Tokoh NU: Festival Belok Kiri Bukan Ancaman

Polisi tak mengizinkan acara itu berlangsung. Namun panitia tetap menyelenggarakannya dengan memindah lokasi dari Taman Ismail Marzuki ke LBH Jakarta

, BERITA , NASIONAL

Sabtu, 27 Feb 2016 20:05 WIB

Author

Eli Kamilah

Tokoh NU: Festival Belok Kiri Bukan Ancaman

Logo (@BelokKiri_Fest)

KBR, Jakarta- Pelarangan kegiatan Belok Kiri Fest hari ini di Taman Ismail Marzuki TIM berlebihan. Pengurus PBNU, Imam Aziz mengatakan kegiatan Belok Kiri Fest bukan ancaman nasional. Kegiatan itu hanya berisikan kebudayaan. Kata dia seharusnya Kepolisian dan pihak TIM, tidak membesar-besarkan festival tersebut, hanya karena ada pihak-pihak yang keberatan dengan Belok Kiri Fest.

"Apa yang dipersoalkan sebetulnya. Ini kan ekspresi kebudayaan. Kita kan punya acara kebudayaan. Jadi kalau kita bersikap adil, biarkan itu berkembang," kata Imam kepada KBR, Sabtu (27/2)

Belok Kiri Festival adalah sebuah ajang pameran kritik terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia dan kekerasan. Acara itu akhirnya batal karena tak mendapat izin dari kepolisian setempat. Namun acaranya tetap digelar di Lembaga Bantuan Hukum LBH Jakarta. 

Sebelumya sejumlah kelompok masyarakat mengancam membubarkan acara itu secara paksa. Mereka berpendapat Belok Kiri Festival sarat muatan komunisme.

Belok Kiri Fest mengusung tema Menolak Propaganda Orde Baru. Mereka menilai meski Orde Baru sudah runtuh sejak 1998 yang lalu, namun praktik-praktik yang berbuah Orde Baru masih terus subur di Indonesia. Praktik-praktik itu yakni pelanggaran HAM, kekerasan negara terhadap masyarakat, ketidak-adilan sosial, diskriminasi, pembelokkan sejarah, dan lainnya. Panitia menyebut, festival bertujuan untuk membuka mata masyarakat akan betapa salahnya propaganda anti sejarah dari Orde Baru yang menempatkan gerakan kiri, komunisme dan sosialisme dalam arti tertentu sebagai momok yang menakutkan.  

Editor: Dimas Rizky

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Eps.6: Kuliah di Perancis, Cerita dari Dhafi Iskandar

Insiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarkat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak

Inisiatif Masyarakat untuk Wujudkan Hunian yang Layak