Bagikan:

Ekonom: Target Investasi Rp1,2 Triliun di 2022 Sulit Dicapai

"Memang Rp1,2 triliun itu memang significantly lebih tinggi dibanding tahun ini. Susah memang untuk dicapai, saya bisa bilang begitu. Saya tidak bilang tidak mungkin, tapi itu memang sangat susah"

NASIONAL | KABAR BISNIS

Jumat, 24 Des 2021 16:33 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: realisasi investasi (04/11/21). (Foto: Antara)

Ilustrasi: realisasi investasi (04/11/21). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Lembaga kajian ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia meragukan target realisasi investasi yang dipatok sebesar Rp1,2 triliun pada tahun depan.

Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal mengatakan, target investasi tersebut, menurut dia justru jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan investasi sebelum pandemi, dan sulit dicapai.

"Jadi memang Rp1,2 triliun itu memang significantly lebih tinggi dibanding tahun ini. Susah memang untuk dicapai, saya bisa bilang begitu. Saya tidak bisa bilang tidak mungkin, tapi itu memang sangat susah. Dari sekarang saja, itu sudah Rp900an triliun. Berarti kalau tidak salah naiknya sangat signifikan dari target tahun ini. Tapi bukan berarti tidak mungkin, hanya saja memang sangat susah," kata Mohammad Faisal kepada KBR, Jum'at (24/12/2021).

Baca Juga:

Faisal menyebut, sejauh ini belum tampak faktor-faktor yang menjadi penguat pertumbuhan investasi di Indonesia. Pengendalian pandemi yang sudah terkendali di 2022 tidak cukup menjadi alasan untuk mencapai target itu. 

Apalagi, saat ini pelaku usaha tengah menanti revisi terhadap UU Cipta Kerja oleh DPR dan pemerintah selama kurun waktu dua tahun ke depan.

"Misalkan sekarang ada UU Cipta Kerja yang kita tahu ada keputusan MK terakhir harus ditinjau ulang kembali ada waktu improvement dalam waktu dua tahun. Saya rasa sebagian investor itu sebagian akan wait and see terhadap hasil follow up keputusan MK tersebut," imbuhnya.

Menurut Faisal, kualitas investasi lebih utama dibanding jumlah investasi yang masuk ke dalam negeri. Jika investasi banyak yang masuk, tetapi dari deal perjanjian banyak yang merugikan, maka investasi yang bergulir itu tidak berkontribusi maksimal terhadap ekonomi domestik.

Capaian investasi menurut dia harus sejalan dengan peningkatan serapan tenaga kerja lokal, khususnya untuk lingkup blue collar worker. Selain itu, lanjutnya, pemerintah perlu menyoroti soal harga yang diberikan kepada negara tujuan ekspor.

Dia mencontohkan, Indonesia sudah mengalami kerugian pada kegiatan ekspor bijih nikel. Menurut Faisal, sejumlah perusahaan investor membeli olahan nikel setengah jadi dengan harga yang sangat murah, hanya setengah atau sepertiga lebih murah dibandingkan harga internasional.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?