Debat Capres ke-4 Bertepatan dengan “Earth Hour”

Saat Indonesia menggelar Debat Capres ke-4, WWF mengajak warga dunia untuk memadamkan lampu dan alat-alat elektronik selama satu jam penuh. Demi mengingat nasib bumi yang kian rusak.

BERITA , NASIONAL

Jumat, 29 Mar 2019 18:19 WIB

Author

Adi Ahdiat

Debat Capres ke-4 Bertepatan dengan “Earth Hour”

Ilustrasi: Dalam peringatan Earth Hour, warga dunia diminta mematikan lampu serta alat-alat elektronik yang tak terpakai selama 1 jam, mulai dari pukul 20.30 sampai 21.30 waktu setempat. (Foto: Wikimedia Commons/Martin Sanchez).

Debat Capres ronde keempat akan digelar pada Sabtu (30/3/2019) di Hotel Shangri-La, Jakarta. Debat kali ini mengangkat tema seputar ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional.

Sementara debat berlangsung, di waktu yang bersamaan warga dunia juga akan memperingati Earth Hour.

Earth Hour adalah gerakan peduli lingkungan yang dipelopori oleh World Wild Fund for Nature (WWF) sejak tahun 2007 lalu.

Setiap tanggal 30 Maret, WWF mengajak warga di berbagai belahan dunia untuk melakukan aksi pemadaman lampu dan benda-benda elektronik lain selama satu jam penuh.

Aksi ini dilakukan agar bumi bisa “beristirahat” sejenak dari berbagai aktivitas eksploitatif manusia.

“Dari Singapura ke Santiago, dan Nairobi ke New York, jutaan orang akan bersatu, mematikan lampu mereka dan berbicara tentang mengapa alam penting bagi mereka,” tulis Sid Das, Director of Digital Engagement WWF International dalam laman resmi EarthHour.org (27/3/2019).

Menurut Sid, selama satu dekade terakhir gerakan Earth Hour telah berhasil menginspirasi jutaan orang untuk bergabung.

“Ini menunjukkan bahwa jutaan orang di seluruh dunia peduli dengan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, dan setiap orang memiliki peran untuk mengatasi masalah ini,” jelas Sid.


Alam adalah Fondasi Ekonomi dan Mata Pencaharian Kita

Momen Earth Hour 2019 mengangkat tema Connect to Earth. Sid menjelaskan, tema ini dipilih untuk mengingat bahwa sumber ekonomi dan mata pencaharian kita sejatinya bertopang pada bumi serta segala isinya.

“Alam adalah fondasi ekonomi dan mata pencaharian kita. Lalu bagaimana jika kita tidak lagi memiliki alam? Jawabannya tentu mengerikan bagi kita semua,” jelas Sid.

Karena itu, sejak tahun 2007 sampai sekarang komunitas yang terbentuk lewat gerakan Earth Hour terus mempromosikan dan mendorong kebijakan peduli lingkungan di berbagai negara.

Sid mengklaim bahwa gerakan Earth Hour telah membantu menciptakan 3,5 juta hektar kawasan suaka laut di Argentina, serta hutan lindung seluas 2.700 hektar di Uganda.

Gerakan Earth Hour juga diklaim telah mendorong pelarangan plastik di Galapagos pada 2014, menanam 17 juta pohon di Kazakhstan, menerangi rumah-rumah dengan listrik tenaga surya di India dan Filipina, serta mendorong undang-undang baru untuk perlindungan laut dan hutan di Rusia.

Meski demikian, Sid menyebut masih ada banyak tantangan yang harus diatasi demi keberlanjutan lingkungan.

Menurut Living Planet Index yang dilansir WWF, dalam 40 tahun terakhir keanekaragaman hayati di bumi telah menurun secara drastis.

Hal itu disebabkan oleh eksploitasi alam yang berlebihan, serta hasrat konsumsi manusia yang terus meningkat.

(Sumber: www.earthhour.org)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17