Aksi Kamisan. (twitter)

Aksi Kamisan. (twitter)

KBR, Jakarta - Raihanda Dwimart Mangawe, siswa kelas 2 SMA Lab School Untad, Palu tak mengira bisa bertemu dengan korban pelanggaran HAM. Telebih pertemuan itu di depan Istana Kepresidenan, simbol tempat paling aman di Indonesia.

Raihanda datang ke Jakarta untuk belajar mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Bersama 19 temannya dari berbagai sekolah se-Indonesia, Raihanda mengikuti aksi Kamisan.

Prosesi ini sudah lama dilakukan oleh korban pelanggaran HAM masa lalu, berlangsung pada setiap hari Kamis. Aksi Kamisan digagas kelompok korban dan pendamping korban, yang mendesak penuntasan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu.

Mereka menagih janji pemerintah untuk menyelesaikan kasus HAM. Setelah Susilo Bambang Yudhoyono, kini giliran Presiden Joko Widodo yang ditagih. Dengan memegang payung hitam bersar, ini kali pertama Raihanda ikut kegiatan itu.

“Saya pegang yang Semanggi. Tuntaskan Tragedi Semanggi 13 November 1998. Kerusuhan kalau nggak salah. Menuntut Pak Presiden turun. Saya harap Pak Presiden melihat aksi kita. Syukur kalau Pak Presiden nengok. Kalau nggak ya miris,” kata Raihanda.

Ray tak menyangka bisa bertemu para korban pelanggaran HAM. Sehari sebelumnya, dia baru menonton film ‘Senyap’.

Film ini mengisahkan korban 1965 yang mencari dan bertemu para pembunuh kakaknya. Kakaknya dibunuh secara keji karena dituduh sebagai PKI. Kepada KBR, Ray menjelaskan apa yang dia pahami sebelum menonton film karya Joshua Oppenheimer ini.

“Komunis itu yang diajarkan ke saya kaum yang tidak mengenal Tuhan dan kaum yang selalu berbuat kekerasan. Memang doktrin,” jelas dia.

Tapi, film ini menjungkirbalikkan apa yang Ray percaya. Ray sadar, orang-orang komunis yang selama ini dicurigai justru adalah korban pembunuhan massal.

“Baru tahu juga sih kalau ada di Deli Serdang. Pembantaian sampai ditenggelamkan di sungai. Digituin segitu-gitunya. Gue baru tahu. Loh gitu ya? Ternyata ada ya?” katanya lagi.

Sambil berdiri di tengah panas sore, Raihanda merasakan manfaat mengikuti Kamisan ini. Sedikit banyak Raihanda tahu rasanya mejadi keluarga korban palanggaran HAM.

“Sudah setiap Kamis sepanjang tahun ini. Nggak kebayang mereka berjuang untuk hak korban. Luar biasa,” akunya.

Tapi pelanggaran HAM masa lalu adalah urusan besar, dan hal baru bagi Ray. HAM bagi Ray adalah bullying, atau kekerasan dalam MOS (Masa Orientasi Sekolah) dan Ospek. Buat Ray, bullying dalam MOS atau Ospek adalah pelanggaran HAM dalam bentuk terkecil.

Bullying bisa saja menghina agama atau etnis tertentu, plus memakai kekerasan. Baginya bukan tidak mungkin, bullying kelak jadi konflik agama atau pembunuhan terencana. Karena itu, kata Ray, bullying dalam MOS atau Ospek harus dihentikan apa pun alasannya. Harus diganti dengan kegiatan yang lebih mendidik.

“Mulai jalan ke sekolah, beri pemahaman ke setiap mereka. Karena bagaimana pun, kalau kita mau ngomong, mau ngapain sudah dicemooh. Apa-apa kita ditindas, dianiaya. Apalagi mengenai identitas. Paling sering kita temui MOS dan Ospek ya. Itu yang paling parah bagi saya,”

Ray percaya, kekerasan harus dihentikan mulai di bangku sekolah. Yang penting, menurut dia, sesama manusia bisa saling menghargai. Bukan menganggap manusia sebagai benda mati.

“Hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan informasi, hak untuk mengutarakan pendapat, hak untuk mendapatkan pelayanan yang layak,” tutup dia.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!