Di Norwegia, NATO Gelar Latihan MIliter Terbesar Pasca Perang Dingin

Melibatkan 10 ribu kendaraan, 65 kapal, dan 250 pesawat, latihan ini bertujuan untuk melatih NATO untuk membela negara anggota aliansi dalam menghadapi serangan dari luar.

BERITA | INTERNASIONAL

Jumat, 26 Okt 2018 10:18 WIB

Author

Pricilia Indah Pratiwi

Di Norwegia, NATO Gelar Latihan MIliter Terbesar Pasca Perang Dingin

Sekitar 50.000 tentara dari 31 negara mengambil bagian dalam latihan militer (Foto: Mindaugas Kulbis / AP)

KBR - Sekitar 50 ribu pasukan tentara dari 31 negara mengikuti latihan militer North Atlantic Treaty Organization (NATO) di Norwegia. Latihan bertajuk Trident Juncture ini merupakan manuver NATO terbesar yang digelar sejak Perang Dingin di awal 1980-an.

Selain 29 negara anggota NATO, Swedia dan Finlandia juga bergabung dengan latihan yang dimulai  sejak Kamis (25/10/2018) dan berakhir pada 7 November 2018.

Latihan perang melibatkan 10 ribu kendaraan, 65 kapal, dan 250 pesawat. Latihan ini bertujuan untuk melatih NATO untuk membela negara anggota aliansi dalam menghadapi serangan dari luar.

"Dalam beberapa tahun terakhir, lingkungan keamanan Eropa telah memburuk secara signifikan," kata Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg pada Rabu (24/10/2018), dilansir dari Straits Times.

"Trident Juncture mengirimkan pesan yang jelas kepada bangsa kita dan kepada musuh potensial. NATO tidak mencari konfrontasi tetapi kita siap untuk membela semua sekutu terhadap ancaman apa pun."

Sementara 'musuh potensial' belum diidentifikasi secara resmi, meskipun kemungkinanya adalah Rusia.

Rusia telah berulang kali memamerkan kekuatan militernya dalam beberapa tahun terakhir. Tentaranya telah mencaplok Krimea, membantu mengacaukan wilayah timur Ukraina, meningkatkan kemampuan militernya di Kutub Utara, dan melakukan latihan terbesarnya di Timur Jauh bulan lalu.

Kedutaan Rusia di Norwegia menganggap Trident Juncture sebagai latihan 'anti-Rusia'. 

"Kegiatan seperti itu ... tampil sebagai provokatif, bahkan jika Anda mencoba untuk membenarkannya sebagai sifat murni defensif," katanya.

Selama berbulan-bulan, Rusia telah terganggu oleh kehadiran militer Barat yang tumbuh di wilayah tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengutuk apa yang disebutnya sebagai pengkhianatan NATO dan bersumpah bahwa Rusia akan mengambil tindakan pembalasan.

"Negara-negara Nato utama meningkatkan kehadiran militer mereka di wilayah tersebut. Tindakan yang tidak bertanggung jawab seperti itu akan mengarah pada destabilisasi situasi politik di Utara," jelasnya.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Wacana Pembentukan KKR

Kabar Baru Jam 11

Kala Tuntutan Setop Tes Keperawanan Bergulir

Kabar Baru Jam 10

'Kelas Multikultural' SMK Bakti Karya Parigi