indeks
Dirut Jamsostek: Pekerja Formal dan Informal Tetap Dapat Hak yang Sama

KBR68H, Jakarta - Hajatan besar pemberlakuan Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, akan sedikit banyak mengubah wajah Jamsostek. Komandan perusahaan ini, Elvin G Masassya harus mengatur peralihan agar berjalan mulus, sekaligus menyusun stra

Penulis: Airlambang

Editor:

Google News
Dirut Jamsostek: Pekerja Formal dan Informal Tetap Dapat Hak yang Sama
dirut jamsostek, elvyn masyasya, pekerja informal

KBR68H, Jakarta - Hajatan besar pemberlakuan Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, akan sedikit banyak mengubah wajah Jamsostek. Komandan perusahaan ini, Elvyn G Masassya harus mengatur peralihan agar berjalan mulus, sekaligus menyusun strategi lanjutan agar investasi dana pekerja makin moncer.

Reporter Alif Imam berbincang dengan penyanyi dan pencipta lagu beraliran jazz ini, tentang segudang Jamsostek yang tahun ini berinvestasi 20 triliun. Kita simak sarapan bersama  Elvyn G Masassya persembahan KBR68H, Tempo TV dan PortalKBR.com

Jamsostek kemarin masuk pasar modal begitu besar, apa pertimbangannya? aksi-aksi Jamsostek semacam ini bagaimana menceritakan kepada para pekerja bahwa ini memberi untung buat mereka?

Jamsostek itu berinvestasi berdasarkan koridor. Ada aturan pemerintah yang mengatur jenis-jenis instrumen apa saja yang boleh dilakukan Jamsostek. Salah satu instrumen yang dibolehkan adalah saham dan tentu ketika peraturan mengatakan boleh di instrumen itu, kami sebagai profesional yang mengelola dana pekerja harus mengalokasikan sedemikian rupa dengan harapan pengelolaan ini akan memberikan return yang baik bagi para pekerja. Karena seluruh hasil investasi itu nantinya akan dikembalikan kepada para pekerja yang memiliki dana. Ketika kami memasuki pasar modal ini bukan hal yang baru, sudah dilakukan sejak beberapa tahun dan strategi masuk ke pasar saham itu tentu selain berdasarkan prospek sahamnya juga soal timing.
 
Gambarannya seperti apa? Bunga yang diperoleh itu sebetulnya tetap tidak bergantung naik turunnya profit ya?

Tidak. Jadi salah satu program Jamsostek itu adalah Jaminan Hari Tua, untuk Jaminan Hari Tua menjadi cukup signifikan maka akumulasi iuran itu harus diinvestasikan. Investasi ini kemudian memberikan return atau imbal hasil yang nanti di-top up di dalam account masing-masing pekerja yang ketika mereka akan ambil jumlahnya akan sangat besar. Ini yang kita sebut dengan kesejahteraan pekerja. Selama lima tahun terakhir kami bisa berikan double digit, di atas 10 persen.

Untuk pekerja?

Untuk pekerja.

Berarti kami kaum pekerja harus selalu melihat neraca keuangan Jamsostek ya?

Harus begitu. Kami memang transparan dalam hal ini, bukan cuma dalam laporan keuangan setiap periode tertentu tapi sekarang para pekerja boleh cek saldonya baik itu melalui website Jamsostek atau melalui call center kita dan sebagainya. Jadi prinsip kami sebenarnya empat dalam pengelolaan Jamsostek ini, pertama memberikan perlindungan kepada pekerja (protection), kedua memberikan prosperity atau kesejahteraan, ketiga dikelola berdasarkan integrity, dan keempat sustainability. Artinya investasi yang dilakukan itu harus sustain dalam jangka panjang. 


Jamsostek tiap tahun memiliki keuntungan yang cukup besar ya? 


Kami pertama melihatnya dalam mengalokasikan investasi kita memiliki satu strategi yang disebut Strategic Assets Allocation. Dari seluruh total dana kelolaan kita dialokasikan sekian persen ke deposito, sekian persen ke obligasi, sekian persen ke saham, sekian persen ke reksadana, properti dan penyertaan. Alokasi ini tentu didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan profesional, assets allocation ini kita review setiap tiga bulan. Jangan lupa bahwa tidak semua saham bisa kita beli, tidak semua saham boleh kita beli, kami hanya masuk pada saham-saham yang memenuhi kriteria.

Jamsostek akan meng-cover juga para pekerja informal. Apa di balik gagasan itu?

Ini sebenarnya amanah Undang-undang. Bahwa basis filosofi dari semua ini keberadaan sebuah negara adalah menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Bagian dari rakyat itu adalah pekerja, ada pekerja formal dan ada pekerja informal. Dasarnya adalah bagaimana para pekerja ini paling tidak bisa meminimalisir resiko-resiko sosial dan resiko finansial yang mereka hadapi sekarang maupun nanti. Tugas membantu mengatasi masalah-masalah resiko itu ada di Jamsostek sebagai sebuah lembaga yang mengelola jaminan sosial. Oleh karena itulah sesuai dengan Undang-undang No. 24 Tahun 2011 ketika kami nanti menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kami juga akan meng-capture para pekerja informal untuk menjadi peserta Jamsostek, mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan melalui program-program yang kami akan laksanakan nantinya. Mulai sekarang pun sudah kami laksanakan tapi nanti akan bertambah program yang baru. Saat ini Jamsostek mengelola empat program yaitu Jaminan Hari Tua, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.

