribu hektar atau 28 persen dari luas wilayah NTB. Namun sebanyak 316 ribu hektar hutan yang terbuka dan berubah menjadi semak belukar serta pertanian jagung. 

Baca juga: 

 

Editor: Friska Kalia 

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18