Beijing Akan Terapkan Tarif Kemacetan

Lembaga riset transportasi mitra pemerintah menyarankan tarif kemacetan sekitar 3 hingga 8 dolar Amerika atau antara Rp40 ribu hingga Rp100 ribu perhari di Beijing.

BERITA | INTERNASIONAL

Jumat, 10 Jun 2016 11:07 WIB

Author

Agus Lukman

Beijing Akan Terapkan Tarif Kemacetan

Seorang pria mengendarai sepedanya melewati jembatan pejalan kaki dimana mobil-mobil berlalu-lalang di jalan raya Beijing, Rabu (2/1). Foto: Antara

KBR- Pemerintah Kota Beijing akan memberlakukan aturan penerapan tarif kemacetan kepada pengguna atau pemilik kendaraan pribadi saat jam macet. 

Kabarnya aturan semacam ini telah diterapkan di London Inggris maupun Singapura untuk mengurai kemacetan parah di jalan raya.

Media pemerintah Tiongkok memberitakan aturan penerapan tarif kemacetan kemungkinan akan diluncurkan tahun ini juga. 

Lembaga riset transportasi mitra pemerintah menyarankan tarif kemacetan sekitar 3 hingga 8 dolar Amerika atau antara Rp40 ribu hingga Rp100 ribu perhari di Beijing. 

"Penerapan tarif kemacetan mungkin akan menjadi tren di Tiongkok. Saya pikir tidak ada yang meragukan itu," kata Profesor Shi Jing, Direktur Institut Teknik Transportasi R&D di Universitas Tsinghua.

"Tapi kita harus bertanya, masalah yang bakal ditimbulkan jika aturan ini diterapkan? Mengapa banyak negara membicarakan hal ini tapi tidak banyak yang menerapkannya? Itu karena tarif kemacetan akan menjadi beban ketika Anda akan masuk ke ke kawasan tertentu di dalam kota."

Beijing merupakan salah satu kota paling macet di dunia. Beijing sudah memiliki jaringan kereta bawah tanah terbesar di dunia, jaringan jalan raya yang luas, sistem transportasi bus yang luas dan menyeluruh. 

Namun kepemilikan kendaraan bermotor di Beijing terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dalam lima tahun, kepemilikan kendaraan bermotor meningkat 17 persen menjadi 5,6 juta unit hanya di Beijing saja. Angka itu sudah hampir ambang batas pemilikan kendaraan yang ditetapkan otoritas di Beijing yaitu enam juta unit hingga 2017. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERNASIONAL

Most Popular / Trending

Foto Ikatan Besar Mahasiswa UI Tidak Akui Jokowi - Ma'ruf Hoaks

Jokowi Didesak Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM di Periode Kedua

Kanker Payudara dan Tubuh Perempuan

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14