Gereja Damai Kristus, dari luar tidak ada penanda yang menunjukkan kalau itu adalah gereja (Foto: Ri

Gereja Damai Kristus, dari luar tidak ada penanda yang menunjukkan kalau itu adalah gereja (Foto: Rio Tuasikal)

KBR, Jakarta - Jelang magrib, jemaat mulai berdatangan ke Gereja Katolik Damai Kristus di Kampung Duri, Tambora Jakarta Barat. Misa akan berlangsung 10 menit lagi, tapi pengelola gereja tak membunyikan lonceng. Justru suara adzan yang terdengar saling bersahutan. 

Bahkan saat misa berlangsung, suara pendeta masih kalah keras dengan lantunan shalawat yang membahana.

Yohana sudah jadi jemaat di gereja ini sejak 30 tahun lalu. 

“Kami tidak beribadah sembunyi-sembunyi, kami terang-terangan. Rasanya aneh gereja nggak ada papan nama sama salibnya,” kata Yohana. 

“Mestinya mau misa tadi ada lonceng. Loncengnya dulu ada, itu di gapura, sekarang tinggal talinya saja. Harusnya sih nggak.”

Gereja Damai Kristus ini memang tak berlonceng, juga tak memasang tanda salib di bagian luar bangunan – membuatnya sulit ditandai di antara bangunan lain di Kampung Duri ini. 

Dan ini adalah suatu kesengajaan, kata Pastor Giovanny Battista menjelaskan kenapa gereja ini terlihat polos dan sederhana dari luar. 

“Loncengnya sudah nggak bisa dibunyikan. Plang namanya itu ‘Gereja Damai Kristus’ sudah diinjak-injak,” kata Pastor Giovanny yang akrab disapa Givan ini sembari menunjuk ke arah pagar, tempat yang semula dipakai untuk memasang plang gereja. 

“Jadwal misa, jadwal apa, semua ada. Lambang salib dekat pintu juga sudah nggak boleh.” 

Gereja Damai Kristus ada di dalam kompleks Sekolah Damai, Tambora, Jakarta Barat. Semula itu adalah ruang serba guna yang rutin digunakan untuk beribadah sejak 1968.  

Aula ini sudah lama dipakai sebagai gereja, dan Azi, warga yang tinggal di seberang gerbang sekolah, tak merasa terganggu.

“Biasa saja, kan sudah dipakai sejak lama. Dari tahun 60-an. Warga sih biasa saja. Nggak terganggu,” kata Azis.

Meski ada warga seperti Aziz, nyatanya terjadi gelombang penolakan terhadap gereja saat gereja mengurus Izin Pendirian Gereja pada tahun 2000 silam. 

“Sebenarnya kalau kita nggak urus izin nggak masalah. Tapi begitu izin mulai diusahakan ada reaksi dari warga. Itu diketahui pasti ada pembicaraan-pembicaraan di rumah-rumah kopi, tanda kutip. ‘Wih ternyata sudah mulai urus izin.’ begitu. Jadi masalah,” jelas Pastor Givan di ruang kerjanya.

Protes besar muncul pada 2007 dan 2013. Warga berorasi tertib di depan gerbang sekolah. 

Begitu muncul protes, Pastor Givan mengaku bingung. Sebab hubungan gereja dengan warga terjalin baik selama ini.

“Saat 2007 saya belum masuk sini, katanya warga dihasut sama pentolan-pentolan ini. Sebenarnya setelah saya bincang-bincang dengan warga sini mereka tidak tahu apa-apa,” katanya. 

“(Kena) cuci otak semua. Langsung mereka bergerak demo.” 

Beruntung Givan mengenal Ustadz Jufri dari mesjid sekitar. Ia lah yang berani meminta warga untuk diam. 

“Sudah Givan, nggak masalah,” kata Givan menirukan perkataan Ustadz Jufri. 

“Ini teman-teman saya juga tahu ada demo di Gereja Damai. Hey jangan ikut-ikutan, masjid kita juga nggak ada IMB. Nggak usah sesuatu yang nggak layak dipermasalahkan kok dipermasalahkan.” 

Aksi protes baru berhenti total setelah Joko Widodo, gubernur Jakarta saat itu, jadi penengah gereja, ulama Islam dan warga. Tak lama, status tanah pun diubah jadi Sarana Sosial Ibadah. 

Tapi sayang, perkara tak selesai sampai di situ. 

“Karena ini statusnya masih mengambang, ada upeti memang. Permintaan jaminan keamanan. Yang saya dengar dari romo sebelumnya, penjagaan keamanan, misalnya misa natal lima juta rupiah. Besoknya lima juta rupiah lagi. Bangkrut ini kalau begini terus,” terang Givan.

Jemaat akhirnya memilih berkompromi dengan situasi. Tak membunyikan lonceng saat misa berlangsung, juga tak memasang tanda salib di luar gereja. Juga saat mereka hendak memperbaiki gereja. 

"Renovasi kecil di bagian altar itu didemo. ‘Wah pembangunan gereja ini’. Cuma renov saja. Terkadang kita sok elit, semennya dimuat di CRV, jangan di truk. Kalau di truk, warga langsung ‘apa ini?’,” jelas Givan sembari tertawa. 

Agar lebih rukun lagi, gereja rajin berbaur dengan warga. Seperti saat Idul Adha kemarin, Giovanny  berkunjung ke kediaman sejumlah ulama, ketua RT dan juga RW. 

Hasilnya konkrit: sudah setahun lebih jemaat gereja ini bisa ibadah dengan tenang. 

Harapan yang lebih besar lagi dari para jemaat adalah supaya Pemerintah tidak lagi tunduk oleh tekanan warga yang menolak gereja, supaya tak ada lagi pungli dan intimidasi. 

“Satu hal saja, pemerintah tegas. Sudah, aman, pasti. Cuma karena nggak ada suara resmi dari pemerintah mengambang terus. Kalau menurut saya sih, pemerintah keluarkan satu pernyataan resmi itu pasti bisa,” harap Givan.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!