Article Image

SAGA

Ada Asa di Balik Tumpukan Sampah (Bagian 1)

Di Lapak pemulung di Tangerang Selatan ini Siti mengajar anak-anak mengaji setiap maghrib. (Dok: KBR/ Valda)

KBR, Jakarta - Belasan anak duduk lesehan di musala, sembari memegang buku iqra. Magrib itu mereka belajar mengaji dituntun seorang perempuan berkerudung bernama Siti Salamah. 

Sebelum pandemi kegiatan Maghrib Mengaji rutin dilakukan di Jurang Mangu, Kota Tangerang Selatan, Banten, wilayah yang banyak dihuni pemulung.

Bermula dari ajakan kawan, sejak 2015, Siti telah mendampingi anak-anak pemulung. Saat itu ia sudah dikenal punya banyak pengalaman sebagai relawan.

“Beberapa orang SMS atau BBM minta saya datang ngebina anak-anak pemulung daerah sini, karena teman saya masuk dua kali berturut-turut tapi sering dijahilin,” ujar Siti.

Siti kemudian mendirikan komunitas Rumah Pohon yang fokus pada pendidikan anak-anak pemulung. Nama ini dipilih karena ia ingin komunitasnya menjadi tempat aman dan bisa mengayomi anggotanya.

“Anak-anak pemulung itu ga punya akte. Orang tua mereka kebanyakan nikah di bawah tangan jadi ga punya KK, ga punya KTP, mereka jadi korbannya. Kalaupun sekolah kebanyakan putus,” kata perempuan 33 tahun itu.

Baca juga: Akses Pendidikan untuk Asa Masa Depan Anak Pemulung

Beberapa anak pemulung didaftarkan ke homeschooling Kak Seto agar tetap bisa mengakses pendidikan. (Dok: KBR/ Valda)

Awalnya Maghrib Mengaji rutin digelar saban hari, tetapi kemudian dibatasi hanya tiga kali sepekan. Beberapa rekan Siti juga ikut mengajar di sana.

“Ada anak lapak yang 'ah ini mah paling cuma 1-2 kali lah, besok bakal ilang lagi'. Itu tuh kayak 'gila ya gue ditantangin sama anak pemulung'. Ternyata alhamdulillah bisa sampai sekarang, yang tadinya cuma satu lapak, berkembang jadi beberapa lapak,” ucap Siti.

Komunitas Rumah Pohon kini punya delapan lapak untuk Maghrib Mengaji. Mereka membina sekitar 20-an anak pemulung di tiap lapak. 

Setelah beberapa tahun, kampus-kampus di sekitar Kota Tangerang Selatan mulai menawarkan kerja sama.

“Sebelum pandemi itu ada kelas untuk belajar bersama. Kita kolaborasi sama semua komunitas, semua kampus, siapapun yang mau jadi relawan ngajar kita perbolehkan,” katanya.

Baca juga: Sepeda Adaptif untuk Permudah Akses Difabel

Kegiatan volunteering membuat masker melibatkan anak-anak di lapak pemulung. (Dok: Rumah Pohon)

Siti makin giat mencarikan akses agar anak-anak pemulung bisa melanjutkan pendidikan. Mereka didaftarkan di lembaga homeschooling Kak Seto. Anak-anak pemulung bersekolah di sana hingga lulus dan mendapat ijazah yang diakui negara.

“Di Kak Seto, sekolahnya Sabtu-Minggu. Itu ada mobil jemputan setiap hari Minggu. Cuma selama pandemi ini online, misalnya dua HP untuk rame-rame. SD, SMP, SMA,” ujar perempuan asli Lampung ini.

Perjuangan ibu satu anak ini tak sia-sia. Salah satu anak dampingannya bahkan berhasil menembus perguruan tinggi.

“Pas 2015 itu putus sekolah sampai dia kelas 4 SD. Saya coba daftarin ke Kak Seto. Itu dia tiba-tiba datang bilang ke saya 'Kak Siti makasih ya.. kalau ga ada Kak Siti aku ga bisa kayak sekarang,” kenang Siti penuh haru.

Siti juga gencar mengedukasi soal pencegahan perkawinan anak di kalangan pemulung. Pasalnya, praktik ini biasa terjadi karena tekanan ekonomi. Siti ingin anak-anak pemulung tidak bernasib sama seperti orang tuanya.

“Ada anak lapak yang datang, udah nikah dong sama pengamen. Padahal ya nikahnya sama lingkaran itu lagi, ga jauh-jauh,” kata Siti.

Baca juga: Insani Teater Cilincing, dari Gang Sempit Kalibaru Tolak Kawin Anak

Bos lapak Sudarti menyambut baik kegiatan Maghrib Mengaji yang digagas Siti Salamah (Dok: KBR/ Valda)

Para pemulung di Jurang Mangu berterima kasih atas dedikasi Siti memperjuangkan anak-anak mereka agar tetap sekolah. 

Sudarti, salah satunya. Anaknya kini menjalani homeschooling kelas 4 SD.

“Merasa terbantu karena anak yang tadinya ga sekolah jadi dia bisa mengenal huruf, angka, bisa membaca yang ga bisa ngaji jadi bisa ngaji, buat orang tuanya keterampilan butuh juga sih,” kata Sudarti.

Dengarkan Saga episode Ada Asa di Balik Tumpukan Sampah di KBRPrime, Spotify, Google Podcast, dan platfrom mendengarkan podcast lainnya.

Penulis: Valda Kustarini

Editor: Ninik Yuniati