Mama Yuliana Pigai menjajakan noken di LBH Jakarta. Foto: Rio Tuasikal/KBR

KBR, Jakarta - Festival Noken digelar. Di sana, musik khas Papua bersahutan dan lampu warna-warni menambah kemeriahan belasan lapak dari bambu.

Di sini, saya bertemu dengan mama Papua yang menggelar dagangan mereka. "Itu 800 ribu sampai 1 juta rupiah. Itu proses membuatnya lama," kata Mama Yuliana Pigai menjelaskan harga sebuah rok yang dianyam.
 
Yuli datang bersama lima mama lainnya. Mereka membawa noken berbagai bentuk dan ukuran, kalung dari kerang, serta ikan.
 
"Kalau kita jualan sayur mayur, hari ini jual besok sudah layu. Tapi kalau kita bikin noken kita bisa jualan sampai satu bulan bertahan. Budaya kami adalah berkebun, beternak, dan anyaman. Itu dari nenek moyang."
 
Tapi kenapa mereka berjualan di Jakarta – terbang 10 jam dari tempat tinggal mereka?
 
Rupanya para mama Papua ini tak bisa berdagang di tanahnya sendiri.
 
Mereka tersingkir, "Pedagang pendatang dari Makassar atau Buton ilmu dagangnya jauh lebih tinggi. Jadi yang punya warung dan toko kelontong itu mereka.  Jadi kalau kita datang ke Papua – ke Jayapura atau ke mana pun – kita akan mudah melihat mama-mama yang jualan pasti ngemper. Kadang ironis, ada kelontong di belakangnya, mama-mama di depannya. Dia persis ngemper dengan karung goni seperti ini," jelas Zely Ariane koordinator gerakan “Papua Itu Kita” sekaligus penggagas acara ini.
 
Di Papua, kesempatan ekonomi warga asli makin sempit. Ini lantaran para pendatang pelan-pelan telah mengambil lahan mereka.

"Dulu kan macam sayur-sayur di Papua, orang Papua saja yang jual – seperti kacang panjang, kangkung, sagu, dan ikan. Tapi teman-teman dari luar sudah masuk dan mereka perlahan-lahan mengambil itu. Seperti buah pinang, itu dulu mama-mama saja yang jual tapi kini orang dari Bugis dan Toraja sudah jual. Jangan sampai mereka masuk dan memonopoli semua – dan mama tidak bisa apa-apa," ungkap Robert Jitmau dari Solidaritas Pedagang Asli Papua.
 
Dia mencatat ada 1100-an mama Papua yang berdagang – mayoritas di depan toko para pendatang.
 
Karena itu pula sejak 2003 silam, mama Papua sudah meminta satu pasar khusus untuk mereka berjualan.
 
"Ada pasar begini supaya diproteksi, lalu dilatih. Ada pembinaan terpadu. Pelatihan, permodalan dan pengontrolan dan pengawasan. Dengan begitu, dia merekonstruksi dan karakter dagang yang hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari meningkat jadi professional mencari keuntungan," lanjut Robert.
 
Dan, permintaan itu terkabul. Tahun lalu, Presiden Joko Widodo meletakkan batu pertama Pasar Mama Papua, juga satu pasar biasa bernama Pasar Pharaa di Sentani.
 
Tapi, setahun berselang, Pasar Pharaa nyaris selesai sementara Pasar Mama belum ada.
 
Sebetulnya rancangan Pasar Mama Papua sudah ada – bahkan mendapatkan penghargaan arsitektur di Singapura.
 
Tapi lahan yang dimiliki DAMRI belum siap karena masih menunggu surat-surat. "Beberapa surat-surat teknis ini seperti penilaian dari notaris. Itu harus segera cepat dilakukan."
 
Karena alasan itulah, enam mama Papua ke Jakarta. Menagih janji Presiden Jokowi. Di sini mereka menemui Lennis Kogoya, staf ahli presiden untuk Papua.
 
Lennis berjanji bicara pada presiden. Tapi janji hanyalah janji.
 
Sementara mama Papua harus berjuang setiap hari menghadapi gempuran pendatang.
 
Seperti para mama lainnya, Mama Yuli berharap Pasar Mama Papua jadi nyata.
 
Dan, Natal tahun depan, mereka bisa berdagang di tanah mereka sendiri: Papua. "Harapan kami ya pemerintah harus segera membangun pasar, supaya kita mendapat pasar yang layak. Juga ekonomi lebih lama lebih meningkat. Dari pada kita setengah mati dalam ekonomi. Mama-mama ini ketinggalan dalam ekonomi," tutup Mama Yuli.
 




Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!