Kirno, penggali makam massal sedang menunjukkan salah satu titik dari lima makam massal yang dibuatnya semasa tragedi pasca '65. Kuburan massal yang digalinya terletak di Blok Afdeling Selagedang, Perkebunan PT JA Watiie, Cipari Kabupaten Cilacap, Jateng.


KBR, Cilacap - 30 September 1965, di Ibukota Jakarta, suasana mencekam. Tujuh petinggi militer Angkatan Darat (AD) dibunuh oleh pasukan yang dipimpin Kolonel Untung. 


Belakangan, pembantaian para jenderal itu, diarahkan pada Partai Komunis Indonesia (PKI) –mereka dituduh sebagai dalang tragedi tersebut. Tak pelak, anggota PKI di berbagai daerah menjadi buruan.

Seperti yang menimpa Bupati Cilacap, DA Santoso. Sebulan pasca pembantaian jenderal Angkatan Darat, ia diburu karena posisinya sebagai tokoh PKI. Maklum saja, di sana, PKI memenangi Pemilu 1955. DA Santoso memimpin daerah itu sejak 1958-1965.

Perburuan anggota dan simpatisan PKI di Cilacap, dimulai dengan merekrut warga sipil atau organisasi masyarakat seperti NU, Muhammadiyah, Ansor, Partai Nasional Indonesia (PNI), dan sejumlah ormas lain.

Dan Rubidi Mangun Sudarmo –yang merupakan kader PNI, ditunjuk sebagai Wakil Komandan Pasukan Gabungan Operasi Penumpasan Gerombolan PKI di Kawasan Cilacap Barat. Para pasukan ini pun dipersenjatai.

Rubidi dipilih sebagai wakil komandan karena dianggap mengenal medan dan tahu tokoh-tokoh PKI. “Wong saya juga tidak sempat mempersiapkan apapun. Saya dijemput di sini (rumah),” kata Rubidi mengenang.

Wilayah operasi Rubidi meliputi Pegunungan Wilis –yang kini masuk dalam administrasi kewilayahan lima kecamatan, yakni Sidareja, Cipari, Wanareja, Cimanggu dan Majenang.

Sepanjang operasi pula, Rubidi bercerita, banyak menangkap anggota/simpatisan PKI, menginterogasi, serta menyaksikan sendiri proses eksekusinya.

Lokasi pembunuhan anggota/simpatisan PKI itu berada di Desa Caruy, Kecamatan Cipari. Saya bersama Rubidi, kemudian beranjak ke Pentus –sebuah daerah pinggir Sungai Cikawung bagian hulu.

Di sini, Rubidi untuk kali pertama menyaksikan sendiri eksekusi mati itu. Kata dia, delapan orang ditembak dalam waktu yang berbeda.

Enam orang pertama, dikubur di lokasi yang kini menjadi Bendungan Cikawung. Sementara sisanya, dikubur di bagian hilir yang berjarak sekitar 70-an meter dari lokasi pertama.

Saat saya tengah mengamati tempat eksekusi, Rubidi tanpa pamit, berjalan ke arah barat –mengarah ke jalan besar. Sekira 300 meter, ia kemudian berhenti dan memandang puing bekas rumah orang kaya tempo dulu.

Rubidi lantas berkata, di pekarangan bangunan itu, menjadi jejak tahanan diinterogasi dan disiksa. Kata dia, 50 meter dari situ, tentara dan anggota Pasukan Gabungan Operasi Penumpasan Gerombolan PKI, tinggal.

“Kalau menginterogasinya di sana. Kalau ada tahanan datang, tidak mesti dimasukkan ke dalam rumah. Kadang diletakkan di halaman. Sekali tempo bisa datang 30-an orang,” jelas Rubidi.

Saya bersama Rubidi lantas beranjak ke Jembatan Plengkung Sungai Cikawung yang berada di Desa Bantarsari, Kecamatan Wanareja.

Di jembatan itulah, eksekusi mati kembali dilakukan.

