BERITA

Imam Besar Masjid Istiqlal: Ucapan Ahok Bukan Penistaan

"Saya juga menyimak betul apa yang disampaikan bapak gubernur. Saya memahami bahwa konteksnya tidak dalam arti menghina ayat ya"

AUTHOR / Rio Tuasikal, Wydia Angga

Imam Besar Masjid Istiqlal: Ucapan Ahok Bukan Penistaan
Aksi Front Pembela Islam (FPI) meminta kepolisian untuk memproses hukum Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. (Foto: Antara)



KBR, Jakarta- Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menyatakan pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengenai Al Maidah 51 bukanlah penistaan. Menurut dia penistaan tidak tergambar dalam kalimat Ahok. Kalimat Ahok menyatakan surat Al Maidah digunakan orang lain untuk mempengaruhi pilihan politik.

"Saya juga menyimak betul apa yang disampaikan bapak gubernur. Saya memahami bahwa konteksnya tidak dalam arti menghina ayat ya," jelas Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar  kepada KBR, Selasa (01/11).


"Tetapi bagaimana pun juga statement misalnya 'dibohongi oleh surat Al-Maidah' macam-macam - redaksinya persis seperti itu - memang bisa menyakiti telinga orang lain, terutama yang beragama Islam," tambahnya.


Nasaruddin menyerukan kepada umat muslim agar lebih arif menghadapi situasi ini. Kata dia, seharusnya umat muslim tidak terpancing emosinya. Sebab, dalam kasus ini contohnya Ahok, bukanlah orang yang mendalami ayat-ayat Al Quran.

"Dan untuk umat Islam juga ada kehati-hatian juga dalam merespon," katanya.

Selain itu, dia juga mengimbau seluruh politisi untuk tidak menggunakan ayat-ayat kitab suci dalam kegiatan politik. Sebab, hal itu bisa berakibat pada kemarahan.

"Janganlah sering dibawa ke politik," tandasnya lagi. 

Badan Reserse dan Kriminal  (Bareskrim) akan mendatangkan ahli bahasa, agama dan pidana untuk menangani kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur Ahok. Kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Brigadir Jenderal Agus Andrianto seusai pemeriksaan Ahok di Bareskrim, Jakarta Pusat, Senin, 24 Oktober lalu, pemeriksaan itu untuk melengkapi keterangan saksi yang sudah diperiksa sebelumnya. 


Struktur Kalimat Ahok yang Diperdebatkan

Menurut Peneliti Bahasa,   Badan Bahasa Kemendikbud (Ralat: Sebelumnya tertulis Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) Yeyen Maryani, kata dibohongi adalah kalimat yang pasif.

"Jadi dibohongi itu kan kalimat pasif. Sebetulnya ada subjeknya yang dihilangkan. Di dalam konteks sebelumnya itu adalah bapak ibu gitu ya, bapak ibu dibohongin itu sebagai predikatnya pakai surat itu adalah keterangan. Dalam konteks itu berarti yang dimaksudkan dibohongin dengan menggunakan. Jadi itu ayat itu dipakai sebagai alat membohongi bapak ibu yang di dalam konteks sebelumnya itu, gitu," papar Yeyen kepada KBR, Selasa (1/11/2016).

Yeyen menjelaskan dari sisi bahasa harus melihat konteksnya mengacu kemana.


"Jadi dibohonginnya tidak mengacu pada ayatnya sebetulnya, tapi ayat itu dipakai sebagai alat untuk membohongi. Permasalahannya apakah yang membuat pernyataan itu, kan tidak menyatakan bahwa surat itu bohong kan gitu ya, tetapi menggunakan alat dengan ayat itu. Jadi memakai ayat itu sebagai alat membohongi orang, kan gitu maksud sintaksisnya," ujarnya.


Dalam transkrip yang beredar seputar ucapan Ahok  di pulau Seribu tertulis, "Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya. Karena Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho (orang-orang tertawa). Itu hak bapak ibu, ya."  


Editor: Rony Sitanggang

Komentar (27)

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

  • Mas Bro8 years ago

    Kecerdasan dan kedewasaan karakter seseorang bukanlah soal agamanya apa, tapi soal bagaimana menyikapi perbedaan secara tepat, terutama cara merespon suatu masalah akan menunjukan kwalitas hidupnya.

