Share This

Polisi Sebar Dua Sketsa Penyerang Novel, Kuasa Hukum Tetap Desak TGPF

"Orang juga semakin gamblang tahu, bahwa ada aktor kenapa kasus Novel tidak segera diungkap. "

BERITA , NASIONAL

Jumat, 24 Nov 2017 22:01 WIB

Author

Dian Kurniati

Polisi Sebar Dua Sketsa Penyerang Novel, Kuasa Hukum Tetap Desak TGPF

Penyidik Senior KPK Novel Baswedan saat baru disiram dengan air keras.

KBR, Jakarta- Kuasa hukum penyidik KPK Novel Baswedan, Haris Azhar tetap mendesak Presiden Joko Widodo membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) untuk mengungkap penyerang kliennya. Haris menilai, polisi hanya mencicil dalam mengumumkan temuannya untuk kasus Novel, seperti sketsa pelaku yang diumumkan setelah tujuh bulan sejak penyerangan.

Kata dia, sketsa itu seharusnya bisa dibuat dan disebar dalam satu atau dua bulan sejak penyerangan Novel.

"Ini kayak menyicil saja ya. Sedikit, tiga bulan sekali sketsa, setelah sketsa apa lagi.Tidak bisa dibilang ada capaian. Sketsa itu bisa dikumpulkan pada bulan-bulan awal. Kalau memang sketsanya sudah ada, langsung saja tangkap orangnya. Desakan publik sudah jelas, TGPF. Orang juga semakin gamblang tahu, bahwa ada aktor kenapa kasus Novel tidak segera diungkap. Menurut saya harusnya itu yang direspon, bukan menyicil induksi-induksi kayak begini," kata Haris kepada KBR, Jumat (24/11/2017).

Baca: Ada Info Dua Sketsa Pelaku Penyerang Novel Baswedan? Kapolda Minta Hubungi 081398844474


Haris mengatakan, saat telah merilis sketsa, polisi seharusnya bisa segera menangkap pelakunya. Kata dia, pada tahap ini, seharusnya polisi tak memerlukan waktu lama. Namun, Haris   pesimistis pelaku akan cepat ditangkap, lantaran kebiasaan polisi yang menyicil capaian penyelesaian kasus.

Haris berujar, dia akan tetap mendesak Jokowi membuat TGPF. Kata dia, animo publik untuk pembentukan TGPF tetap tinggi. Selain itu, kata dia, Jokowi yang tak kunjung membentuk TGPF, justru akan membuat kuburan politiknya sendiri.


Editor: Rony Sitanggang 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.