indeks
Diskusi Media Soroti Capaian Program HIV Nasional dan Tantangan Menuju Target Global 2030

Diskusi yang melibatkan media dan berbagai pihak mengulas dinamika penanganan HIV di Indonesia, dari kemajuan layanan hingga tantangan sosial dan kebijakan yang perlu direspons bersama

Penulis: Khaira Athaya

Editor: Don Brady

Audio ini dihasilkan oleh AI
Google News
Diskusi Media Soroti Capaian Program HIV Nasional dan Tantangan Menuju Target Global 2030

Jakarta, 22 Desember 2025 — Upaya Indonesia dalam menanggulangi epidemi HIV/AIDS masih menghadapi tantangan serius meskipun sejumlah capaian telah diraih. Hingga akhir 2023, Kementerian Kesehatan RI mencatat peningkatan kasus infeksi HIV baru dengan proyeksi lebih dari 515 ribu kasus pada periode Januari–September 2023. Namun demikian, baru sekitar 40 persen orang dengan HIV (ODHIV) yang telah mengakses pengobatan antiretroviral (ARV).

Kondisi tersebut menjadi latar belakang terselenggaranya Diskusi Media: Capaian Program Nasional HIV AIDS dan Tantangan Mencapai Target Global 2030 dengan tema “Menguatkan Respons HIV 2025, Peran Media dalam Mendorong Aksi dan Mengurangi Stigma”. Forum ini mempertemukan jurnalis dan para pemangku kepentingan untuk membahas perkembangan program, hambatan yang dihadapi, serta peran strategis media dalam percepatan respons HIV nasional.

Target Global Triple 95 dan Tantangan Struktural

Indonesia berkomitmen mencapai target global Triple 95 pada 2030, yakni 95 persen ODHIV mengetahui statusnya, 95 persen dari mereka yang terdiagnosis mendapatkan terapi ARV, dan 95 persen dari mereka yang menjalani terapi mencapai supresi virus. Pencapaian target ini dinilai krusial untuk menekan penularan HIV sekaligus meningkatkan kualitas hidup ODHIV.

Dalam diskusi, para narasumber menyoroti berbagai tantangan struktural, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah, masih kuatnya stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV, hingga dampak krisis pendanaan global yang berpotensi mengganggu keberlanjutan program HIV dan AIDS. Situasi ini menuntut transformasi pendekatan, kebijakan, serta pendanaan agar Indonesia tetap berada di jalur pengakhiran AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030.

Peran Media Kunci Kurangi Stigma dan Dorong Aksi

Menegaskan peran strategis media, Lely Wahyuniar, Strategic Information Advisor UNAIDS Indonesia, menyampaikan bahwa media merupakan elemen kunci dalam respons HIV nasional. Menurutnya, media massa dan digital memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik, mengurangi stigma, serta mendorong aksi nyata di berbagai level.

Dari sisi komunitas, suara ODHIV menegaskan bahwa stigma masih menjadi hambatan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hartini, seorang ODHIV, menekankan bahwa yang dibutuhkan bukanlah perlakuan khusus, melainkan kesetaraan dalam mengakses layanan publik tanpa diskriminasi.

Para pembicara sepakat bahwa pemberitaan yang akurat, berimbang, dan berperspektif hak asasi manusia mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, memperkuat dukungan kebijakan, serta memastikan keberlanjutan respons HIV. Diskusi ini menjadi semakin relevan dalam momentum peringatan Hari AIDS Sedunia dan tantangan global 2025, ketika disrupsi pendanaan internasional mengancam layanan HIV.

Melalui forum ini, diharapkan terbangun kesepahaman yang lebih kuat antara media dan pemangku kepentingan, serta meningkatnya komitmen media untuk menghadirkan pemberitaan yang beretika dan berdampak dalam mendukung pencapaian target nasional dan global HIV/AIDS menuju 2030.

Baca juga : Takut Menikah? Ini Masukan Relationship Coach Lex DePraxis buat Gen Z

HIVNasional
TargetHIV2030
DiskusiMedia


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Loading...