[SAGA] 'Kalau Fisik Kalah Besar, Tapi Unggul di Rasa Ada Manisnya'

“Kalau dari berasnya beda di rasa, ada manisnya. Kalau fisik mungkin kalah besar, tapi kita unggul di rasa beras. Beras kita tidak hambar."

Kamis, 08 Des 2016 18:00 WIB

Sorang petani Desa Lombok Kulon, Bondowoso, Jawa Timur, sedang mengeringkan gabah. Foto: Friska Kalia/KBR

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Bondowoso - Pagi itu, Mulyono –petani dari Desa Lombok Kulon, Bondowoso, Jawa Timur, hendak berangkat kerja menggunakan sepeda motor.

Sesampainya di Unit Pengolahan Padi Organik, ia lantas memeriksa gabah yang sudah dijemur sejak beberapa hari lalu.

Itu hari, rupanya Mulyono tengah mempersiapkan ekspor perdana beras organik dari desanya. Dan beberapa pekerja terlihat sedang memeriksa gabah dengan tampah.

Beras organik dari desa ini ternyata, menarik perhatian eksportir mulai dari Jepang, Amerika Serikat, dan Timur Tengah. Ketika Trade Expo Indonesia (TEI) 2016 digelar di Kemayoran Jakarta, Oktober lalu, Jepang menjadi negara pertama yang bakal mencicipi beras tersebut.

“Kemarin sudah ada MoU, saya juga sudah tanda tangan dan koordinasi dengan petani dan petugas yang mendampingi kita. Jepang mau 14 ton, Amerika 20 ton dan Riyadh 20 ton perbulan. Karena pertanian organik ini bukan sekadar formalitas atau asal-asalan, tapi harus jujur,” kata Mulyono ketika ditemui KBR.

Rencananya, beras organik dari Desa Lombok Kulon akan dikirim awal tahun depan.

Di unit pengolahan padi organik ini, Muyono dan beberapa pekerjanya saban hari menjemur padi-padi yang telah disetor ratusan petani. Untuk kemudian, dimasukkan ke karung sebelum diproses menjadi butir-butir beras.

Di unit ini pula, ada mesin giling padi setinggi tiga hampir tiga meter, tumpukan karung gabah kering, serta beberapa mesin timbang dan mesin pengemas beras.

Bukan tanpa alasan, para eksportir jatuh hati pada beras desa ini. Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), Kurniatik membeberkan keunggulan beras organiknya.

“Kalau dari berasnya beda rasa, ada manisnya. Kalau fisik mungkin kalah besar, tapi kita unggul di rasa beras. Beras kita tidak hambar. Kemarin ada pembeli dari Singapura, saat di Trade Expo Indonesia 2016 langsung minta spesifikasi beras organik kita. Selain itu, lokasi sawah juga jauh dari pabrik, pemukiman atau polusi. Benar-benar ada di area terisolir. Beras kita juga wangi dan tahan lama, serta dialiri air langsung dari sumber mata air yang tidak pernah mati meski kemarau,” jelas Kurniatik.

Budidaya beras organik di Desa Lombok Kulon, sudah dimulai sejak 2008.

Sebelumnya, petani sangat bergantung pada pupuk kimia sehingga dampaknya menurunkan kesuburan tanah dan turunnya produktivitas tanaman.

Mulyono dan petani lainnya menyadari, jalan satu-satunya menyelamatkan lahan itu dengan beralih ke pertanian organik. Dan proses peralihan itu memakan waktu setahun. Lahan yang dikonversi pun, saat itu hanya 10 hektar.

Asisten II Bidang Perekonomian Pemkab Bondowoso, Hindarto yang kala itu menjadi Kepala Dinas Pertanian bercerita, sebelum dinyatakan sebagai beras organik, para petani mesti melewati jalan panjang.

“Kalau segi pemakaian pupuk organik saat ini sudah 32 ribu hektar lahan petani menggunakan organik. Berarti petani sudah memahami penggunaan bahan organik itu penting. Tahun 2013 kami periksa unsur hara sudah di atas 2 persen dari sebelumnya di bawah itu. Semua kecamatan sekarang tidak ada yang di bawah 2 persen,” kata Hindarto.

Dan karena menggarap lahan baru, ketergantungan petani pada pupuk kimia berkurang. Kabar baik pula, sebab kondisi lingkungan di desa itu membaik. Ditandai dengan munculnya sumber-sumber mata air baru. Dengan begitu, produktivitas terus meningkat dari yang mulanya hanya mampu menghasilkan 1-2 ton per hektar, kini bisa mencapai 6-9 ton.



Wisata Organik


Dimulainya pertanian organik di Desa Lombok Kulon, ternyata merembet ke pariwisata. Secara mandiri –dimotori Baidawi –warga setempat menggagas ‘Desa Wisata Organik’.

Di sini, pelancong bisa menikmati suasana khas pedesaan dengan hamparan sawah organik. Tak hanya itu, ada pula rimbun bambu dan gemericik air yang memanjakan mata dan telingan pendatang.

Bahkan, saung-saung dari bambu siap menyambut setiap orang yang memasuki Desa Wisata Organik.

Baidawi bercerita, pembentukan desa ini dimulai pada 2010 –dua tahun pasca penerapan pertanian organik. Ia lalu mengajak pemuda desa memanfaatkannya sebagai objek wisata.

“Dengan adanya pertanian organik, kita punya kesempatan untuk mengembangkan potensi wisata. Kita galang anak-anak muda, karena apapun yang ada di desa sebenarnya bisa dijadikan wisata,” kata Baidawi.

Kini, ada empat paket wisata yang ditawarkan; wisata pembuatan pupuk organik, pestisida alami, makanan ikan berbahan organi, dan menanam padi.

Tak ketinggalan, wisata pembuatan kerajinan daur ulang dari pelepah pisang dan ranting kering menjadi berbagai macam barang; pigura, tas, vas bunga, boneka, dan miniatur. Hingga, wisata atraksi bersepeda keliling desa, juga tubing atau arung jeram dengan ban.

Hendry Gunawan, pelancong dari Malang mengaku senang mampir ke desa ini. Selain karena makanan yang disajikan berbahan organik, ditambah suasana desa yang tak mungkin ditemui di kota.

“Wisata organik saya lihat pemberdayaannya bagus. Semoga bisa semakin maju. Bisa juga untuk pembelajaran dengan alam bahwa keseimbangan alam penting. Karena alam akan memberikan kebaikan kepada manusia,” kata Hendry yang datang bersama seluruh anggota keluarganya.

Untuk tarif, pelancong dikenakan biaya Rp10 ribu untuk tiap paket wisata, Rp35 ribu untuk tubing. Secara tak langsung pula, pertanian organik dan lahirnya wisata, berefek pada perekonomian warga setempat. Yang kurang hanya perhatian dari pemkab. Sebab, kata Baidawi, tak ada sama sekali bantuan hadir.




Editor: Quinawaty 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Disebut Dukung HTI, Menpora Segera Panggil Adhyaksa

  • Diprotes Imvestor, Presiden Sentil 2 Menteri
  • KPPU: 5 Perusaah Atur Tata Niaga Beras di Sejumlah Provinsi
  • Indonesia Gandeng Azerbaijan Buat Pusat Pelayanan Terpadu

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.