Jair Bolsonaro Raih Suara Tertinggi Di Pemilihan Presiden Brazil

Perbedaan suara yang besar antara Bolsonaro dan Haddad dipicu akibat gelombang antipati terhadap partai pengusung Haddad

INTERNASIONAL

Senin, 08 Okt 2018 10:05 WIB

Author

Yogi Ernes

Jair Bolsonaro Raih Suara Tertinggi Di Pemilihan Presiden Brazil

Jair Bolsonaro dalam sebuah kampanye (Foto: Udo Kurt/JTA)

KBR, Jakarta - Jair Bolsonaro, seorang Anggota Kongres konservatif memimpin perolehan suara dalam pemilihan presiden Brazil pada Minggu (7/10/2018) waktu setempat. Dari total 92 persen suara yang sah, Bolsonaro mendapatkan 47 persen suara sah. Ia jauh meninggalkan pesaing terdekatnya, Fernando Haddad yang hanya mendapatkan 28 persen suara. Suara terendah didapatkan oleh Ciro Gomes dari Partai Buruh Demokrasi dengan total suara 12,5 persen.

Meski unggul jauh, Bolsanaro masih harus berhadapan dengan Haddad kembali dalam pemilihan presiden putaran kedua karena gagal memenangkan suara mayoritas yang diperlukan sebesar 50 persen. Putaran kedua, akan dilaksanakan pada 28 Oktober 2018 mendatang.

Para pendukung Bolsonaro berkumpul di luar rumahnya di daerah Rio de Janeiro untuk merayakan kemenangan. Mayoritas dari mereka berteriak “Presiden kita”.

Perbedaan suara yang besar antara Bolsonaro dan Haddad dipicu akibat gelombang antipati terhadap partai pengusung Haddad, Partai Pekerja, di mana pemimpinnya dipenjara akibat tindakan korupsi.

Kemenangan Bolsonaro dan sentimen terhadap Haddad mendorong kenaikan di mata uang dan pasar saham BraziL. Banyak investor ingin menghindari kembalinya Partai Pekerja akibat pengalaman resesi terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Hal itu pernah dialami oleh Brazil ketika partai tersebut berkuasa.

Dilansir dari The Guardian (8/10/2018) Monica de Bolle, Direktur Studi Amerika Latin di Universitas John Hopkins mengatakan pemilihan putaran kedua akan menjadi lebih panas lagi.

“Beberapa minggu ke depan akan menjadi gila, negara ini akan terbelah lagi.  Ini akan menjadi kampanye yang mengerikan di putaran kedua. Bolsonaro akan keluar dengan semua keburukan dari Partai Pekerja. Dan Partai Pekerja juga akan melemparkan “tembakan” kepada Bolsonaro,” kata de Bolle.

Meski saat ini sedang di atas angin, Bolsonaro juga tidak bisa dipisahkan dari kontroversi. Khususnya yang berkaitan dengan gaya otoriter dan konservatifnya.

Selama 27 tahun karirnya di Kongress, Bolsonaro terkenal antipati terhadap kelompok minoritas, seperti LGBT, warga kulit hitam dan pribumi Brazil, serta dukungan penuhnya untuk pemerintahan militer. Peluang kemenangan besar Bolsonaro di pemilihan presiden kali ini dinilai membawa preseden buruk akan pemerintahan yang diktator.

Dilansir dari Reuters (8/10/2018) Bolsonaro didukung oleh puluhan sekelompok jenderal pensiunan yang telah mengkritik pemerintah Partai Pekerja, dan secara terbuka mendorong intervensi militer jika korupsi terus terjadi.

Dalam kampanyenya, Bolsonaro telah berjanji untuk membalikkan gelombang kejahatan dengan mengatur ulang kontrol senjata sehingga masyarakat sipil bisa mempersenjatai diri dan membuat polisi lebih mudah untuk membunuh.

Sejarawan Heloisa Starling mengatakan dirinya sangat terganggu dengan kecenderungan Bolsonaro dan rencananya dalam melonggarkan hukum senjata. “Jika dia benar-benar menindaklanjuti kemungkinan penduduk untuk mempersenjatai diri, negara ini akan menjadi Wild West,” ucapnya dikutip dari The Guardian.

 

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Polisi Didesak Ungkap Jaringan Perdagangan Orang dengan Modus Pernikahan

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14