Ekspor Benih Lobster Tuai Kecaman, Ini Alasan Menteri Edhy Tetap Lanjut

"Lobster yang hari-hari ini sangat panas, dan itu tidak masalah. Mau dipojokkan ikut penyelundupan, itu biasa. Tidak usah panas. Apa saja yang menghantam kita, itu bagian dari penguatan rencana"

BERITA | NASIONAL

Senin, 16 Des 2019 12:33 WIB

Author

Lea Citra

Ekspor Benih Lobster Tuai Kecaman, Ini Alasan Menteri Edhy Tetap Lanjut

Polisi menunjukkan barang bukti benih lobster yang diduga akan diselundupkan. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan akan mengendalikan dan membatasi ekspor benih lobster. Dia mengklaim masih mencari cara menghindari kemungkinan masifnya ekspor benih lobster.

Kata dia, masifnya penangkapan benih lobster akan mengancam ekosistem laut.

"Lobster yang hari-hari ini sangat panas, dan itu tidak masalah. Semua kebijakan yang akan diambil pemangku, pengambil kebijakan akan menghadapi tantangan seperti ini, dan saya fikir ini hal yang lumrah. Mau dipojokkan ikut penyelundupan, itu biasa. Tidak usah panas. Apa saja yang menghantam kita, itu bagian dari penguatan rencana kita. Apa yang menjadi masalah, itu tugas pemerintah untuk mencari jalan keluar," lanjutnya

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan masih mengkaji seluruh rencana ekspor benih lobster. Termasuk besaran angka ekspor dan kebutuhan benih lobster nasional.

Edhy mengklaim rencana ekspor benih lobster karena Indonesia belum mampu membesarkan lobster dari benihnya.

"Lobster sebagai misal, kita negara yang penghasil benih lobster terbanyak di dunia, di tiap-tiap wilayah kita menghasilkan besar. Sampai menunggu benih ini ada yang membudidayakan. Sementara membesarkannya, sementara di bidang lain ada masyarakat yang hidupnya bergantung pada penangkapan benih-benih lobster ini. Ribuan orang ada disitu, apakah akan kita biarkan mereka mati kelaparan," dalihnya.
  

Akademisi dan Nelayan Tolak Ekspor Benih Lobster

Di kesempatan terpisah, akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) Suhana menolak rencana legalisasi ekspor benih lobster.

"Kalau diekspornya dalam bentuk benih itu kita rugi. Kenapa kita tidak bersabar? Kenapa tidak menunggu sampai kepada lobster itu ukuran diatas 200 gram saja? Kalau menurut penelitian, ukuran 300 gram itulah yang memiliki nilai ekonomi tertinggi. Kenapa kita tidak sabar? Artinya jangan serakah supaya lobster ini memberikan dampak ekonomi yang tinggi," kata Suhana kepada KBR, Minggu (15/12/2019).

Perwakilan nelayan di Lombok, Amin Abdullah, juga menyatakan penolakan serupa.

"Jadi ya kami sebenarnya tetap pada posisi tidak setuju dengan ekspor benih, tapi keran untuk mengambil benih lobster untuk dibudidayakan itu akan kami setujui. Karena benih lobster yang diekspor ke Vietnam, maka teman-teman kami yang melakukan budidaya atau pembesaran lobster itu tidak kebagian bibit dia," jelas Amin kepada KBR, Minggu, (15/12/2019).


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 10

Istana Buckingham Mencopot Gelar Kerajaan Pangeran Harry dan Istrinya

Prakiraan Cuaca Dari BMKG

Presiden Minta Semua ASN Nanti Pindah ke IKN Baru

Kabar Baru Jam 8