  • Toto Soegiyanto8 years ago

    sebenarnya letak bahasanya yang harus di pelajari,kalau tidak paham antara di bohongi dan membohongi apalagi ada kata yang di hilangkan PAKAI jadi sudah berbeda maknanya,seharusnya MUI sebelum memutuskannya memanggil ahli bahasa untuk mengartikan artinya sudah di analisa secara ilmiah bahasa yang di gunakan oleh AHOK,ada dasar ilmiahnya untuk menjelaskannya kepada umat jadi tidak menjadi kegaduhan, paling tidak menonton VIDEO aslinya dan editannya untuk menimbang kata kata atau ucapan AHOK mana yang benar dan mana yang salah,tetapi apa boleh MUI yang seharusnya INDEPENDEN mengurus umat sudah bermain POLITIK.

  • Kus Sularso8 years ago

    Saya yang lahir , hidup dan insya Allah mati di Indonesia akan , sangat mengharapkan kearifan dari banyak pihak yang bisa dengan mudah pindah ke luar negeri jika terjadi huru hara disini . Tolong hormatilah kami,tolong perhatikan kami, tolonga berilah kamikeamanan keamanan dan ketengan . Semoga Allah selalu menyertai dalam kehidupan kita dalam berkata dan bertindak. .

  • Rio8 years ago

    Kasus ahok sengaja di bikin heboh untuk menutupi kasus yang lebih besar,soal hilangnya laporan TPF munir misalnya..

  • Dewi8 years ago

    Alangkah baiknya jika di momen seperti ini para petinggi agama menggunakan kalimat - kalimat menenangkan umat saat terjadi benturan seperti ini sehingga masalah besar dapat dikecilkan dan masalah kecil dapat ditiadakan.kekuatan dan kedewaaaan teruji bukan di masa tenang..tetapi di masa datangnya masalah

  • Dadang8 years ago

    Di Kampus saya ITB saling menghargai perbedaan suku, agama, dan ras. Saya bersahabat dengan berbagai latar belakang. Terlepas dari masalah-masalah di luar sana. Karena kami Indonesia. Semoga kita selalu menjadi pribadi kecintaan Allah.

  • siahaan david guntur8 years ago

    Pernyataan seperti ini yang seharusnya lebih awal agar para haters bisa memahami pokok persoalan jadi tidak begitu gampang dihasut. saya sangat apresisi pernyataan ini dan penjelasan ahli bahasa.

  • Ferly8 years ago

    Sebenrnya biang masalah nya ada pada yg mengunggah video yg durasinya diedit dan menajdi kegaduhan. Ya dialah pahlawan nya. Buni yani. Semoga kau jg dpt ganjaran yg setimpal.

  • andi irawan8 years ago

    Jangan jadikan masalah yg seharusnya bisa diselesaikan secara bijak malah dibuat jadi kegaduhan dengan mempropokasi umat muslim seindonesia. penjelasan ahli bhasa tersebut sudah ckup meyakinkan kita. semoga 4 november 2016 demo yg sudah direncanakan akan brjalan dengan aman dan tidak ada anarkis baik pihak pendemo ataupun petugas keamanan. ini indonesia demokrasi, anda menyuarakan suara anda dengan lantang. Namun jangan anarkis.

