Dokter Sarankan Stop, Petani Kendeng Bersikeras Lanjutkan Semen Kaki di Depan Istana

"Saya tidak takut. Mikirnya sih, jangan sampai dibongkar. Saya pengennya sampai ketemu Bapak Presiden,"

Senin, 20 Mar 2017 10:33 WIB

Aksi semen kaki di depan Istana. (Foto: KBR/Ade I.)


KBR, Jakarta- Lima puluhan petani Kendeng yang dicor kakinya tetap bertekad meneruskan perjuangan mereka, sampai Presiden Joko Widodo mengabulkan tuntutan mereka.  Jumat lalu,  dokter RSCM Jakarta menyarankan untuk menghentikan aksi tersebut, karena mengancam kesehatan.

Salah satu petani, Roso menegaskan aksi dihentikan  sampai bekas Wali Kota Solo itu mau bertemu dengan Petani Kendeng. Pemasungan ini, ujar Roso adalah bentuk protes dan perlawanan, terhadap upaya perusakan lingkungan karena tambang.

Roso menambahkan kakinya memang sempat dingin, karena aliran darah tidak mengalir. Namun, itu hilang dengan cepat, setelah istirahat penuh pasca aksi.

"Saya di Semen hari kedua. Hari Kedua di ngarep (depan) di gedung (Istana) sana. Kondisinya saya sehat. Tapi memang hari ketiga di sini di cek kurang sehat, sejak jam 6. Tapi memang jam 7 di cek lagi sudah normal lagi. Saya tidak takut. Mikirnya sih, jangan sampai dibongkar. Saya pengennya sampai ketemu Bapak Presiden," ujarnya kepada KBR, Senin (20/03).

Para petani Kendeng, saat ini masih bertahan di LBH Jakarta. Mereka dibantu para puluhan relawan dalam beraktivitas.

Hari ini, puluhan petani itu akan kembali turun untuk melakukan aksi di depan Istana Merdeka.  Aksi "Dipasung Semen" yang memasuki hari kedelapan tersebut hadir  untuk menagih janji Jokowi, menunda segala izin pertambangan di Jawa Tengah sebelum Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Pegunungan Kendeng rampung.  

Aksi yang akan dimulai siang nanti juga akan diwarnai pengecoran kaki sejumlah aktivis. Salah satunya dari aktivis HAM, Dita Caturani. Dita berujar penyemenan kakinya sebagai bentuk solidaritas terhadap petani Kendeng. Aksinya, juga untuk memprotes tuduhan beberapa kalangan yang menuding ada upaya ekspolitasi perempuan dari petani-petani Kendeng Lestari.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!