Jamin Keamanan, Gubernur Lukas Minta Pengungsi Kembali ke Wamena

"Saya harap warga kembali beraktivitas di Wamena. Tidak ada tempat bagi mereka yang melakukan kejahatan di Papua,"

BERITA | NASIONAL | NASIONAL

Selasa, 01 Okt 2019 13:27 WIB

Author

Arjuna Pademme, Budi Prasetyo, Astri Septiani

Jamin Keamanan, Gubernur Lukas Minta Pengungsi Kembali ke Wamena

Pascarusuh, aparat berpatroli Wamena, Jayawijaya, Papua, Senin (30/09/2019). (Foto: Antara)

KBR, Jayapura- Gubernur Papua, Lukas Enembe menyatakan  bersama TNI/Polri menjamin keamanan warga di Wamena, Kabupaten Jayawijaya dan seluruh masyarakat Papua.   Ia menyesalkan demonstrasi rusuh di Wamena pada 23 September 2019.

Lukas berharap warga yang mengungsi ke Jayapura sementara waktu dapat kembali ke Wamena, karena pemerintah dan aparat keamanan menjamin keamanan mereka.

"Saya ingin menyampaikan kejadian di Jayapura maupun Wamena tidak akan terjadi di kabupaten/kabupaten lain di Provinsi Papua. Seluruh komponen anak bangsa yang ada di Papua untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan provokatif, represif, dan tindakan-tindakan yang dapat mencederai rasa kemanusiaan, rasa kebangsaan, rasa keadilan sesama anak bangsa," kata Lukas Enembe. 

Menurutnya, pascademonstrasi rusuh di Wamena yang menyebabkan puluhan orang meninggal dunia dan terluka, situasi di wilayah itu kini berangsur mulai kondusif.

"Saya harap warga kembali beraktivitas di Wamena. Tidak ada tempat bagi mereka yang melakukan kejahatan di Papua," ujarnya.

Sementara itu, gelombang pengungsi dari Wamena ke Jayapura hingga kini mencapai 4500 orang.

Danlanud Silas Papare Jayapura, Marsma TNI Tri Bowo Budi Santoso mengatakan, ada di antara para pengungsi yang di tampung sementara di berbagai lokasi di Jayapura berencana kembali ke kampung halamannya.

"Ada yang akan menggunakan pesawat komersil, sebagian menggunakan kapal laut milik PT Pelni, dan pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara," kata Tri Bowo Budi Santoso.

Danlanud Silas Papare memperkirakan jumlah pengungsi dari Wamena ke Jayapura akan terus bertambah, karena hingga kini masih ada sekitar dua ribuan warga yang minta dievakuasi.

Pengungsi asal Jatim

Para pengungsi asal Jawa Timur yang masih bertahan di Wamena Papua direncanakan akan diterbangkan ke Jawa Timur pada Rabu (2/10/2019). Mereka akan diangkut dengan menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU yang mulai diperbantukan kepada Pemprov Jatim.

"Besok insyaallah akan mendarat melalui Abdurahman Saleh. Ada tiga Hercules, kalau yang lain memang masih disiapkan untuk tanggal 5 Oktober," kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Pawansa pada Selasa (1/10/2019).

Khofifah menjelaskan, para pengungsi itu akan dibagi dalam beberapa kelompok yang diterbangkan dari Wamena menuju Jayapura. Pemprov Jatim  sudah membentuk posko di Jayapura, untuk melakukan pendataan sesuai dengan alamat pengungsi, agar bisa dipulangkan mendekati tempat tujuan mereka.

Khofifah menuturkan, sebagaian besar warga asal Jatim yang di Papua tidak punya KTP, sehingga harus dikelompokkan kembali berdasarkan asal mereka.

"Sekarang yang kita sedang pemetaan melakukan pengadministrasian. Sudah ada posko di Jayapura. Untuk bisa membantu pengadministrasian. Karena sebagian besar tidak punya KTP. Kita data untuk memutuskan apakah mereka gunakan Hercules atau kapal," katanya.

Selain menggunakan pesawat pengangkut, rencananya Pemprov Jatim akan mengangkut para pengungsi menggunakan kapal laut. Pemulangan para pengungsi itu akan dilakukan secara bertahap setelah proses administrasi selesai. Khofifah berharap, nantinya, pemerintah pusat memberikan tambahan armada, mengingat jumlah pengungsi asal Jatim yang bertahan di Papua cukup besar.

Tenaga Kesehatan

Pemerintah menurunkan tim Satuan Tugas Gabungan beranggotakan 30 orang tenaga kesehatan dari Kementerian Kesehatan, TNI, dan Polri untuk menangani korban kerusuhan Wamena, Papua.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan, tim terdiri dari gabungan dokter umum, perawat dan petugas kesehatan lingkungan.

Tim gabungan mulai bekerja sejak 23 September lalu.

"Jadi, oleh karena itu, tenaga kesehatan gabungan, terdiri dari TNI, Polri, dan tentu dari kami, dari sipil dengan leading-nya adalah TNI-Polri. Jadi kami tentu mendukung dan kita akan bekerja sama, sehingga memudahkan, jika semisalnya juga kami izin dengan Pak Panglima, jika diperlukan bahan-bahan seperti obat-obatan dan sebagainya. Kami sudah bisa mengirim atau menitip kepada TNI, menggunakan hercules hingga bisa langsung ke daerah Wamena," kata Nila di Gedung Kemenkes, Senin (30/9/19).

Nila Moeloek menyatakan, Kementerian Kesehatan bersama TNI juga menurunkan kapal rumah sakit KRI Soeharso dengan peralatan dan petugas medis yang lengkap di kawasan lepas pantai.

"Pelayanan kesehatan korban kerusuhan ini tidak hanya terjadi di Wamena, tapi juga di Jayapura," katanya.

Nila menambahkan, selain Tim Satgas Gabungan, terdapat 31 dokter yang sudah bertugas di Wamena sejak sebelum kerusuhan.

"Dokter tersebut masih bersedia tinggal di Wamena hingga masa tugasnya usai," katanya.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Geliat Feminis Membangun Demokrasi

Geliat Feminis Membangun Demokrasi

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13