INTERMEZZO

Merebut Ruang Sipil di Internet untuk Perubahan

"Pentingnya kesadaran politik bagi anak muda, mengingat besarnya jumlah pemilih yang berasal dari kelompok usia muda."

Merebut Ruang Sipil di Internet untuk Perubahan
Kegiatan talkshow di acara Pesta Bhinneka Bertaut di Jakarta, Sabtu (1/4/2023). (Foto: KBR)

KBR, Jakarta - Sebanyak 110 juta pemilih muda, dari usia 17-44 tahun akan mencoblos di Pemilu 2024 mendatang.

Survei dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada Agustus 2022 menyebut, Pemilu 2024 akan didominasi Generasi Z dan Milenial, mencapai 60 persen pemilih. 

Artinya, Generasi Z dan Milenial akan menjadi penentu wajah dan perubahan Indonesia selama lima tahun setelah Pemilu 2024 berakhir.

“Kalau kita nggak tahu, nggak informed, bagaimana kita bisa memilih dengan tepat?” lontar Abigail Limuria, co-founder What Is Up Indonesia, saat berbicara di talkshow “Berkolaborasi Membuat Perubahan” yang diselenggarakan KBR, Sabtu (1/4/2023).

Talkhsow ini adalah bagian dari Pesta Bhineka Bertaut vol 2, ajang untuk merayakan keberagaman dan anak muda.

Talkshow menghadirkan narasumber yaitu Kalis Mardi Asih (aktivis toleransi dan keberagaman), Abigail Limuria (co-founder What Is Up Indonesia) dan Nenden Sekar Arum Kepala Divisi Kebebasan Berekspresi Southeast Asia Freedom of Expression Network/SAFEnet.

What Is Up Indonesia adalah sebuah media independen yang mengkurasi kejadian sosial politik di Indonesia sehingga mudah diakses. 

Abigail menekankan pentingnya kesadaran politik bagi anak muda, mengingat besarnya jumlah pemilih yang berasal dari kelompok usia muda.

Political awareness di negara demokrasi penting, di mana kita bisa pegang suara untuk menentukan siapa yang bikin regulasi, itu penting banget,” tambah Abigail.

Untuk menumbuhkan kesadaran politik itu, kata Abigail, anak muda perlu berpikir kritis saat mendapatkan informasi politik yang ada di internet.

"Tanggung jawab verifikasi, tanggung jawab filter ada di pembaca,” kata Abigail.

Abigail mengingatkan agar anak muda tidak mudah percaya pada informasi politik pada 2024, tetapi harus mencari tahu lebih dulu. 

Apalagi jika isunya adalah hal-hal strategis seperti tentang iklim, kebebasan berpendapat, hak minoritas, antikorupsi, dan lain-lain.

red

Abigail Limuria (What Is Up Indonesia) menekankan pentingnya anak muda untuk mencari informasi dan terlibat dalam politik, dalam talkshow “Berkolaborasi Membuat Perubahan” di Pesta Bhineka Bertaut vol 2 di Jakarta. (Foto: KBR)

Abigail yakin, tidak semua anak muda saat bersikap apatis terhadap politik. Ia mengutip hasil survei dan diskusi yang dilakukan British Council tahun 2023. Hasil survei menyebut banyak yang peduli untuk mengikuti dan membicarakan masalah politik. Hanya saja, memang sebagian kelompok muda merasa frustrasi karena suaranya sering tidak didengar.

“Harus ada tanggung jawab negara untuk mendengar, of course. Tapi di sisi kitanya harus terus bersuara, harus terus berpartisipasi. Kalau kita kecewa, sakit hati, itu masuk akal, tapi menurutku sangat sayang karena ada dampaknya,” tambah Abigail saat menjawab pertanyaan peserta diskusi tentang kecenderungan sikap apatis anak muda.

Anak muda wajib kritis

Kalis Mardi Asih, aktivis toleransi dan keberagaman menyebut sikap kritis jadi kunci bagi anak muda menghadapi politisi yang mau melakukan apa saja demi kepentingan kontestasi. 

Meskipun politisi tahu bahwa pernyataannya atau sikapnya tidak bijak tapi tetap dilakukan untuk meraup suara.

“Mereka cukup tahu massa atau pemilih mereka siapa, misalnya yang sama dengan identitas dapilnya. Maka untuk memenangkan dapil itu, dengan data demografis seperti itu, kayaknya saya untuk sementara waktu harus jadi badut dengan mengeluarkan statement-statement meskipun itu mengorbankan banyak orang,” paparnya.

Dalam hal ini yang sering menjadi korban adalah kelompok minoritas, seperti minoritas gener, agama, penghayat kepercayaan, dan adat.

red

Kalis Mardiasih, aktivis keberagaman, mengatakan anak muda menciptakan banyak kemenangan di perubahan saat ini, seperti disampaikan dalam talkshow “Berkolaborasi Membuat Perubahan” di Pesta Bhineka Bertaut vol 2 di Jakarta. (Foto: KBR)

Kalis mengatakan meskipun ada banyak kondisi di Indonesia yang membuat anak muda pesimistis, termasuk sikap politisi, tapi juga ada banyak kemenangan yang sudah diraih masyarakat Indonesia. 