  • Otje Saparindroso8 years ago

    - INI TULISAN DARI SESEORANG BERINISIAL BR. BEREDAR DI WAG. MENARIK DISIMAK SOAL MAKNA SEMANTIK AHOK SOAL SURAT AL MAIDAH 51 "Membedah Sisi Linguistik Kalimat Pak Basuki" Sebenarnya saya sudah malas untuk membahas hal ini. Namun nurani saya terusik saat pembela Pak Basuki berdalih tidak ada yang salah dengan kalimat Pak Basuki. Salah satu yang membuat saya heran adalah pernyataan Pak Nusron Wahid yang notabenya adalah tokoh NU. Baik, dalam tulisan ini saya tidak akan berpolemik masalah agamanya (jelas saya bukan ahlinya). Tulisan ini akan lebih difokuskan untuk membedah sisi linguistik, sisi kaidah bahasa yang beliau gunakan. Ini adalah potongan kalimat beliau : “Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macam-macam..” Sengaja saya fokuskan pada kalimat yang menimbulkan polemik ini. Saya sudah melihat keseluruhan video, dan memang masalahnya ada pada frasa ini. Terjemahan versi sebagian besar orang : Pak Basuki menistakan surat Al Maidah. Al Maidah 51 dibilang bohong oleh Pak Basuki. Terjemahan versi pembela Pak Basuki : Pak Basuki tidak menistakan Al Maidah 51. Dia menyoroti orang yang membawa surat Al Maidah 51 untuk berbohong. Mari kita bedah dengan kepala dingin. Jika kita ubah kalimat di atas dengan struktur yang lengkap maka akan menjadi seperti ini : “Anda dibohongin orang pakai surat Al Maidah 51” – Ini adalah kalimat pasif. Anda : Objek Dibohongin : Predikat Orang : Subjek Pakai surat Al Maidah 51 : Keterangan Alat Dengan struktur kalimat seperti ini, jelas yang disasar dalam kalimat Pak Basuki adalah SUBYEK nya. Yaitu “orang ” . Dalam hal ini orang yang menggunakan surat Al Maidah 51. Karena Surat Al Maidah 51 di sini hanya sebagai keterangan alat yang sifatnya NETRAL. Saya analogikan dengan struktur kalimat yang sama seperti ini : “Anda dipukul orang pakai penggaris.” Struktur kalimat di atas sama, yaitu : OPSK . Jenis kalimat pasif. Subyek ada pada orang. Sedangkan penggaris merupakan keterangan alat yang bersifat netral. Di sini menariknya. Penggaris memang bersifat netral. Bisa dipakai menggaris, memukul dan yang lainnya tergantung predikatnya. Yang menentukan apakah si penggaris ini fungsinya menjadi positif atau negatif adalah predikatnya. Nah masalahnya adalah apakah Surat Al Maidah 51 bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bohong/bo·hong/ berarti tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya; dusta: Dan inilah arti dari surat Al Maidah 51 tersebut : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” Makna dari surat Al Maidah 51 tersebut sudah sangat jelas. Bukan kalimat bersayap yang bisa dimultitafsirkan. Tanpa dibacakan oleh orang lain, seseorang yang membaca langsung Surat Al Maidah 51 pun mampu memahami artinya. Kesimpulan saya, dengan makna sejelas ini surat Al Maidah 51 TIDAK BISA DIJADIKAN ALAT UNTUK BERBOHONG. Jadi ketika Pak Basuki berkata dengan kalimat seperti itu, sudah pasti dia menyakiti umat islam karena menempatkan Al Maidah 51 sebagai “keterangan alat” yang didahului oleh predikat bohong. Menempelkan sesuatu yang suci dengan sebuah kata negatif, itulah kesalahannya. Sebuah logika yang sama dengan kasus seperti ini : Seseorang Ustadz menghimbau jamaahnya : "Jangan makan babi, Allah mengharamkannya dalam Surat Al Maidah ayat 3". Pedagang babi lalu komplain. "Anda jangan mau dibohongi Ustadz pake Surat Al Maidah Ayat 3". atau Seseorang Ustadz menghimbau jamaahnya, " Al Quran mengharamkan khamr dan judi dalam Surat Al Maidah ayat 90". Bandar judi dan produsen vodka pun protes, "Anda jangan mau dibohongi Ustadz pakai Surat Al Maidah Ayat 90. " Jika Anda sudah membaca arti Surat Al Maidah Ayat 3 dan 90 , mana yang akan Anda percaya? Ustadz yang memberitahu Anda atau Pedagang Babi, Khamr, dan Bandar Judinya ? Itu pilihan Anda. Namun sebagai orang yang mengaku muslim, jika Al Qur’an dan As Sunnah tidak menjadi pegangan utama kita, apakah kita masih layak menyebut diri kita muslim? Pak Basuki yang terhormat, selama tinggal di Jakarta saya mengalami dua periode gubernur. Pak Fauzi Bowo dan Pak Basuki. Secara kinerja, saya angkat topi terhadap Anda yang sudah membuat banyak perubahan di kota tercinta kami ini. Katakanlah kinerja Pak Basuki ibarat makanan yang sangat enak (walaupun tentu saja ini debatable) , bungkus makanan ini sangat kotor. Saya ambil analogi makanan kesukaan saya adalah Mie Ayam. Saya akan menolak memakan mie ayam itu jika dibungkus memakai kulit babi yang busuk. Namun saya akan memakan mie ayam tersebut jika dibungkus dengan wadah yang bersih dan halal. Jika ada dua pilihan untuk masyarakat Jakarta : 1. Makanan enak namun bungkusnya kotor dan haram 2. Makanan enak dan bungkusnya bersih dan halal Maka saya yakin masyarakat Jakarta ini akan memilih yang kedua. Bagaimana dengan Anda?

