Jokowi Targetkan Indonesia Setop Impor Petrokimia dalam Empat Tahun

"Feeling saya, empat atau lima tahun lagi kita sudah tiga mengimpor bahan-bahan petrokimia. Justru bisa kita ekspor."

BERITA | NASIONAL

Jumat, 06 Des 2019 13:08 WIB

Author

Dian Kurniati

Jokowi Targetkan Indonesia Setop Impor Petrokimia dalam Empat Tahun

Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas pengelolaan cadangan beras pemerintah di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (4/12/2019). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

KBR, Cilegon- Presiden Joko Widodo menargetkan Indonesia berhenti mengimpor petrokimia dalam empat hingga lima tahun yang akan datang.

Jokowi mengatakan, saat ini pemerintah terus mendorong masuknya investasi industri produksi petrokimia, dengan memberikan berbagai insentif pajak.

Jokowi berkata, saat ini industri dalam negeri baru memproduksi sekitar sepertiga dari kebutuhan petrokimia nasional.

"Kita harapkan bahwa investasi, penanaman modal yang terus menerus di bidang ini, harus kita berikan ruang, agar nantinya yang namanya impor bahan-bahan petrokimia itu betul-betul setop, dan kita bisa mengekspornya. Feeling saya, empat atau lima tahun lagi kita sudah tiga mengimpor bahan-bahan petrokimia. Justru bisa kita ekspor," kata Jokowi di kompleks pabrik PT Chandra Asri Petrochemical Cilegon, Jumat (06/12/2019).

Jokowi mengatakan, ekspor bahan kimia Indonesia hanya Rp124 triliun, sedangkan nilai impornya mencapai Rp317 triliun.

Jokowi mencontohkannya dengan kebutuhan termoplastik atau polyethylene nasional yang mencapai 2,3 juta ton per tahun, sedangkan kapasitas produksi nasional hanya 870 ribu ton.

Dengan demikian, Indonesia masih mengimpor 1,52 juta ton per tahunnya. Jokowi berkata, nilai impor termoplastik tersebut mencapai Rp22,8 triliun per tahun.

Jokowi lantas meminta PT Chandra Asri Petrochemical sebagai produsen termoplastik mengebut penambahan kapasitas produksinya hingga 4 juta ton, agar sisanya bisa diekspor.

Ia berkata, pemerintah akan terus memberikan insentif pajak berupa tax holiday dan tax allowance untuk investor yang membangun pabrik substitusi impor, seperti petrokimia, untuk menekan defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan. 


Editor: Ardhi Rosyadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Menyoal Upaya Pemerintah Indonesia Antisipasi Penyebaran Corona Wuhan

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19