Bagikan:

Pemerintah Pasang Perisai Udara Skyshield di Natuna

Sistem pertahanan udara berbasis kanon ini akan dipasang di tengah krisis batas wilayah Laut Cina Selatan

BERITA | NASIONAL | NASIONAL | BERITA | NASIONAL

Kamis, 07 Apr 2016 16:18 WIB

Author

Agus Lukman

Pemerintah Pasang Perisai Udara Skyshield di Natuna

Senjata pertahanan udara Skyshield 35 mm MK-2 buatan Swiss milik TNI AU. (Sumber: TNI AU)

KBR- Pemerintah Indonesia dikabarkan akan memasang sistem perisai udara Skyshield buatan Swiss di Kepulauan Natuna.

Sistem pertahanan udara berbasis kanon ini akan dipasang di tengah krisis batas wilayah Laut Cina Selatan, dimana Indonesia baru-baru ini bertikai dengan Cina terkait dengan kapal negara Tirai Bambu itu yang dianggap melanggar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Oerlikon Skyshield merupakan meriam anti-rudal atau anti-pesawat otomatis. Walaupun menggunakan kanon tunggal, namun Skyshield memiliki putaran tembakan 1000 putaran per menit.

Alutsista ini merupakan buatan perusahaan senjata Rheinmentall di Swiss. Sejak tahun lalu, Oerlikon Skyshield merupakan alat pertahanan udara andalan TNI AU. Saat ini sistem pertahanan Oerlikon Skyshield telah dipasang di Pangkalan Udara TNI AU di Supadio Pontianak, Halim Perdanakusuma Jakarta dan Pangkalan Udara Hasanuddin Makassar.

Kabar itu dilansir majalah minguan Jane's Defense terbaru yang terbit Kamis ini. Majalah itu mendapatkan kabar itu dari transkrip pertemuan antara Panglima TNI Gatot Nurmantyo dengan Komisi Pertahanan DPR.

Menurut laporan media tersebut, empat alutsista itu akan dikerahkan ke Pulau Natuna Besar, dekat pangkalan militer Ranai. TNI AU menyiapkan empat tim pasukan elit dari Korps Pasukan Khas (Kopaskhas) untuk diberangkatkan ke Natuna Besar.

TNI juga meminta DPR menyetujui anggaran tambahan untuk pengadaan sistem pertahanan udara jarak menengah untuk Pulau Natuna Besar, pengadaan pesawat tempur untuk memperkuat Pangkalan Udara Ranai sekitar delapan pesawat seperti Sukhoi Su-27, Sukhoi Su-30 atau F16.

Selain itu TNI juga meminta DPR menyetujui pengadan skadron pesawat nirawak (UAV) yang akan berbasis di Pangkalan Udara Ranai, Natuna, Kepulauan Riau. Pesawat tempur dan pesawat UAV diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp1,2 triliun. Jika permintaan disetujui DPR, pengadaan alutsista itu diperkirakan beres 2019.

Pemerintah Indonesia memang mepertimbangkan untuk memperkuat dan memperluas kehadiran militer mereka di Kepulauan Natuna, sejak 2015 lalu. Cina memang mengakui zona ZEE Indonesia. Namun insiden diplomatik antara kapal patroli Indonesia dengan kapal penjaga pantai Cina baru-baru ini di dalam perairan Indonesia dekat Natuna mengganggu Indonesia.

Sebelumnya, Cina juga sudah memasang sistem pertahanan udara bergerak di Pulau Woody di kepulauan Paracels. Di sisi lain, marinir Vietnam juga mulai rutin melakukan patroli air dengan kapal selam. (www.janes.com/Maritime Executive)


Editor: Rony Sitanggang
 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Upaya Pemerintah Mengatasi KLB Polio

Most Popular / Trending