  • Achenk8 years ago

    .ini ada tulisan makyun subuki Soal Ahok Apakah Ahok menista agama Islam di Pulau Seribu? Catatan: Tolong baca sampai selesai. Yang baperan, nggak ditanggapi! Kalau mau jujur, dari sudut pandang linguistik yang pendekatannya formal, Ahok sulit dibuktikan menista agama Islam. Secara semantik dan sintaksis, itu sulit dibuktikan. Analisisnya nggak perlu diurai di sini. Yang kacangan gaya Brili Agung dan yang beneran kayak mahasiswi di Belanda itu (saya lupa namanya, pokoknya cantiklah) udah cukup. Paling banter, kalau yang dipakai sintaksis dan semantik, Ahok ini cuma menista tokoh agama atau ulama. Ini tambahannya, secara pragmatik, ada yang namanya speaker's intended meaning, alias makna yang dikehendaki penutur. Dan, ini pertanyaannya, apa benar Ahok bermaksud menista Islam dengan ucapannya itu? Atau ulama? Jangan jangan yang dimaksud sama Ahok itu cuma politisi yang suka pakai Al Maidah 51? Tapi, ya, ini juga jangan jangan. Tapi, persis di pragmatik itu juga bantahannya. Yang ditangkap petutur itu bukan cuma arti yang dikehendaki penutur, tapi juga arti yang terkomunikasikan. Kalau ini dipakai, setidaknya Ahok menista tokoh agama. Kenapa bisa gitu? Soalnya, itu salah satu makna yang potensial dari kalimat yang bikin heboh itu. Artinya, kurang lebih hasilnya sama. Masalahnya, yang lupa diperhitungkan pendukung Ahok --yang sama membabi-butanya dengan yang nuduh pengecut orang yang nggak ikut demo Ahok 4 Nov nanti--, penafsiran orang terhadap teks itu juga dipengaruhi pengalaman hidupnya, yang sebagiannya mungkin sudah mengkristal menjadi prasangka. Termasuk pengalaman dia mengada di dunia bersama Ahok, yang konon mulutnya itu susah diatur. Ditambah lagi perasaan segala macam, termasuk tentang umat Islam yang sangat toleran tapi selalu dizalimi --padahal baru nurunin patung Budha di Tanjung Balai--, ucapan Ahok jelas bikin tersinggung. Dan, harus jujur, Ahok memang bukan orang yang tepat buat ngomentari Al Maidah 51. Jadi, wajar juga kalau pada tersinggung. Tapi, bagaimanapun juga, berpikir sehat itu perlu. Saya memaklumi ketersinggungan itu, dan karena itu saya memaklumi juga demo itu. Tapi, maaf, saya menganggap itu sebatas ekspresi ketersinggungan aja. Tidak lebih. Maaf juga kalau saya berbeda pendapat urusan penistaan agama ini. Inilah ijtihad saya. Dan, Anda semua harus maklum. Wong saya aja maklumin situ semua dukung dan tolak Ahok mati-matian. Mosok saya nggak boleh golput? Akhirnya, semoga Jumat jadi libur. Happy long weekend!

