Bela Buku Kiri, Menteri Luhut: Harus Ada Expert Komunis Dong

"Nanti lama-lama kita jadi bodo. Harus ada expert komunis dong," kata Menko Polhukam Luhut Panjaitan.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 20 Mei 2016 17:25 WIB

Author

Ria Apriyani

Bela Buku Kiri, Menteri Luhut: Harus Ada Expert Komunis Dong

Menteri Koordinator Politik Hukum Keamanan Luhut Binsar Panjaitan. (Foto: www.setkab.go.id/Domain Publik)

KBR, Jakarta - Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan menolak ada pemusnahan buku berisi pemikiran kiri.

Luhut mengatakan buku kiri atau buku-buku yang berisi sejarah komunisme harus dipertahankan untuk tujuan pengetahuan.

Menurut Luhut, tindakan pemusnahan buku kiri menunjukan ketakutan berlebihan terhadap pemikiran kiri.

"Masa hak akademis nggak boleh orang mengkaji. Nanti lama-lama kita jadi bodo. Kita nggak tahu komunis itu mana tiba-tiba masuk aja. Harus ada expert komunis dong. Kita juga jangan terlalu paranoid. Nanti kayak Amerika paranoid-paranoid soal terorisme. Jangan gitu juga. Ketahanan kita sendiri yang harus menjelaskan, mana sih komunis yang sukses?" jelas Luhut di Jakarta, Jumat (20/5/2016).

Luhut mempersilakan komunisme dibicarakan di lingkungan akademis. Ia menegaskan, paham komunisme sudah dilarang melalui Tap MPRS No.XXV/1966 yang pelaksanaannya sudah diperbaiki di Tap MPR No.I/2003. Namun, menurut Luhut, bukan berarti pengetahuan mengenai pemikiran kiri harus dihanguskan.

(Baca: Buku Kiri, Menhan: Yang Punya, Serahkan! )

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Perpustakaan Nasional RI Dedi Junaedi sempat mendukung pemusnahan buku-buku pemikiran kiri yang dilakukan TNI. Namun, pernyataan itu sudah diralat setelah mendapat teguran dari Istana.

(Baca: Istana: Kepala Perpustakaan Nasional Overdosis! )

Dedi memastikan buku-buku pemikiran kiri aman disimpan di Perpustakaan Nasional. Perpustakaan itu mengoleksi sekitar 500 judul buku pemikiran kiri yang bebas diakses publik.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun