Google+ Akan Ditutup Setelah Ratusan Ribu Data Pengguna Bocor

Data Pribadi dari Setidaknya 500.000 Pengguna Google+ Bocor.

BERITA , INTERNASIONAL

Selasa, 09 Okt 2018 12:22 WIB

Author

Tyas Sukma Amalia

Google+ Akan Ditutup Setelah Ratusan Ribu Data Pengguna Bocor

Ilustrasi: Logo Google digambarkan di atas gedung kantor di Irvine, California, AS 7 Agustus 2017. REUTERS / Mike Blake / File Photo.

KBR - Google Alphabet Inc berencana menutup Google+. Kebijakan ini menyusul kegagalan jejaring sosial Google tersebut mengamankan data pengguna. Setidaknya ada 500.000 data profil pribadi pengguna yang mungkin telah diambil ratusan pengembang eksternal. Demikian bunyi pengumuman pada Senin (8/10/2018). Atas insiden tersebut, selain bakal menutup Google+, kebijakan berbagi data pun bakal diperketat.

Masalah ini ditemukan pada Maret saat Google meninjau kebijakan berbagi data dengan aplikasi lain. Google lantas mengakui kebobolan itu dalam sebuat unggahan blog, seraya memastikan bahwa tidak ada pengembang yang bisa mengeksploitasi ataupun menyalahgunakan data tersebut.

Setelah pengumuman, saham induk Google--Alphabet, langsung ditutup anjlok 1% ke US $ 1155,92.

The Wall Street Journal melaporkan sebelumnya Google memilih untuk tidak mengungkapkan masalah keamanan ini karena kekhawatiran pengawasan regulasi. Keterangan itu dikutip dari memo staf hukum dan kebijakan Google untuk eksekutif senior.

Masih menurut laporan The Wall Street Journal, Google khawatir pengungkapan akan mengundang perbandingan dengan insiden kebocoran informasi pengguna Facebook Inc ke perusahaan data Cambridge Analytica. Chief Executive Sundar Pichai telah diberitahu tentang masalah ini. Google pun menolak berkomentar di luar unggahan di blognya.

Google mengklaim, setelah dilakukan pemeriksaan dan identifikasi kebocoran data pengguna, tidak didapatkan pelanggaran syarat ataupun ambang batas. Perusahaan raksasa mesin pencari itu juga mengatakan, pemeriksaan sudah meliputi indikasi penyalahgunaan pengembang eksternal dan perlu-tidaknya mengambil tindakan perlindungan. Sehingga Google merasa tak diperlukan pengungkapan perihal kebocoran data ini ke publik.

Sementara pakar keamanan dan privasi dan analis keuangan justru mempertanyakan keputusan tersebut. "Pengguna memiliki hak untuk diberitahu jika informasinya dapat dikompromikan," kata Jacob Lehmann, direktur pelaksana di perusahaan hukum Friedman CyZen.

"Ini adalah hasil langsung dari pengawasan yang ditangani Facebook terkait dengan skandal Cambridge Analytica," tambahnya.

Google+ diluncurkan pada 2011 saat raksasa periklanan itu kian peduli persaingan dengan Facebook yang, sudah mampu mengarahkan iklan pada preferensi pengguna. Kemampuan itu berdasar data yang telah dibagikan pengguna mengenai teman, kesukaan, juga aktivitas online.

Google+ lantas menyalin Facebook dengan pembaruan status dan umpan berita yang memungkinkan orang mengatur grup teman mereka ke dalam apa yang disebut "lingkaran". Tetapi Google+ dan eksperimen perusahaan media sosial lainnya masih harus berjuang untuk memenangkan pengguna karena fitur yang rumit.

Facebook memperkenalkan fitur yang memungkinkan pengguna menghubungkan akun mereka dengan profil di aplikasi kencan, musik, serta lainnya. Google lantas mengikutinya, membiarkan pengembang luar mengakses beberapa data Google+ atas seizin pengguna.

Menurut Google, bug terungkap pada Senin (8/10/2018), diperkenalkan dalam pembaruan perangkat lunak, memaparkan data pribadi termasuk nama, alamat email, pekerjaan, jenis kelamin dan usia. Google+ bakal tetap jadi opsi jaringan internal untuk organisasi yang membeli Google G Suite--sekumpulan aplikasi untuk membuat dokumen, spreadsheet, dan presentasi.

Rencana Google untuk menarik versi gratis Google+, yang dijadwalkan untuk Agustus bisa memperkuat argumen bahwa kasus ini berbeda dengan Facebook. Dimana menghadapi tuduhan bahwa data 87 juta penggunanya disalahgunakan konsultan politik Cambridge Analytica.

Google menolak mengirim Chief Executive Sundar Pichai ke sidang Komite Intelijen Senat pada 5 September lalu, ketika chief operating officer Facebook dan chief executive Twitter Inc bersaksi. Kursi kosong ditinggalkan untuk Google setelah komite menolak pengacara top Google sebagai saksi.

Setelahnya, Google memperkenalkan beberapa kebijakan yang dirancang untuk membatasi akses data oleh pengembang eksternal--baik melalui Google Play store atau aplikasi tambahan Gmail. Aplikasi Play Store tidak lagi diizinkan mengakses pesan teks dan log panggilan kecuali itu adalah aplikasi panggilan atau SMS bawaan perangkat atau memiliki pengecualian dari Google.

"Sedangkan Gmail adds-on yang tersedia bagi konsumen mulai tahun depan dilarang menjual data pengguna dan tunduk pada penilaian keamanan pihak ketiga yang bakal membebani mereka dengan ongkos  $ 15.000 hingga $ 75.000," jelas pihak Google.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Amandemen UUD 1945