  • Ichsan8 years ago

    Assalamualaikum. Siapa yang berani memakai ayat al qur an dg niat membohongi? Lalu apa ada ayat al qur an yg berisi kebohongan. Jika meyampaikan makna dan tafsir al maidah ayat 51 kpd masyarakat dianggap membohongi, lalu apa kata yg tepat utk yang menyampaikan ratusan ayat lainnya di ats mimbar?? Membodohi? Menipu? Ulama menyampaikan yg benar dg dalil dari allah dikatakan membohongi? Pemaknaan kata seperti didalam berita ini saya rasa hanya berlaku dalam dunia pengacara. Menafsirkan kata kata dalam undang2 dari berbagai sisi dg tujuan pencapaian hasil yh diinginkan. Semoga semua diberi petunjuk dari Allah SWT. Wassalam

  • Sanyoto kabul8 years ago

    Test

  • el8 years ago

    kalo gitu ulama yg membacakan ayat tersebut sama saja di bilang mengajarkan kebohongan begitu ya, ini lebih menghinakan sekali

  • Deden Khalid, MA8 years ago

    Umar Bin Khatab permah mempraktekan Al Maidah 5!, untuk memecat Sekretarisnya Abu Musa yang beragama Nasrani. Padahal pekerjaan Sekretaris.tersebut membuat Umar Bin Khatab kagum. PERTANYAAN : Apakah Umar Bin Khatab itu RASIS Pembohong karena mempraktekan ayat tersebut ??

  • adjir8 years ago

    Semoga masyarakat indonesia menjadi Orang" yang lebih cerdas dan lebih mengedepankan akal daripada nafsunya, terhindar dari hasutan provokator yang menyesatkan... mari mengungkap fakta tanpa fitnah "lihat videonya secara utuh lalu berkomentar dan berekspresi sesuai batasannya"

  • adjir8 years ago

    kata awliya di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 42 kali dan diterjemahkan beragam sesuai konteksnya. Merujuk pada Terjemahan Al-Quran Kementerian Agama edisi revisi 1998 - 2002, pada QS. Ali Imran/3: 28, QS. Al-Nisa/4: 139 dan 144 serta QS. Al-Maidah/5: 57, misalnya, kata 'awliya' diterjemahkan dengan pemimpin. Sedangkan pada QS. Al-Maidah/5: 51 dan QS. Al-Mumtahanah/60: 1 diartikan dengan 'teman setia'. Pada QS. Al-Taubah/9: 23 dimaknai dengan 'pelindung', dan pada QS. Al-Nisa/4: 89 diterjemahkan dengan 'teman-teman', Dengan demikian maka jika ada oknum-oknum yang menggunakan dasar diatas ( QS. Al-Maidah/5: 51 dan QS. Al-Mumtahanah/60: 1 diartikan dengan 'teman setia) Untuk menghadang orng nonmuslim menjadi pemimpin adalah salah sasaran dan tidak tepat krn penafsirannya bukan pemimpin

  • adi mursidi8 years ago

    Kita jangan mudah percaya dengan pemberitaan" media negara kita mungkin sudah dikuasai oleh pihak tertentu, berdiri dibalik layar Apakah hukum, konstitusi hanya sebagai alat untuk menakut-nakuti rakyatnya kepada orang berdasi, agar tenang, nyaman dalam mengeruk, mengumpulkan materi? Apakah mereka mengira materi bisa membantunya dari segala hal Jika kitab suci kita, agama kita dihina ( Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macam-macam..) apakah hati kita tidak tergerak untuk membelanya Apakah kita mau tidak peduli dengan agama Allah Tanyakan kepada hati kita masing" sobat

  • adi8 years ago

    Kita jangan mudah percaya dengan pemberitaan" media negara kita mungkin sudah dikuasai oleh pihak tertentu, berdiri dibalik layar Apakah hukum, konstitusi hanya sebagai alat untuk menakut-nakuti rakyatnya kepada orang berdasi, agar tenang, nyaman dalam mengeruk, mengumpulkan materi? Apakah mereka mengira materi bisa membantunya dari segala hal Jika kitab suci kita, agama kita dihina ( Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macam-macam..) apakah hati kita tidak tergerak untuk membelanya Apakah kita mau tidak peduli dengan agama Allah Tanyakan kepada hati kita masing" sobat

  • pm8 years ago

    Ini kan suasana politik makanya jangan sampai para tim sukses cagub dki memakai apa2 yang menyangkut masalah agama apalagi pake bawa2 ayat alquran dlm mencapai keinginan politiknya..semoga damai wahai masyarakat indonesia stop isue SARA

