BERITA

Outlook Pariwisata 2022: Andalkan Wisatawan Nusantara

"“Domestik kita itu potensinya sangat besar. Bukan sangat lagi, lebih besar dari negara lain. ""

AUTHOR / Sadida Hafsyah

Tarian Tidi atraksi budaya Komunitas Industri Pariwisata di Benteng Otanaha, Dembe Satu, Kota Goront
Ilustrasi: Tarian Tidi atraksi budaya Komunitas Industri Pariwisata di Benteng Otanaha, Dembe Satu, Kota Gorontalo, Gorontalo, Rabu (22/12/21).(Antara/Adiwinata

KBR, Jakarta- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memperkirakan akan ada belasan juta orang yang bakal melakukan perjalanan untuk berbagai kepentingan selama momen Natal dan Tahun Baru 2022.

Perkiraan itu didasarkan pada kebijakan pemerintah membatalkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 di seluruh Indonesia menjelang akhir tahun. Pembatalan ini jadi salah satu faktor meningkatnya pergerakan masyarakat untuk berlibur ke beberapa destinasi unggulan seperti Bali.

Menparekraf Sandiaga Uno mengatakan untuk mencegah penularan COVID-19 saat momen Nataru, Kemenparekraf
akan berkoordinasi dengan pemangku kebijakan di lokasi-lokasi wisata dalam penerapan protokol kesehatan, serta panduan berwisata saat era kenormalan baru (new normal).

"Data survei yang dilakukan oleh Balitbang Kemenhub dengan dibatalkannya PPKM level 3 di seluruh Indonesia terdapat potensi sebesar 7,1 persen atau 11 juta orang yang akan melakukan perjalanan Pada momen Natal dan tahun baru. Antusiasme ini tentunya tinggi dan hari minggu lalu ada 800 pergerakan pesawat take off dan landing di Bandara Soetta berarti ini sekitar 65 persen dari puncak sebelum pandemi yaitu 1.200 pergerakan pesawat saat normal," ujar Sandi, Senin (20/12/2021).

Baca juga:

Menparekraf Sandiaga mengatakan sejak minggu lalu jumlah kunjungan wisata ke Bali telah mencapai lebih dari 25 ribu orang, dan akan terus bertambah hingga akhir tahun. Menurutnya, Bali masih menjadi destinasi favorit keluarga untuk menghabiskan akhir tahun dengan berbagai spot dan wisata unggulannya.

Karena itu, Sandi meminta para pengusaha wisata meningkatkan kepatuhan terhadap syarat wisata new normal dengan memaksimalkan aplikasi PeduliLindungi. Hal itu dilakukan agar semua pergerakan pengunjung terpantau dengan aman.

Membangkitkan Sektor Wisata

Pemerintah terus memutar akal untuk membangkitkan sektor pariwisata dalam negeri yang terpuruk akibat pandemi COVID-19. Dalam kondisi saat ini, salah satu jalan keluar adalah mengandalkan wisatawan nusantara atau wisatawan lokal untuk menghidupkan kembali industri pariwisata pada tahun depan.

Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis di Kementarian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Henky Manurung menilai wisatawan nusantara mampu memicu pergerakan wisata untuk tetap berjalan aktif di masa pandemi Covid-19

“Kami optimistis sebenarnya. Dengan strategi dari Kemenparekraf dan seluruh pemerintah provinsi untuk menjadikan wisatawan nusantara menjadi tulang punggung ke depannya. Karena mereka ada di depan mata. Dan kita yakin bahwa wisatawan nusantara, wisatawan Indonesia ini adalah wisatawa yang bertanggung jawab,” kata Henky dalam Dialog Produktif Rabu Utama : Optimisme Kebangkitan Pariwisata Indonesia 2022, Rabu (22/12/21).

Henky mengatakan wisatawan nusantara dianggap mampu beradaptasi dengan baik pada pandemi yang belum berakhir. Wisatawan dalam negeri dianggap bisa mengikuti arahan pemerintah menerapkan protokol kesehatan guna menekan laju penularan Covid-19.

“Kita yakinkan Prokesnya jalan, pelaksanaan tes PCR maupun antigennya jalan, dan yang pasti 3M-nya. Menggunakan masker, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan. Kami kemarin membuktikan waktu di Bali, di Bandara Soekarno Hatta maupun Bandara Ngurah Rai. Semuanya sudah sangat optimistis,” ujarnya.

Para pelaku industri pariwisata dalam negeri juga berpandangan sama. Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Didien Junaedy mengatakan pandemi yang tidak kunjung berakhir memaksa para pemangku kepentingan fokus mengembangkan wisata lokal.

“Domestik kita itu potensinya sangat besar. Bukan sangat lagi, lebih besar dari negara lain. Penduduk kita sekian ratus juta, kemudian destinasi kita cukup bagus, infrastruktur juga cukup bagus. Nah yang dibutuhkan sebenarnya oleh industri pariwisata bridging capital. Supaya kita bisa mengangkat industri atau perusahaannya,” tutur Didien dalam acara dialog yang sama, Rabu (22/12/21).

Bantuan Pemerintah

Didien mengingatkan pengembangan wisata domestik memerlukan kolaborasi aktif berbagai pihak. Ia berharap pemerintah memberikan kesempatan dan bantuan permodalan untuk pelaku usaha, agar dapat mengembangkan bisnis wisata domestik.

“Industri itu membutuhkan dana untuk mengembangkan industrinya, sekecil apapun. Dengan pariwisata domestik itu harus dikembangkan secara bertanggung jawab, protokol kesehatan, CHSE, dan lain-lain. Dan harus menumbuhkan upamanya kita bisa mengembangkan pariwisata dari Kementerian dan Lembaga. Rapat-rapat di luar kota dan lain-lain. Maka berikan lah mereka kesempatan itu, untuk di-handle operator, travel agent, mice company dan lain-lain. Itu yang dibutuhkan untuk mengembangkan wisata domestik. Sumbangan daripada industri, ketekunan, kesiapan, dan juga membutuhkan dukungan pemerintah berupa permodalan usaha untuk pengembangan awal, bridging, capitan,” tambahnya.

Meski begitu, daerah destinasi wisata seperti Bali, tetap mendorong ada peningkatan kunjungan wisawatan dari mancanegara.

Wakil Gubernur Bali, Tjok Oka Sukawati menyebut Bali tetap tangguh di masa pandemi. Salah satunya terbukti dari kesiapan daerahnya menjadi tempat penyelenggaraan acara global, seperti G20.

“Banyak program yang kita lakukan. Di antaranya beberapa event besar, event terkenal. Sudah kita ketahui ada G20 di Bali ini sedikit banyak akan memberikan kontribusi dan mengangkat branding Bali bahwa Bali layak dikunjungi. Juga nanti ada kongres-kongres juga diadakan di Bali. Kongres tentang lingkungan di Bali, kongres tentang bencana di Bali. Jumlahnya itu banyak, puluhan, mungkin ada 126 negara yang akan ikut dalam setiap kongres tersebut. Nah ini event yang tidak bisa kita abaikan, yang bisa mengangkat branding Bali bahwa siap. Negara-negara yang tergabung dalam G20 saja mau ke Bali, masa entrepeneurs tidak,” ucapnya dalam kesempatan yang sama (22/12/21).

Editor: Rony Sitanggang

  • pandemi covid-19
  • Parwisata
  • Libur Nataru
  • Kemenparekraf
  • Covid-19
  • Wisatawan Nusantara

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!