Pendiri Komunitas Xtra-Large, Ririe Bogar. Foto: Randyka Wijaya


KBR, Jakarta - “Awalnya kenapa saya ambil modeling karena awalnya modeling adalah satu bidang yang menurut banyak orang tidak mungkin dilakukan oleh perempuan plus size. Kenapa saya ngambil ke situ? Karena nggak ada yang nggak mungkin, jadi apapun itu bukan based on your size sebenarnya. Jadi kalau modeling bisa di wanita langsing kita juga bisa,” ungkap Saktie.

Saktie Nugrahaning Widhi, seorang model plus size. Beratnya 120 kilogram, tinggi 175 sentimeter.

Dunia model Saktie, berawal dari permintaan teman-temannya untuk menjadi foto model beberapa produk. Hingga kemudian, ia serius menekuni.

“Dulu awalnya gara-gara sering dimintai orang difoto untuk produk big size gitu kan, terus makin ke sini makin banyak orang yang jualan baju terutama ya, yang target pasarnya cewek-cewek berukuran plus size.”

Bersama dua temannya; Indrayati Silen dan Dian Meyta Wardhani, mereka lantas mendirikan sebuah agensi bernama Big Beauty Models Management. Sebuah agensi yang menyediakan model-model plus size.

“Kalau saya sebelumnya itu sempat di My Size, terus tapi kan begini, memang baru sekarang setelah ada saya agency, orang itu baru berani punya model tetap.”

Dari situlah, Saktie beberapa kali berlenggak-lenggok untuk merek pakaian asal Asutralia, My Size.

Pendiri Komunitas Xtra-Large, Ririe Bogar, menyebut menyadarkan perempuan bertubuh plus size agar percaya diri tak mudah. Sewaktu mengelola butik, yang datang ke tokonya kebanyakan curhat ketimbang beli.

“Mikirnya tuh pengen kurus supaya banyak yang suka, pengen kurus supaya ini, semuanya pengen kurus sampai lupa bahagia. Sebenarnya kan tolok ukur cantik bukan dari kilogram ya. Maksudnya ketika mampu menjadi diri sendiri, ketika kita sayang diri kita sendiri, otomatis kan inner kita keluar,” ucap Ririe.  

Berawal dari 10 orang, kini kata Ririe, jumlah anggota komunitas mencapai sekira 10 ribuan orang. Aktifitas komunitas pun beragam. Mulai dari bakti sosial, talkhshow hingga fashion show.

Mereka juga mulai berjejaring dengan komunitas serupa di belahan dunia lain; dari Amerika Serikat dan Kanada yang tergabung dalam The Fuller Woman International Network. Dan Ririe ditunjuk menjadi Direktur The Fuller Woman International untuk wilayah Asia.



Ikon Cantik

Bicara cantik dari masa ke masa, selalu berubah. Pada 1960-an sampai 1970-an, ukuran cantik bagi perempuan identik dengan Marilyn Monroe –yang bertubuh sintal. Kini, gambaran itu berubah menjadi bertubuh kurus seperti supermodel Kate Moss dan Twiggy.

Standar itu, kata Ririe, tak bisa terlepas dari ekspansi perusahaan kosmetik. Industri kecantikan berlomba-lomba membuat produk sesuai dengan permintaan pasar.

Tapi bagi, pendiri Balga Magazine ini, cantik tidak bisa lagi diukur dari ukuran badan.

“Industri dan cara pandang masyarakat itu kan saling mendukung itu sebenarnya. Karena kan industri juga melihat gitu loh, oh perempuan itu maunya seperti ini. Dan akhirnya mindset-nya orang-orang itu kebentuk dari industri itu di-brainwash sedemikian rupa oleh industri sedemikian rupa, sampai mereka lupa kalau dari lahir mereka sudah cantik gitu loh,” pungkas Ririe.

Perempuan lulusan Alexander College Australia ini juga mengatakan, gerakan perempuan plus size di seluruh dunia punya kesamaan, salah satunya agar anggotanya peduli terhadap tubuh mereka.

Kembali ke Saktie. Baginya, cantik adalah ketika seseorang sudah bisa menerima kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri.

“Dan tahu cara membahagiakan dirinya, kalau dia sudah sangat yakin sama dirinya, dia tahu dirinya, dia tahu cara bahagiain dirinya sendiri dia akan bahagia. Nah orang yang bahagia itu pasti cantik,” ucap Saktie.

Sementara Ririe meyakini, akan semakin banyak perempuan plus size yang berjalan di catwalk.

“Sekarang di luar negeri pun sudah memakai model-model berukuran besar. Jadi memang butuh waktu, butuh proses. Tapi nanti ada saatnya bahwa cantik itu sudah tidak dilihat lagi dari fisik aja. Dan yang harus merubah itu ya aktivis-aktivis yang percaya bahwa cantik itu tidak bisa dilihat dari ukuran. Mau nggak mau kita harus berjuang sama-sama,” tutup Ririe.






Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!