Tentang pekerja informal itu bagaimana kemudian menjamin keberlanjutan premi mereka?

Tentu ada beberapa kriteria-kriteria. Misalnya iuran yang dipungut itu untuk pekerja informal didasarkan atas UMP di setiap daerah. Lalu kemudian untuk menjangkau mereka tentu kami harus lakukan sosialisasi, pendekatan. Oleh karena itu lembaga ini berubah dari yang sebelumnya product driven menjadi need driven, sebelumnya lembaga yang pasif administratif sekarang lembaga yang customer centric. Kami lakukan sosialisasi dimana-mana dan dalam rangka itu kapabilitas perusahaan ditingkatkan, misalnya kami buka outlet di seluruh kabupaten/kota dan tahun ini baru dua bulan lalu kami sudah menambah 512 outlet selain kantor cabang sebanyak 127 ini dalam rangka meng-capture pekerja-pekerja informal yang ada di seluruh Indonesia.
 
Tapi kesehatan akan dialihkan ke Askes?

Iya  1 Januari 2014 program Jaminan Kesehatan akan dilaksanakan oleh Askes. Tapi mulai 1 Juli 2015 kami akan menyelenggarakan program pensiun untuk pekerja non pegawai negeri, non TNI. 


Benefitnya buat para pekerja informal apakah sama?


Siapapun itu pekerja formal atau informal tetap mendapatkan hak yang sama. Kalau dia menjadi pekerja yang ikut peserta Jaminan Hari Tua tentu bergantung akumulasi iuran dia plus pengembangan. Kalau dia kecelakaan kerja tentu mendapatkan manfaat yang sama dengan pekerja yang lain, kematian juga demikian. Karena tujuan kami memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi pekerja formal maupun informal.

Ada dana yang selama ini dikelola oleh Jamsostek berkaitan dengan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan sekarang dialihkan ke Askes. Pekerja membayangkan ada dana yang akan “terbang” bagaimana? 


Jangan lupa bahwa program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan, Jaminan Jaminan Kecelakaan Kerja atau Jaminan Kematian itu disebut program jangka pendek. Jadi mereka membayar iuran lalu mereka mendapat manfaat dari itu. Ketika menjadi peserta Jamsostek mereka membayar iuran di Jamsostek dan mendapat manfaatnya dari Jamsostek. Iuran ini dibayarkan setiap bulan dihitung per tahun, kalau tahun itu bayar iuran maka tahun tersebut dapat manfaat. Kami akan serahkan mereka tahun 2013 ini ke Askes, berarti akan mulai iuran baru akan mendapat manfaat yang baru disana. Tidak ada kaitannya dengan aset-aset yang sekarang dikelola oleh Jamsostek karena program JPK ini adalah program jangka pendek.
 
Tapi sebetulnya iuran kami untuk kesehatan itu memang sudah berakhir di 2013?

Iya iuran yang dibayar berakhir 2013 dan itu kita kembalikan pada pekerja dalam bentuk manfaat tambahan.

Cukup utama ya Jamsostek dalam Badan Pengelola Jaminan Sosial ya?
 
Undang-undang mengatakan nanti akan ada dua BPJS. Satu BPJS ketenagakerjaan yang sekarang Jamsostek, satu lagi BPJS kesehatan yang sekarang Askes. Tentu untuk mengeksekusi semua ini selain melakukan kesiapan organisasi harus ada aturan turunan dari Undang-undang, yaitu Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden.  


Apakah kemudian Jamsostek memiliki kompetitor yang cukup kuat di Indonesia?

Jamsostek adalah sebuah lembaga yang ditunjuk berdasar Undang-undang. Jadi ketika ditunjuk berdasar Undang-undang tentu tidak memiliki kompetitor, kompetitornya adalah mindset dari pekerja dan pengusaha bahwa menjadi peserta Jamsostek itu kebutuhan, bukan biaya. How to change the mindset itulah kompetitornya.

Misalnya kena biaya tiap bulan ya?

Itu yang saya sebut change the mindset. Padahal seperti anda apakah uangnya hilang, uangnya bahkan bertambah ketika membayar iuran lima tahun lalu mungkin Rp 1 juta sekarang mungkin nilainya Rp 5 juta, itu kan bukan cost tapi investasi.
 
Anda masih menulis?

Inginnya menulis terus tetapi tentu harus berbagi waktu, sekarang satu bulan dua kali saja pada satu media nasional.
   
Masih tetap pada menjaga kolom investasi itu ya?

Bagian dari hobi.
 
Kalau nyanyi bagaimana?

Itu juga masalahnya. Kadang-kadang kalau kita ambil pilihan sebagai profesional, maka waktu itu adalah hal yang sangat mewah dan kita harus berani tidak menempatkan kepentingan kita di depan. Tetapi saya masih menikmati kalau ada festival jazz ya luangkan waktu nonton.

Editor: Doddy Rosadi

dirut jamsostek
elvyn masyasya
pekerja informal

Berita Terkait


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Loading...