Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, Solusi atau Masalah?

Aktivis lingkungan menilai PLTSa bisa menimbulkan polusi udara. Tapi menurut pemasok teknologinya, gas buangan PLTSa itu lebih bersih dari emisi sektor industri.

BERITA , NASIONAL

Jumat, 19 Jul 2019 14:33 WIB

Author

Adi Ahdiat

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, Solusi atau Masalah?

Pembangkit listrik tenaga sampah di Kota Esbjerg, Denmark. (Foto: www.volund.dk)

KBR, Jakarta- Pemerintah Indonesia tengah gencar mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di 12 kota. Targetnya, seluruh PLTSa itu sudah bisa beroperasi di tahun 2022.

Namun, proyek ini dianggap kurang "bersih" oleh sejumlah aktivis lingkungan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) misalnya, menilai pembakaran sampah di PLTSa akan menimbulkan masalah polusi udara. 

"(PLTSa) Tidak bisa menyelesaikan sampah sih, nggak keliatan aja jadinya, jadinya ke udara. Polusinya ke udara tapi ada abunya juga. Secara volume (sampah) berkurang ya, tapi toxic-nya terkonsentrasi," kata Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan Walhi, Dwi Sawung, kepada KBR, Kamis (18/7/2019).

Penilaian serupa juga disampaikan Profesor Emeritus Paul Connett, aktivis sekaligus ahli kimia lingkungan dan toksikologi dari Belanda. Dalam kunjungannya ke Jakarta pekan lalu (13/7/2019), profesor itu menilai rencana Indonesia membangun PLTSa adalah ide buruk.

Menurut riset Paul Connett, proses pembakaran sampah di PLTSa bisa menghasilkan dioksin, senyawa berbahaya yang rawan terhirup manusia dan hewan. Karena itu ia tidak setuju dengan pembangunan PLTSa.

Ia lantas mengusulkan, karena Indonesia banyak menghasilkan sampah organik, Indonesia lebih baik mengolah sampah dengan metode anaerobic digestion.

Dalam anaerobic digestion, sampah diurai dengan bantuan bakteri. Proses penguraian ini diklaim lebih ramah lingkungan dan bisa menghasilkan biogas untuk keperluan memasak rumah tangga.


Produsen: PLTSa Teknologi Bersih

Di sisi lain, pemerintah mengklaim PLTSa tidak berbahaya seperti yang dituduhkan. Mekanisme kerjanya juga dinilai sudah sejalan dengan UU Pengolahan Sampah.

"Ini kan ada teknologinya. Termal teknologinya, ya maksudnya itu. Jadi tidak bertentangan dengan Undang-Undang pengolahan sampah," kata Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar kepada KBR, Kamis (18/7/2019).

Klaim serupa juga disampaikan Babcock & Wilcox (B&W) Volund, perusahaan Denmark yang jadi salah satu pemasok teknologi untuk proyek PLTSa di Jakarta.

Menurut B&W Volund, teknologi PLTSa yang mereka kembangkan bisa menghasilkan emisi gas yang 95 - 99 persen bersih dari racun. Mereka mengklaim bahwa gas buangan PLTSa lebih bersih dibanding asap yang dihasilkan sektor industri.

B&W Volund juga menyebut, teknologi PLTSa mereka sudah diterapkan di 30 negara. Di antaranya adalah Tiongkok, Denmark, Inggris, Amerika Serikat, Irlandia, dan Swedia.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Amandemen UUD 1945