indeks
Protes Menuntut Perbaikan Trotoar Jakarta

Penulis: Ben Westcott

Editor:

Google News
Protes Menuntut Perbaikan Trotoar Jakarta
Indonesia, pejalan kaki, Ben Wescott

Para pejalan kaki di Jakarta punya dua masalah: terjebak kabut asap dan bisingnya jalanan serta menghadapi bahaya saat berjalan kaki di trotoar.

Tahun lalu, data resmi menyebutkan ada 900 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di kota ini, ada banyak lagi yang tak dilaporkan.

Ben Wescott bergabung dengan sejumlah pengunjuk rasa yang menuntut pemerintah memperbaiki trotoar Jakarta.

Berjalan kaki di Jakarta sangatlah sulit. Di trotoar ada pot bunga, selokan yang terbuka dan pengendara sepeda motor. Kadang ini bisa jadi sangat berbahaya.

Pada 22 Januari tahun lalu, sembilan pejalan kaki yang berada di trotoar tewas ditabrak mobil.

Setahun berselang, berlangsung sebuah protes yang menandai peringatan satu tahun peristiwa itu. Aksi ini diharapkan bisa kembali mengangkat isu hak-hak pejalan kaki di trotoar Jakarta.

Sejak itu, muncul seruan agar dibuat Hari Pejalan Kaki secara nasional untuk meningkatkan kesadaran akan keselamatan para pejalan kaki.

Koalisi Pejalan Kaki berada di balik aksi protes ini.

Ahmad Safrudin, dari Koalisi Pejalan Kaki.

“Kami ingin memperingati tanggal ini sebagai momen kami, bagaimana kami ingin memperbaiki kondisi Jakarta agar aman dan nyaman bagi warganya.”

Hujan lebat tidak menghalangi para pemrotes membentangkan poster yang mereka bawa, bertuliskan 'Hormati Pejalan Kaki, Hormati Trotoar kami'.

Anthony Ladjar adalah pendiri Koalisi Pejalan Kaki.

“Ini merupakan klimaks bagi Koalisi Pejalan Kaki karena hari ini kami merayakan Hari Pejalan Kaki. Kita secara resmi tidak punya Hari Pejalan Kaki jadi kami harus mengingatkan pemerintah setiap kali mereka membuat jalan seharusnya juga membuat trotoarnya sekaligus. Hari ini kami katakan kepada pemerintah kalau menjadi seorang pejalan kaki adalah salah satu moda transportasi dan harus diutamakan. Bukan sepeda motor, mobil, atau alat transportasi bermotor.”

Dari 31 ribu orang yang tewas di jalanan Jakarta tahun 2010, lebih dari enam ribu diantaranya adalah pejalan kaki di trotoar.

Pemerintahan baru Jakarta telah mulai memindahkan PKL dari trotoar, agar lebih nyaman bagi pejalan kaki.

Meski begitu, pemerintah Jakarta mengklaim hanya 20 persen dari trotoar kota yang memenuhi standar keselamatan.

Marco Kusumawijaya adalah pendiri Rujak Center for Urban Studies.

Dia salah satu orang pertama yang mengusulkan ide Hari Pejalan Kaki, menanggapi kecelakaan maut yang terjadi tahun lalu.

Satu tahun berlalu dan kata dia, apa yang dilakukan pemerintah belum lah cukup.

“Pertama, mereka harus benar-benar menggerakkan personel keamanan untuk menegakkan hukum yang sudah ada. Bahwa  pejalan kaki punya hak dan mereka tidak boleh terancam oleh pengendara motor, dan lain-lain. Pemerintah harus membangun trotoar yang baik dan bermutu di seluruh kota. Tapi di atas semua itu, pejalan kaki berjalan karena mereka menggunakan transportasi umum. Sekarang orang Jakarta kebanyakan paham soal pentingnya transportasi umum dan ini waktu yang tepat untuk membangun fasilitas pejalan kaki yang baik, dalam hubungannya dengan sistem transportasi umum yang baik.”

Yati, 51 tahun, sedang menganyam sebuah kursi rotan saat berbincang dengan kami.

Ia menjual perabotan di tepi Jalan Pramuka yang sibuk dan ia mengaku tak ambil pusing dengan nasib pejalan kaki.

“Ya nga ada tempat lagi. Ya jadi terpaksa di jalan sini. Ya sebenarnya nga boleh jualan cuma kontrak sama koramil. Ya terpaksa hahaha...ya kalau jalan asale lewat depan kan, kan di sini pinggiran.”

Tapi Sainan, seorang satpam berusia 39 tahun, mendukung ide membangun trotoar yang lebih baik di Jakarta.

“Untuk pejalan kaki ni masih kurang terjamin siy Buk. Karena trotoarnya masih dijalani motor-motor. Masih bisa naik motor-motor. Jadi untuk pejalan kaki ini ibaratnya belum terjamin lah keselamatannya. Untuk penambahan pelebaran jalan lagi lebih bagus karena untuk pelebaran itu kan trotoar untuk pejalan kaki masih terjamin la untuk keselamatannya.”

Indonesia
pejalan kaki
Ben Wescott

Berita Terkait


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Loading...