  • Danang Wisanggeni8 years ago

    Bro semua santai dan berkepala dingin, untuk melihat lancangnya mulut ahok. Ini kalimat yang keluar dari mulut ahok, yang non muslim : "Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin "PAKAI" surat almaidah 51 macem-macem itu" itu artinya : menurut Ahok, Al Maidah 51 bisa dipakai sebagai alat membohongi sehingga ibu ibu tidak memilih dia. Jika ucapan lancangnya itu bisa dibenarkan, maka tiap orang bisa mengatakan senada bahwa seluruh isi alquran bisa dipakai sebagai alat membohongi.. semisal ayat tentang riba, tentang haram halal dll. contoh, "bpk ibu bisa gak beli daging ini karena dibongin Pakai surat Maa’idah: 3" Contoh lagi : " tentang riba bpk ibu dibongin pakai surah ALI-IMRAN ayat 130" masihkah ada yang belain kata kata ahok sebagai hal yang gak salah ? apakah memang begitu..? sudah benarlah sikap keagamaan MUI yang menganggap Ahok telah melecehkan keyakinan umat islam.

  • galih8 years ago

    BOHONG, imam besar masjid Istiqlal setelah dikonfirmasi awak media tidak pernah mengatakan Ucapan Ahok Bukan Penistaan. Postingan ini bisa saya laporkan pada yg berwajib dan langsung dipertemukan dg Pihak Pengurus Masjid Istiqlal.

  • Dwi Putra8 years ago

    Bismillahirrahmanirrahim Saudara2ku se iman Ayat2 setelahnya perlu dibaca juga....Saat ini sedang terjadi ayat 52 dan 53 Al Maidah 52: _"bahwa kita akan melihat kemunculan orang2 *munafik* yang merapatkan diri justru pada orang yahudi dan nasrani tersebut untuk minta perlindungan. Dan Allâh akan menurunkan putusan-Nya yang membuat orang2 munafik itu menyesal"_ Al Maidah 53: _"akan makin jelas mana orang beriman, mana orang2 munafik"_ Maha benar Allah dengan segala firmanNya Subhanallah...Prediksi Al Qur'an selalu sesuai dengan kenyataan.

  • herman sitanggang8 years ago

    saya pikir di Indonesi ini terlalu banyak orang yang tak bisa mengulas dan menganalisa kata dan kalimat. Terlalu gampang tersulut emosi, belum tau letak masalah dan kesalahan sudah anarkis. Ini semua tidak akan terjadi kalau bukan karena ulah BUNI YANI. Saya harap tolong dimengertilah arti daripada UUD negara kesatuan ini , masih byk yang lebih penting untuk dibahas dan diurusin. Satu hal yang perlu kalian tau saudara yang muslim, terutama muslim yang salah mengartikan ajaran ALQURAN. Nasrani tidak pernah diajarkan untuk menghina ajaran dan keyakinan orang lain yang berbeda. Kami selalu diajarkan untuk mengasihi dan menyayngi siapapun di dunia ini. Tidak pandang bulu. TERIMA KASIH. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala (ALLAH MAHA BESAR dan ALLAH MAHA TINGGI) semakin menyayangi negeri kita tercinta ini.

  • dezero8 years ago

    Apakah seorang imam besar tidak memahami kategori munafik?

  • aki7 years ago

    semua ada bidangnya masing masing kalau salah ya hukum, hanya yang saya heran kenapa suara pilkada dki mihak ke paslon no 2, kemana orang orang yang kumpul di jakarta 411

  • Barham7 years ago

    Saya Sepakat ama Bang Toto Soegiyanto, seharus MUI NETRAL dan jangan terlibat politik Praktis, jika MUI berpolitik maka dapat dipastikan merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara buktinya MUI mengeluarkan Fatwa tentang kasus AHOK tanpa mempertimbangkan masukan dari ahli Bahasa sehingga menimbulkan kegaduhan dari seluruh penjuru Indonesia. kami walaupun berbeda agama dan kepercayaan serta budaya kami tetap hidup rukun, jadi sekali lagi Pengurus MUI tolong jangan terlibat di Politik PRAKTIS.