NASIONAL

Petani: Harga Beras Mahal Bukti Bulog Gagal Kelola Distribusi

"Mata rantai dari perdagangan beras ini dan usaha beras ini yang memang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah dan sepenuhnya sekarang dikendalikan oleh pedagang besar dan distribubutor"

AUTHOR / Ardhi Ridwansyah

Petani: Harga Beras Mahal Bukti Bulog Gagal Kelola Distribusi
ilustrasi aktivitas bongkar muat beras impor di pelabuhan. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta – Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih menilai kenaikan harga beras bukan hanya terjadi karena adanya mafia beras.

Menurutnya, adanya mafia justru menjadi bukti kegagalan Perum Bulog mengelola distribusi beras.

“Menurut saya mata rantai dari perdagangan beras ini dan usaha beras ini yang memang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah dan sepenuhnya sekarang dikendalikan oleh para pedagang-pedagang besar dan para distributor beras itu,” katanya saat dihubungi KBR, Rabu (15/02/2023).

Henry menyebut, Bulog semestinya menunjukkan perannya membasmi mafia beras agar tak leluasa bermain di pasar dan membuat harga beras melambung tinggi. Termasuk melakukan pengawasan di proses distribusi.

“Jadi kalau logikanya sekarang ini dibilang lagi beras jadi mahal gara-gara mafia berarti Bulog tidak sanggup menembus blokade-blokade atau hambatan-hambatan yang dibuat oleh mafia beras itu,” ucapnya.

Sementara itu, Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas) meminta pemerintah tegas membasmi mafia beras.

Sekretaris Jenderal Inkoppas, Ngadiran, mengatakan, pengawasan pemerintah dan Satgas Pangan Polri bisa menjadi langkah antisipasi terjadinya pengoplosan beras Bulog yang didistribusikan.

Berita terkait:

Pengawasan itu juga salah satu upaya menekan harga beras yang saat ini harganya tengah naik.

“Ambil tindakan keras kepada yang melakukan itu (mengoplos). Apalagi mereka diketahui yang selama ini mendapat kepercayaan atau diberikan kepercayaan oleh Bulog melakukan itu (distribusi),” kata Ngadiran saat dihubungi KBR, Selasa (14/02/2023).

Ngadiran juga meminta pemerintah mencari aktor utama mafia beras, terutama yang berasal dari perusahaan besar.

Sebelumnya, Satgas Pangan Polda Banten menangkap tujuh tersangka kasus dugaan pengoplosan dan pengemasan ulang beras Bulog, Jumat (10/02/2023).

Tujuh tersangka itu diduga melakukan tindak pidana perlindungan konsumen dan persaingan dagang.

Beras Bulog yang dioplos itu dari kemasan 50 kilogram menjadi 5 hingga 25 kilogram, yang dijual dengan rata-rata harga pasaran sebesar Rp11.800 per kilogram. Padahal harga beras Bulog hanya Rp8.300 per kilogram.

Editor: Kurniati Syahdan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!