[SAGA] Akhmad Kaliman: Begitu Sumarti Ningsih Meninggal, Ekonomi Saya Kian Memburuk

“Sejak dia (Sumarti Ningsih) masih ada, saya sering terbantu. Tapi begitu dia meninggal, ekonomi saya semakin memburuk. Sebab tulang punggungnya sudah tidak ada,” jelas Akhmad Kaliman.

Jumat, 11 Nov 2016 16:30 WIB

Akhmad Kaliman, ayah korban buruh migran Sumarti NIngsih memperlihatkan foto anaknya. Foto: Muhammad Ridlo/KBR



KBR, Cilacap - “Saya heran, kejadian ini kan kejadian internasional ya, faktanya seperti itu. Bingungnya, pemerintah kok diam semuanya. Baik pemerintah setempat daerah maupun pusat kok belum ada respon,” ujar Akhmad Kaliman ketika ditemui di rumahnya, Banaran, Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap, Minggu (31/10/2016).

Akhmad Kaliman masih bertanya-tanya mengapa kematian anaknya Sumarti Ningsih, tak dipedulikan pemerintah?

Sejak kematian sang anak terungkap pada November 2014, tak satu pun perwakilan pemerintah datang ke rumahnya. Setidaknya, menawarkan bantuan hukum.

Pria tengah baya ini masih ingat, dua tahun lalu, sejumlah anggota polisi dan petugas medis berpakaian putih menyambanginya. Mereka kemudian memberitahu tentang kasus pembunuhan yang menimpa perempuan –diduga Sumarti. Jasadnya ditemukan di koper.

Untuk memastikan korban betul warga Cilacap, dia beserta istri dan cucunya secara bergantian diambil sampel darahnya. Tujuannya mencocokkan DNA, begitu kata polisi.

24 Oktober 2016, persidangan bergulir. Sementara di luar pengadilan, puluhan pekerja migran berdemo –meneriakkan ‘Hukum Rurik Jutting!’.

Kabar sidang itu pun didapat Akhmad Kaliman dari kalangan jurnalis, bukan pemerintah. Yang datang memberi dukungan justru dari Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI).

“Kalau dari kemarin, kita itu memang mendapat bantuan dari Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI),” timpal kakak lelaki Sumarti Ningsih, Suyitno.

Kekecewaan juga muncul lantaran media masa lokal menyebut Sumarti sebagai perempuan penghibur. Sementara ia meyakini adiknya bekerja di restoran.

“Sebagian orang yang memperhatikan itu. Bukan fokus pada persoalannya, tetapi malah kepada profesinya. Selalu diberitakan seperti itu. Ya, mau protes bagaimana,” sambungnya.

Hanya saja, sangkaan itu dibantah Koordinator Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (P4TKI) Cilacap, Ervi Kusumasari. Kata dia, pihaknya pernah menghubungi keluarga Sumarti dan member uang tali asih, meski jumlahnya tak banyak.

“Biasanya, kalau yang berada di luar negeri itu merupakan kewenangan kementerian luar negeri. Kita dulu hanya di pemakamannya saja. Bantuan juga sudah diserahkan, termasuk dari pihak kantor tenaga kerja juga sudah,” kata Ervi.

Bagi keluarga, Sumarti Ningsih adalah tumpuan. Pasalnya, ia memilih menjadi buruh migrant di Hong Kong demi menghidupi orangtua, anak, keponakan, dan kakaknya. Tapi kini, keluarga itu limbung.

Suratmi, ibu Sumarti mengatakan, ia bersama sang suami sekarang harus menanggung ekonomi keluarga. Sementara usia, tak lagi muda. Pasalnya, suami anaknya; Karno, kabur begitu saja.

“Kalau dibilang dia itu ya seperti bajingan. Waktu masih bersama Karno itu selalu membebani orangtua. Kebutuhan hidup dan hamil saja, orangtua yang menanggung. Punya anak di sini harusnya kan tanggungjawab,” tegas Kaliman.

Saat ini, ia hanya berharap pada asuransi Sumarti Ningsih. Setidaknya, uang itu bisa menyambung hidup.

“Belum pernah. Jadi semenjak kejadian sampai sekarang belum pernah ada bantuan atau apa. Cuma kalau uang bela sungkawa itu memang pernah ada. Cuma kan beda, uang belasungkawa dengan bantuan dan asuransi itu beda,” ungkapnya.

Tapi Akhmad Kaliman, belum terpikir seperti apa masa depan cucunya yang masih berusia tujuh tahun itu. Ia hanya meminta pemerintah tak mengabaikan nasib keluarganya.

“Sejak dia (Sumarti Ningsih) masih ada, saya sering terbantu. Tapi ketika dia meninggal, ekonomi saya semakin memburuk. Sebab tulang punggungnya sudah tidak ada,” jelasnya.

Namun oleh Koordinator Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (P4TKI) Cilacap, Ervi Kusumasari, uang asuransi mustahil ada. Pasalnya, Sumarti bukanlah tenaga kerja yang terdaftar secara resmi. Korban, masuk ke Hong Kong dengan visa kunjungan biasa.

“Kalau itu kan bukan TKI ya, itu WNI. Warga negara yang masuk sendiri ke sana. Jadi kalau asuransi tenaga kerjanya tidak ada. Ya dia kan masuk sendiri ke sana,” kilah Ervi.

Kematian Sumarti Ningsih menambahkan deret panjang matinya buruh migrant di Hong Kong. Tercatat ada 12 TKI meninggal karena bunuh diri, sakit, dan kecelakaan kerja, dan tindak kekerasan oleh majikan.

Maka tak sepatutnya, pemerintah, kata Ketua Bidang Riset di Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Cilacap, Akhmad Fadli, menyalahkan buruh migrant. Ini karena buruh migrant tersebut, kerap jadi korban trafficking.
 
“Selain itu, pemerintah harus lebih jeli. Karena bisa jadi, ini ada indikasi kasus trafficking. Atau ini tidak hanya menjadi korban pembunuhan, tetapi merupakan korban penempatan TKI yang tidak sesuai dengan prosedur,” beber Akhmad Fadli.





Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Buruh Tagih Janji Anies-Sandy Naikkan UMP

  • Polisi Tangkap Pembuat Uang Palsu Senilai Ratusan Juta
  • Suap BPK, Pejabat Kemendes Dalih Ditekan
  • Bawa Sabu, PN Medan Hukum Artis Malaysia 11 Tahun