Bagikan:

TII Sebut Praktik Suap Layanan Polri Ranking 4 di Asia

Praktik suap di layanan Polri bahkan berada di urutan empat negara Asia yang survei, di bawah Taiwan, Thailand, dan India.

NASIONAL

Selasa, 07 Des 2021 19:00 WIB

TII Sebut Praktik Suap Layanan Polri Ranking 4 di Asia

Ilustrasi spanduk stop pungli. (Foto: ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho)

KBR, Jakarta - Lembaga Transparency International Indonesia (TII) menyebut praktik suap di Indonesia paling banyak terjadi di layanan kepolisian. Itu terungkap dari hasil survei Global Corruption Barometer (GCB) pada 2020. 

Peneliti TII Izza Akbarani mengatakan, praktik suap di layanan Polri bahkan berada di urutan empat negara Asia yang survei, di bawah Taiwan, Thailand, dan India.

"Dan di data suap layanan kepolisian kita di 17 negara Asia, ternyata Indonesia masuk di empat besar dengan nilai 41. Bahwasanya memang suap di layanan kepolisian ini patut menjadi perhatian kita. Bahwa ternyata Indonesia masuk dalam lima besar tingkat suap layanan yang terjadi di lembaga kepolisian. Berarti PR sekali bagi kepolisian untuk terus mengawasi terjadinya pungutan-pungutan ataupun suap yang terjadi di lembaga mereka," kata Izza Akbarani dalam diskusi daring, Selasa (7/12/2021).

Baca juga:

Peneliti TII Izza Akbarani menjelaskan, ada beberapa bentuk dan alasan suap masih kerap terjadi. Mulai dari tanda terima kasih, sengaja diminta membayar jasa yang tidak resmi, hingga ditawari agar membayar supaya proses lebih cepat.

"Ini mengindikasikan bahwa ternyata masyarakat kita masih permisif terhadap suap yang memang diminta oleh petugas layanan yang itu masuk dalam pungutan liar," ujarnya.

"Dan ketika mereka ditawari untuk membayar suap demi proses yang lebih cepat, ternyata masyarakat kita masih menganggap wajar hal tersebut terjadi," imbuhnya.

Maraknya praktik suap atau pungli ini juga terjadi karena birokrasi yang lambat dan bertele-tele. "Ternyata iklim administrasi kita masih tidak sehat," sebutnya.

Namun di masa pandemi, praktik suap di Indonesia mengalami penurunan. Sekitar 97 responden mengklaim tidak pernah memberi suap.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Memuja Idola Sampai Sebegitunya

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Most Popular / Trending