Untung Suyanto, bekas anggota TNI Angkatan Darat yang dipenjara karena dituding terlibat PKI. Foto:

Untung Suyanto, bekas anggota TNI Angkatan Darat yang dipenjara karena dituding terlibat PKI. Foto: Teddy Rumengan

KBR, Balikpapan - Tubuhnya masih tegap meski usianya sudah beranjak 75 tahun.

Dialah Untung Suyanto, bekas anggota TNI Angkatan Darat berpangkat kopral yang dituduh bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI).

Di rumahnya di Ambarawang Darat, Kutai Kartanegara, ia menceritakan peristiwa setengah abad silam itu.

Ia pun masih menagih keadilan atas pemenjaraan dirinya tanpa proses pengadilan.

“Yang saya sesalkan itu, saya udah jelas dari kemiliteran, dipecat tidak ada, diberhentikan juga tidak ada baik dengan hormat maupun dengan tidak hormat. Hanya diberi surat bebas. Bebasnya tahun 1977, pemberian surat bebasnya tahun 1981. Iitu kan sudah enggak benar," kata Untung pada KBR.

"Kami itu dipensiunkan atau diberikan hak-hak kami. Kembalikan hak-hak kami itu. Itu Harapan kami. Kesalahannya tidak ada kesalahan kami itu. Di situ (dalam surat bebas) ditulis eks Kopral Dua, sementara kami tidak pernah merasa dipecat,” ujarnya

Pasalnya, sembilan tahun dipenjara di barak tahanan Sumber Rejo Balikpapan, haknya telah dirampas.

Padahal selama itu pula, ia tak pernah menerima surat pemecatan dari kesatuannya.

Untung, masuk TNI pada 1960 dan kemudian menjalani pendidikan di Bogor, Jawa Barat. Setahun kemudian, tepatnya pada 1 Maret 1961, ia dilantik menjadi anggota TNI.

Ia lantas ditugaskan ke Kalimantan, bergabung dengan Batalion 609 Asrama Bukit Balikpapan.

Selama di sana, ia bertugas layaknya prajurit. Tapi kemudian, di tahun 1970, ia tiba-tiba dilarang memasuki asrama.

“Pada 16 Maret tahun 1970 saya mau masuk asrama mengikuti apel bendera, tapi tidak boleh masuk bersama (beberapa lainnya). Dicegat, pada waktu itu Sersan Ali Maskur, disuruh naik truk dan di kirim ke POM."

"Saya penuh tanda tanya ini, tidak tahu (kenapa). Akhirnya sore saya dipanggil ke Kodam diperiksa dengan seorang pakaian preman, saya kira perwira. Ditanya-tanyain."

Ketika diinterogasi berjam-jam, Untung ditanya keterlibatannya dalam organisasi Pemuda Rakyat.

Dia pun mengakuinya.

Tapi, keterlibatannya hanya sebatas ikut kegiatan kesenian dan olahraga voli saban sore dikampunya Sanga-sanga Kutai Kertanegara.

“Memang saya akui, sebelum jadi tentara ikut Pemuda Rakyat. Tapi masalah-masalah lain saya tidak tahu. Setelah saya masuk tentara sudah tidak ada hubungan dengan organisasi Pemuda Rakyat,” ujar Untung yang kini telinga kirinya sudah tak mendengar lagi.

Pemuda Rakyat dituding terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ini lantaran organisasi itu kerap menggelar kegiatan kesenian dari satu kampung ke kampung lain dengan mengajak remaja, termasuk orang tua.

Untung juga bercerita, sebelum menjadi tentara, ia mengaku dekat dengan beberapa anggotanya.

Membela diri tak ada gunanya, toh ia tetap dijebloskan ke barak tahanan Somber Rejo Balikpapan, bergabung bersama ribuan tahanan lainnya.

“Sekalinya yang periksa itu tokoh PKI dari Semarang dipanggil Kodam untuk menggantikan tim pemeriksa, Mulyono namanya. Dimasukkan ke kamp, di situ tapolnya bukan khusus PKI saja, ada NU, masing-masing partai dalam kamp itu."

"Ada 13 barak, barak 12-13 TNI termasuk ada Polrinya. Kira-kira jumlahnya tapol 2.500, itu tentaranya pamennya empat, pangkat Lekot, Kolonel,” ujarnya.

Ketika ditahan, ia memiliki istri dan tiga anak yang masih kecil.

Setahun dipenjara, ia masih mendapat gaji. Tapi setelah itu dihentikan.

“Setahun dalam tahanan itu masih dapat bayaran, masih pakaian dinas. Setelah setahun dia (petugas) mengatakan bulan nanti sudah lepas gajinya. Berdasarkan apa kok disetop? Disetop itu kalau sudah dipecat atau diberhentikan dengan hormat. Itu diputus begitu saja gajinya. Sampai sekarang tidak ada keputusan, dipecatkah, atau tidak, diberhentikan dengan hormat atau tidak.”

Untung baru dibebaskan pada 1979. Ia kemudian dibuang ke Kampung Angosari, Kutai Kartanegara, bersama 160an tahanan politik, sembilan di antaranya perempuan.

Mereka dijanjikan mendapat rumah dan lahan untuk dikelola. Tapi, itu semua tak pernah terjadi.

“Tahun 1979 kalau enggak salah bebasnya. Jadi esk ABRI ada 40 orang, kapten Makmur Maksum pembina tahanan memerintahkan, (tahanan yang bebas) jangan pulang dulu. Saudara-saudara akan kami kirim ke Ambarawa Darat."

"Di situ dapat satu rumah, dua hektar tanah basah kering, plus sertifikatnya,. Kami dikirim ke sini ditempatkan dibarak. Satu minggu dibarak dibagi alat kerja, jadi kami merintis ada 50 hektar.”

Penangkapan dan penahanan terhadap orang-orang yang diduga terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI) berlanjut sampai sepuluh tahun setelah pembantaian tujuh petinggi TNI AD 30 September 1965.

Amnesty Internasional memperkirakan puluhan ribu orang ditahan tanpa proses pengadilan pada pertengahan 1970an.

Dan, Untung salah satunya.

Karena itulah, ia menuntut keadilan. Tapi jalan itu masih gelap.

“Di sini dulu ada namanya organisasi namanya Paguyupan Korban Orde Baru yang menuntut hak-hak kami. Tapi sampai sekarang tidak ada kesimpulannya. Kami pernah ke Komnas HAM, itu kira-kira tahun baru-baru ini. Sampai sekarang tidak ada kesimpulan.”

Apa yang dialami Untung, juga dialami Maman Sudana, pria pengangguran asal Bandung, Jawa Barat. Simak kisah bagian kedua.




Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!