Begini Cara Anak Muda Kampanye Toleransi Beragama

Isti dan Afra bertekad melawan pengaruh ideologi radikal yang mulai masuk ke dalam kehidupan anak-anak muda

BERITA | AGAMA DAN MASYARAKAT | PILIHAN REDAKSI | NASIONAL

Minggu, 10 Mei 2015 13:00 WIB

Author

Bambang Hari

Begini Cara Anak Muda Kampanye Toleransi Beragama

KBR, Jakarta-Toleransi antarumat beragama bukan hanya menjadi urusan orang-orang dewasa saja. Hal tersebut juga menjadi pekerjaan rumah anak-anak muda sebagai generasi penerus bangsa. Tapi, urusan itu akan menjadi sulit apabila dilakukan dengan cara yang konvensional. Seperti melalui ceramah, diskusi, seminar, talkshow, dan lain-lain. Cara-cara ini kurang menarik minat anak muda yang dinamis dan kreatif. Apalagi isu toleransi dianggap oleh sebagian anak muda sebagai isu yang berat untuk dicerna dan disikapi.

Karenanya, apa  yang dilakukan komunitas CINTA INDONESIA, sebuah komunitas dialog antariman dan antarbudaya dalam mengkampanyekan toleransi cukup memberi warna segar, karena menggunakan cara-cara kreatif dan menyenangkan. April lalu komunitas ini mengadakan gerakan #30 Day Peace Challenge. Ini adalah promosi keberagaman melalui media sosial.

“Hari-hari ini, media sosial seakan sudah lekat dengan kehidupan anak-anak muda. Hampir setiap anak-anak muda—baik itu yang tinggal di kota besar maupun di pelosok memiliki akun jejaring sosial. Fakta ini harus dijadikan celah dalam mengampanyekan gerakan toleransi bagi anak-anak muda,” ucap Isti Toq’ah, dari United for Peace CINTA Indonesia dalam Perbincangan Agama dan Masyarakat di Studio KBR, Rabu(29/4/2015).

Selain itu, ada juga sejumlah kelompok anak muda lain yang memiliki kepedulian mempromosikan hak asasi manusia dan toleransi kepada anak muda dengan cara-cara mereka. Seperti organisasi nirlaba Pamflet. Misalnya, tahun lalu anak-anak muda di Pamflet dan sejumlah lembaga menggelar festival “Beda Itu Biasa”, melalui konser, poster, film, dan lain-lain. Ini cara yang menarik perhatian bagi kalangan muda.

“Menyampaikan pesan kepada anak-anak muda harus disesuaikan dengan gaya yang muda pula. Anak-anak muda masih senang dengan konser, poster, film dan sejenisnya. Itu juga kami jadikan medium untuk menyampaikan pesan toleransi kepada anak-anak muda lainnya,” tutur Afra Suci Ramadhan, pendiri organisasi Pamflet.

Isti dan Afra bertekad melawan pengaruh ideologi radikal yang mulai masuk ke dalam kehidupan anak-anak muda. Sebab ia menilai, banyak anak-anak muda yang awalnya berniat mengikuti pengajian, mendengarkan dakwah, malah justru dikenalkan dengan gerakan-gerakan radikalisme dan fanatisme yang tak masuk akal. “Sehingga banyak anak-anak muda sekarang ini memiliki pandangan yang radikal. Tentu itu bisa mengancam kebhinekaan yang sudah menjadi cirikhas bangsa kita sejak negara ini didirikan,” kata Afra.

Meski begitu, Afra dan Isti pun mengakui, sangat sulit mengampanyekan toleransi dalam kehidupan anak-anak muda. Keduanya mengaku kerap mendapat teror oleh teman-teman sebayanya. Bahkan Isti mengisahkan, sempat terpaksa keluar dari sebuah perkumpulan yang ternyata tidak memiliki ideologi yang sejalan dengan ideologi yang diyakininya.

“Setelah itu, saya sempat dijauhi dan dibenci teman-teman dari perkumpulan tersebut. Tapi saya sadar ini sudah menjadi risiko dari apa yang saya lakukan,” ujar Isti.

Lain lagi yang dialami oleh Afra. Ia sempat mengalami perisakan melalui jejaring sosial twitter. Namun saat itu ia mengaku tetap bergeming dan tidak berusaha menyerang balik pelaku perisakan itu. “Bagi saya, hanya membuang waktu menanggapi hal-hal yang seperti itu. Jadi saya putuskan untuk cuek saja dan terus melakukan kegiatan yang saya yakini,” kata Afra.

Merespon itu keduanya punya cara jitu. Kata Isti dirinya kerap menggandeng ormas-ormas Islam yang dianggap moderat seperti NU dan Muhammadiyah. Ia beranggapan, kedua organisasi tersebut memiliki cabang yang luas di berbagai daerah. Selain itu, NU juga memiliki organisasi sayap yang sepaham dengan apa yang diyakininya. “Cara tersebut juga dapat memberikan ide-ide mengenai apa yang harus kami lakukan dalam mengampanyekan toleransi antar umat beragama,” tutup Isti. 

Editor: Malika 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

AstraZeneca Bakal Gelar Uji Klinis Global Tambahan

Eps12. Masa Depan Restorasi Gambut

Kabar Baru Jam 7

Menyoal Mekanisme Baru Pencairan Dana Bantuan Operasional Sekolah

Bupati Banyumas Larang Hajatan Meski Diprotes