Bantu Kendalikan Harga, Petani di Malang Rela Jual Cabai Setengah Harga

Ketua Kelompok Tani Gemah Ripah, Yiguantoro mengatakan mereka menjual cabai hingga setengah harga, karena selama ini mereka sudah sering mendapat bantuan alat dan mesin pertanian dari pemerintah.

Kamis, 12 Jan 2017 10:35 WIB

Petani memanen cabai rawit di Kediri Jawa Timur, Kamis (5/1/2017). (Foto: ANTARA)


KBR, Malang - Para petani cabai di Desa Purworejo, Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur rela menjual cabai dengan harga murah.

Harga cabai petani yang sudah tembus sekitar Rp80 ribu, dijual seharga Rp35 ribu per kilogram. Cabai itu dipasok ke Perum Bulog dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) untuk didistribusikan ke Jakarta. Cabai dijual untuk operasi pasar.

Kalangan petani itu rela menjual murah cabai mereka untuk membantu pengendalian harga cabai di sejumlah daerah. Pada tahap pertama petani mengirim dua ton cabai rawit. Para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Gemah Ripah itu menyiapkan lahan cabai seluas 30 hektare.

Baca juga:


Ketua Kelompok Tani Gemah Ripah, Yiguantoro mengatakan mereka menjual cabai dengan harga setengah harga, karena selama ini mereka sudah sering mendapat bantuan alat dan mesin pertanian dari pemerintah.

Di samping itu, para petani juga mendapat bantuan pupuk dan pestisida hayati dari pemerintah. Apalagi, kata Yiguantoro, biaya produksi cabai saat ini sebesar Rp6 sampai Rp7 ribu per kilogram sehingga petani masih untung.

"Pertama kami diminta. Karena imbal balik yang dikasihkan. Akhirnya oke lah. Diukur dengan BEP Rp6 ribu, jadi masih ada sisa 24 ribu. (Harga) di kisaran petani petani saat ini masih tinggi Rp70 ribu sampai Rp80 ribu," kata Yiguantoro.

Total luas ladang cabai di Kabupaten Malang mencapai 4.200 hektare. Total produksi per tahun sekitar 63 ribu ton.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1