Kemenangan itu juga termasuk sumbangan dari kelompok muda.

“Tahun 2004 kita punya UU KDRT, kita punya UU Perlindungan Buruh Migran, dan baru saja mengesahkan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Jadi kalau mau berpikir yang ini, kalau bahasa Al Quran-nya, kita ini ‘orang-orang yang diberi petunjuk’. Kalau kita bersolidaritas, kita memenangkan banyak pertarungan, dan kita boleh optimis karena itu,” kata Kalis.

Bersuara di ruang digital

Sikap optimisme untuk membangun kolaborasi ini bisa dilakukan dengan bersuara melalui ruang digital.

Kepala Divisi Kebebasan Berekspresi SAFEnet Nenden Sekar Arum mengatakan untuk bersuara itu yang paling penting adalah setiap individu harus mengetahui haknya di internet dan hak di dunia politik.

“Ketika kita paham hak kita, di situ teman-teman akan menemukan cara-cara, yang akan mengantar teman-teman untuk mencari cara atau bahkan bertemu dengan orang-orang yang like-minded yang bisa diajak berkolaborasi sehingga kita bisa menemukan strategi-strategi baru,” kata Nenden.

Langkah itu, kata Nenden, bisa menjadi cara bagi kelompok muda, untuk bersuara dan merebut ruang sipil di internet.

Karena ruang digital sangat bergantung pada algoritma, anak muda bisa merebut hak mereka di internet melalui kreativitas dan solidaritas komunitas anak muda.

Langkah ini bisa dilakukan lewat cara paling sederhana seperti membagi unggahan, berkomentar positif, dan memberi dukungan pada kampanye untuk keberagaman dan isu strategis lainnya, seperti isu iklim, hak minoritas, dan kebebasan berpendapat.

red

Nenden Sekar Arum (Safenet) mendorong anak muda untuk paham hak-haknya di platform digital, seperti disampaikan dalam talkshow “Berkolaborasi Membuat Perubahan” di Pesta Bhineka Bertaut vol 2 di Jakarta (Foto: KBR)

Dengan demikian anak muda bisa menjadi bagian dari social justice warrior (SJW).

Be proud as SJW, guys,” kata Kalis Mardi Asih bersemangat, disambut tepuk tangan dari para peserta, yang sekaligus menutup talkshow “Berkolaborasi Membuat Perubahan” di Pesta Bhineka Bertaut vol 2.

Pesta Bhineka Bertaut

Pesta Bhineka Bertaut (PBB) adalah cara KBR merayakan keberagaman bersama komunitas anak muda. PBB vol 2 ini adalah puncak acara dari pencarian mission-oriented podcasters lewat ajang KBR Prime Podcaster Hunt 2023.

Ada 88 peserta dari 6 kota (Bogor, Bekasi, Depok, Garut, Cianjur, dan Bandung yang terpilih untuk mengikuti boot camp di Jakarta dan Bandung. Mereka belajar berbagai hal soal keberagaman, gender, misinformasi dan disinformasi jelang Pemilu 2024, serta proses produksi podcast (simak juga modul-modul pembelajaran mereka selama di boot camp).

Di akhir boot camp, peserta berkolaborasi untuk memproduksi podcast dan konten media sosial sebagai sarana berkampanye. Karya-karya podcast mereka bisa disimak di Podcast Bhineka Bertaut di KBR Prime.

KBR menghadirkan tiga juri untuk menilai karya-karya podcast yang masuk dengan mempertimbangkan aspek pesan dalam konten, kemasan, dan dukungan promosi media sosial yang dilakukan peserta lomba.

Ketiga juri tersebut adalah Kalis Mardiasih (penulis sekaligus aktivis keberagaman), Ian Hugen (penulis, konten kreator dan host podcast FOMO Sapiens di KBR Prime) dan Malika (Podcast & Program Manager KBR).

red

Para pemenang KBR Prime Podcaster Hunt 2023 yang memproduksi podcast dan membuat kampanye di media sosial, dengan tema seputar keberagaman, literasi digital, misinformasi/disinformasi serta Pemilu 2024. Karya mereka bisa disimak di Podcast Bhineka Bertaut. (Foto: KBR)

Tiga pemenang podcast terbaik diumumkan dalam Pesta Bhineka Bertaut. Ketiganya adalah:

  • Juara pertama, Podcast Bumantara Bercerita berjudul Kesedihan di LeuwigajahPodcast ini diproduksi Anggie Baeduri Aulia Rahmah (dari IPPNU atau Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kabupaten Bandung Barat), Euis Susilawati (Keluarga Mahasiswa Bandung Barat Kembara), dan Alis Suminar (IPPNU Garut).

Pesta Bhineka Bertaut juga memilih dua podcaster favorit, yaitu peserta dengan suara voting terbanyak dari bootcamp yang diselenggarakan di Bandung dan Jakarta. Mereka adalah Mohamad Arif Pramarta dari Rumah Visioner Bogor dan Dewi Ropiah, perwakilan dari Fatsoen Cianjur.

Acara malam itu turut dimeriahkan oleh penampilan 2nd Chance.

Editor: Agus Luqman

  • #podcast
  • kbrprime
  • pemilih muda
  • keberagaman

Komentar (0)

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!