Asosiasi Petani Tolak Impor Jagung, Ini Alasannya

"Ini harga masih tinggi. Apa yang terjadi? Impor sudah ada, kok belum turun seperti yang diharapkan."

BERITA | NASIONAL

Selasa, 29 Jan 2019 07:34 WIB

Author

Resky Novianto, Dian Kurniati

Asosiasi Petani Tolak Impor Jagung, Ini Alasannya

Jagung impor dari Brazil di gudang Bulog Surabaya, Kamis (24/01/19). Foto: Antara)

KBR, Jakarta-  Rencana pemerintah membuka keran impor komoditi jagung terus mendapat penolakan dari petani. Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI), Sholehuddin mengatakan jelang panen raya Februari hingga Maret mendatang stok jagung akan melimpah.

Menurutnya, jika sesuai target, produksi tahun ini bahkan diprediksi mencapai 10 juta ton.

"Saya punya keyakinan produksi kita cukup, cuma sebaran jagung memang luas. Dan biasanya ada penumpukan produksi di bulan tertentu seperti Februari, Maret, April. Tidak ada gudang industri atau pemerintah yang bisa menyimpan jagung dalam waktu lama. Jadi managemen penyimpanan itu tidak ada," kata Sholehuddin kepada KBR, Senin (28/1/2019).

Dikatakan Sholehuddin, penanganan pascapanen pada jagung lokal yang kurang optimal menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas jagung lokal dibanding impor.

"Secara riil di lapangan khususnya di musim panen apalagi masuk masa penghujan, memang jagungnya tak sebaik yang jagung impor. Karena sarana prasarana infastruktur kurang optimal. Sampai hari ini petani belum punya, sehingga kualitas memang jauh. Tapi kalau dibilang kualitas kita tak layak untuk pabrik, juga tidak semuanya," katanya.

APJI berharap,  Pemerintah tak hanya fokus pada peningkatan jumlah produksi dan luas lahan, namun juga mulai memikirkan proses pascapanen untuk menjamin kualitas jagung. Selain itu, ia juga berharap Pemerintah bisa mendirikan gudang-gudang untuk penyimpanan jagung petani layaknya komoditi pangan lainnya.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memerintahkan Kementerian BUMN dan Perum Bulog mengecek langsung panen jagung dan perkembangan harganya di berbagai wilayah di Indonesia. Darmin mengatakan, impor tambahan untuk jagung yang mencapai 30 ribu ton awal tahun ini, belum sanggup menurunkan harga jagung, yang mencapai Rp7 ribu per kilogram. Padahal, harga normalnya di bawah Rp4 ribu per kilogram.

Akibatnya, kata Darmin, pemerintah juga sulit mengendalikan harga telur dan daging ayam, karena sangat tergantung pada harga pakannya.

"Ini harga masih tinggi. Apa yang terjadi? Impor sudah ada, kok belum turun seperti yang diharapkan. Ada turunnya, tapi kecil. Harga di peternak petelur, masih tinggi. Padahal kita impor itu dijualnya hanya Rp4 ribu saja. Dengan situasi itu, kita tugaskan Kementerian BUMN, Bulog, cek di lapangan," kata Darmin di kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (23/01/2019).

Darmin mengatakan, Menteri Pertanian telah menjamin produksi jagung sepanjang tahun ini mencapai 1,6 juta ton. Dengan produksi tersebut, kata Darmin, seharusnya suplai jagung di dalam negeri mulai melimpah dan harganya menurun.

Pada akhir 2018, pemerintah juga membuka impor 100 ribu ton jagung, yang hingga kini mulai masuk 74 ribu ton. Sehingga, kata Darmin,  masih akan tiba lagi 26 ribu plus 30 ribu ton jagung ke dalam negeri. Jika produksi jagung di dalam negeri bagus, Darmin meyakini masalah kelangkaan dan mahalnya harga jagung akan segera teratasi.

Sementara itu Perum Bulog belum merealisasikan impor 30 ribu ton jagung, meski telah mengantongi izin dari Kementerian Perdagangan. Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan,  masih menghitung kebutuhan jagung yang sebenarnya dari industri pakan ternak, agar impor itu tak merusak harga jagung saat panen raya Februari mendatang.

Budi mengklaim telah mendatangi beberapa wilayah penghasil jagung untuk menghitung potensi produksinya, plus kebutuhan industri pakan ternak.

"Surat sudah ada di tangan kita, namun kita lihat dulu perkembangannya. Sebetulnya yang dibutuhkan peternak riilnya berapa? Jangan sampai kita berlebihan. Kedua, waktu kami impor, jangan sampai kita bertepatan dengan panen. Kita lihat, kita hitung. Saya selalu berkoordinasi dengan Mentan, dan dinas-dinas pertanian dan peternakan di daerah," kata Budi di kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (24/01/2019).

Budi mengklaim, impor 100 ribu jagung oleh perusahaannya cukup berhasil mengendalikan harga jagung. Sehingga, kata dia, tambahan impor 30 ribu ton jagung juga harus dihitung agar tak mengganggu harga saat panen raya, atau justru langka saat panennya molor.

Budi berujar, tahun ini perusahaannya juga ditugaskan pemerintah untuk menyerap jagung petani sepanjang panen Februari hingga Maret, berbarengan dengan serapan beras. Budi tak mematok target untuk serapan jagung, karena Bulog akan menyerap sebanyak-banyaknya jagung yang harganya jatuh, untuk dibeli sesuai harga pembelian pemerintah Rp3.150 per kilogram.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Pekan Diplomasi Iklim

Pekan Diplomasi Iklim

Kabar Baru Jam 18