Share This

Baru Selesai Dibangun, Jembatan Bondowoso Rp13 Miliar Retak dan Ambles

"Itu bukan retak konstruksi, jadi masih bisa ditangani. Sebenarnya ini memang belum selesai. Kalau yang ambles, memang beberapa hari kan hujan, sementara tanah belum padat benar," dalih Dinas PUPR.

BERITA , NUSANTARA

Senin, 15 Jan 2018 14:43 WIB

Author

Friska Kalia

Baru Selesai Dibangun, Jembatan Bondowoso Rp13 Miliar Retak dan Ambles

Retak-retak di Jembatan Ki Ronggo Bondowoso, Jawa Timur, Senin (15/1/2018). (Foto: KBR/Friska Kalia)

KBR, Bondowoso – Sejumlah titik di sekitar Jembatan Ki Ronggo Bondowoso, Jawa Timur, mengalami retak dan ambles di beberapa bagian. Padahal, jembatan dan beberapa fasilitas pendukung di sekitarnya, baru saja rampung dibangun dengan anggaran mencapai Rp13 milyar.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso membangun Jembatan Ki Ronggo sejak awal 2016 silam. Anggaran proyek itu berasal dari pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) 2016 sebesar Rp9 miliar untuk tahap pertama, ditambah tahap kedua pada 2017 sebesar Rp4 milyar yang berasal dari Bantuan Keuangan (BK) kabupaten Bondowoso.

Jembatan itu sedianya digadang-gadang menjadi landmark baru Kota Bondowoso sebagai 'Suramadu mini', dimana kawasan di sekitar jembatan akan digunakan untuk kawasan kuliner.

Pantauan KBR di Jembatan Ki Ronggo, terlihat sejumlah pekerja tengah membenahi beberapa sisi bangunan yang retak. Kondisi ini terlihat jelas oleh sejumlah warga, yang kemudian merekam dan mengunggah bangunan retak ke media sosial.

Kepala Bidang Perencanaan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Eko Pringgo Jati mengakui telah menerima kabar retaknya sejumlah titik di Jembatan Ki Ronggo. Namun Eko mengatakan keretakan yang terlihat di sekitar area jembatan, bukanlah retak konstruksi.

"Itu bukan retak konstruksi, jadi masih bisa ditangani. Sebenarnya ini memang belum selesai. Kalau yang ambles, memang beberapa hari kan hujan, sementara tanah belum padat benar. Kalau dibilang kesalahan, itu bukan kesalahan. Kami pasti akan menangani ini," kata Eko Pringgo Jati saat ditemui KBR di Kantor Dinas PUPR, Bondowoso, Senin (15/1/2018).

Eko menampik anggapan masyarakat yang mengatakan jika keretakan disebabkan karena gagalnya konstruksi bangunan di sekitar jembatan. Menurut Eko, jika gagal konstruksi, maka akan ada dampak fatal dari bangunan sehingga diperlukan pembangunan ulang. Sementara kondisi yang terjadi di sekitar Jembatan Ki Ronggo masih bisa diatasi.

"Untuk yang retak, akan kami bongkar sepanjang satu meter. Nanti akan kami pasang besi penyanggah melintang. Sementara yang ambles akan kami padatkan lagi. Nanti semua akan kami paving," ujarnya.

Baca juga:

Jembatan Ki Ronggo Bondowoso, menyita perhatian warga pada Agustus 2017 lalu. Kala itu, sisi penahan jembatan sempat ambrol dan melukai tiga pekerja. Kejadian itu dianggap Dinas Pekerjaan Umum Bondowoso sebagai bencana alam. Sementara, BPBD BOndowoso membantah dan menyebut ambrolnya dinding pembatas, merupakan kegagalan konstruksi.

Pada saat itu ada rekomendasi dari Inspektorat yang memerintahkan Dinas PUPR untuk melakukan perbaikan sistem pengawasan internal. Inspektorat menilai selama ini proses pengawasan proyek fisik tidak optimal, karena pengawas yang bertugas justru tidak memiliki kompetensi di bidang proyek fisik.

Selain jembatan, sejumlah sarana prasarana pendukung juga dibangun termasuk sentra wisata kuliner yang rencananya akan ditempati oleh ratusan pedagang yang direlokasi dari Alun–alun Bondowoso.

Berbahaya, PKL Menolak Pindah

Koordinator Pedagang Kaki Lima Alun–alun Bondowoso, Mudjiati mengatakan adanya retak pada sejumlah titik bangunan di Jembatan Ki Ronggo Bondowoso semakin membuat para PKL enggan pindah, meski telah terjadi kesepakatan dengan Pemkab Bondowoso.

Menurut Mudjiati, para PKL seharusnya pindah ke sekitar Jembatan Ki Ronggo pada Senin (15/1/2018) hari ini. Namun ia meminta Dinas Koperasi Perindustrian dan Pedagangan Bondowoso menangguhkan kepindahan para pedagang.

"Pertama, karena adanya retak pada sejumlah titik. Kami khawatir soal keselamatan pedagang dan pengunjung. Kedua, kami mendapat surat penolakan dari warga sekitar agar tak berjualan disana," kata Mudjiati.

Mudjiati mengatakan jika Pemkab Bondowoso tetap memaksa para pedagang untuk menempati lokasi di sekitar Jembatan Ki Ronggo, para PKL menuntut adanya jaminan keselamatan baik berupa asuransi maupun kepastian ganti rugi manakala terjadi bencana di lokasi yang baru.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.