“Jadi tidak ada yang tahu kalau truk itu bawa orang. Ya 22 orang dibawa ke sini. Tak lama kemudian, datang lagi dari sana, 11 orang. Jadi 33 orang. Sebelum itu, sudah ada lebih dari 40 orang. Saya pernah lihat (menyaksikan) juga.”

Dia pun memperagakan pada saya, cara menghabisi; jempol para tahanan diikat. Lalu oleh sejumlah tentara, mereka disuruh jongkok di pinggir sungai yang curam. Detik itu juga, mereka ditembak satu persatu di bagian tengkuk lantas ditendang, hanyut terbawa air Sungai Cikawung. Ia masih ingat, jumlah tahanan yang dihabisi.

“Oh, di sini. Yang saya tahu jumlah 70. Itu yang saya tahu saja. Padahal, tidak setiap hari saya di sini,” papar Rubidi.

Saking banyaknya yang dibunuh, kata Rubidi, Sungai Cikawung dipenuhi mayat. Begitu pula Sungai Citanduy yang bermuara di Laguna Segara Anakan. Nelayan kampung laut Pejagan sampai protes lantaran ikan mereka tidak laku.
 
“Setelah penuh jenazah di sini, mengakibatkan orang Pejagan protes, ikannya tidak laku. Ada yang beli ikan, di dalam perut ada jarinya.”

Meski begitu, Rubidi mengaku, tak ikut membunuh.

“Saya di sini, Pak Arifin di situ. Saya disuruh ambil satu (korban). Saya jawab, ‘Tentara saja nganggur, itu kan tugas tentara. Membantu itu kan kalau yang dibantu repot. Masa saya yang menembak. Itu namanya merebut kekuasaan’. Saya tidak pernah menembak. Memukul saja tidak pernah,” pungkas Rubidi.

Jembatan itu, kini menjadi jalur vital penghubung Jalur Lintas Selatan (JLS) menuju Jalur Selatan Selatan (JLSS) jawa Tengah. Saksi hidup pembantaian anggota/simpatisan PKI, juga diutarakan sejumlah buruh dari Perkebunan karet PT JA Watie.


(Rubidi yang berada di tengah menunjukkan lokasi eksekusi massal di jembatan plengkung Sungai Cikawung, yang kini tinggal tersisa puingnya. Foto: KBR/Muhamad Ridlo)



1 Liang, 20 Jenazah

Ratusan anggota/simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Cilacap, Jawa Tengah dibunuh oleh Pasukan Gabungan Operasi Penumpasan Gerombolan PKI –bentukan tentara.

Lokasi pembantaian tersebar; Bendungan Cikawung, Jembatan Plengkung, dan perkebunan karet JA Watie.

Kirno, bekas karyawan harian perkebunan karet JA Watie, masih ingat betul peristiwa itu. Suatu hari, ia diperintah sang mandor, mencari rekan untuk menggali. Ukuran liang, harus 2x2 meter dengan kedalaman dua meter. Lantas, diajaklah Sodik dan Puji –sesama buruh sadap atau kuliari.

“Awalnya saya kerja. Lalu saya dipanggil mandor. ‘Pak Kirno, dipanggil sersan,’. Saya tanya, ‘Ada apa sih ya? Jangan-jangan saya dimarahi.’ Lalu saya tanya, ‘Ada apa Pak Sersan?’ Oleh sersan saya diperintah membuat lubang. ‘Pak Kirno kamu sama Pujo dan Sodik bikin lubang. Ukuranya sekian, sekian, dalamnya sekian’. Sudah seperti itu saja. Ya saya siap,” kisah Kirno.

Lubang pertama, digali di ujung hulu ngarai kecil. Belakangan, ia sadar, liang itu untuk mengubur sejumlah tahanan PKI dan seorang perempuan Gerwani beserta anaknya.

“Ceritanya orang-orang, Gerwani itu tidak mau dipisahkan dari anaknya. Anaknya itu diminta (tentara), tetapi tidak boleh. Katanya ‘Tidak lah, mau hidup mau mati bersama saya saja’. Mungkin anaknya ditembak atau bagaimana. Ya saya tidak tahu,” tuturnya.

Saya dan Kirno, menuju jejak lubang itu. Kata Kirno, kuburan massal tersebut ditandai dengan tanaman puring –tetumbuhan khas pemakaman.
 
Kira-kira sepekan, setelah ia menggali lubang pertama, dia kembali diperintah membuat liang lain di area yang sama. Berturut-turut, Kirno membuat tiga lubang lain di seberang ngarai kecil itu. Dengan begitu, total ada lima.

“Kalau sudah diperintah, ya sudah. Kalau sudah selesai ya saya pulang. Sesudah itu, seminggu kemudian saya dipanggil lagi. Diperintah untuk membuat lubang lagi. Ya di sana. Bikin lagi hingga lima kali,” ungkapnya.

Tapi, pria sepuh ini mengaku tak tahu berapa mayat yang terkubur di lima kuburan massal tersebut.

Ia hanya ingat kalau tengah malam, suara tembakan senjata, terdengar nyaring. Apalagi jarak rumah dengan kuburan itu, hanya 500 meter.

“Kalau diatur (jenazahnya) kan miring di sana, di sini. Itu kalau diatur. Nah itu kan ditumpuk begitu saja sepertinya,” beber Kirno.

Senada dengan Kirno, Jumar –warga desa setempat, bercerita kala mencari kayu bakar di perkebunan, ia melihat dengan jelas jejak kuburan itu. Kepada saya, ia menunjukkan tiga titik yang diyakininya merupakan kuburan massal.

“Saya ingat di sini ada Tanah Kafir. Sepertinya, lokasinya di sini. Saya lihat lubang ada tiga titik ya. Jaraknya dari Tanah Kafir tidak jauh,” jelas Jumar.

Tanah Kafir yang dimaksud Jumar adalah lahan yang tidak diakui oleh perkebunan maupun oleh masyarakat. Jumar pun mendengar dengan jelas, rentetan tembakan saat malam tiba. Maka esoknya liang yang tadinya kosong, sudah tertimbun tanah.

Kesaksian Kirno dan Jumar, diamini Radim –warga Desa Mekarsari. Ketika itu, dia bekerja di perkebunan karet JA Watie. Tugasnya mengubur mayat dalam lubang dan menanaminta dengan rumput.

Usianya saat itu, 20 tahun dan masih pegawai baru. Dia pun tak bisa menolak ajakan kawannya, menimbun liang-liang tersebut.

“Jadi (lubang) itu ditutup saja dengan rumput. Belum ada tanah. Saya orang tani, wong itu kejadiannya kan jam 1 malam atau jam 2. Asal ditutup saja. Pagi-pagi saya berangkat,” ujar Radim.

Kata Radim, setiap kali truk melintas di malam hari pasti membawa tahanan PKI. Paginya, ketika disuruh membereskan jejak pembunuhan itu, ia menemukan alat pemukul dari kayu berlumuran darah.
 
“Ada truk pasti sesudahnya ada suara tembakan. Jadi yang nembak itu (sambil memperagakan tembakan jauh) kebanyakan suaranya jegruk jegruk.. kan seperti itu. Ada yang dipukul memakai gendiwung dari kayu asem. Kalau truk-truk itu pulang, pasti ada darah menempel kayu,” tuturnya.

Dan dari lubang itu, bau darah, begitu menyengat.

“Ya, bau amis itu tidak saya pikir. Karena takut. Di dalam lubang itu pasti bertumpukan (jenazah). Soalnya satu mobil itu berisi 20 sampai 25 orang,” jelas Radim.

Radim dan Kirno, tak saling mengenal. Tapi keduanya menunjukkan lokasi yang sama –dimana puluhan anggota/simpatisan PKI dihabisi.

“Saya menyaksikan sendiri dan ikut menutup lubang,” ungkap Radim.

Pria asal Desa Mekarsari ini mengatakan, hingga 40 hari sesudah pembantaian, ia kerap dihantui rasa takut. Jika melintas lokasi tersebut, samar-samar terdengar orang berteriak meminta pertolongan dan menangis.

Hingga berbulan-bulan kemudian, takut itu lenyap. Dan ini, adalah kali pertama dirinya bercerita.




Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!