Petani memercikkan air ke sawahnya. Foto: Yudha Satriawan/KBR

KBR, Jakarta - Air mengucur deras dari selang yang mengarah ke celah saluran irigasi.
 
Sementara tangan Dibyo, terus memercikkan air dari irigasi ke lahan sawahnya yang mengering.
 
Sesekali, petani di Waduk Cengklik Boyolali ini memandangi tanaman kedelai dan kacang tanah yang mulai menghijau.
 
Meski kemarau, ia berharap harga jual tak anjlok.
 
“Ya hasil panennya jelas berkurang dibanding musim tanam lainnya. Ini kan musim tanam ke 3, jelas boros air, butuh biaya lebih banyak. Semoga harga jual panennya lebih mahal, kalau harga jual padi di musim tanam ke 3 ini di sini yang 4500 meter persegi  ya sekitar 13 sampai 14 juta rupiah. Tapi mereka akan melihat hasil panennya layak dijual berapa," kata Dibyo pada KBR.

"Kalau saya ditanya mereka mau dijual berapa, saya bilang ya 16 juta rupiah saja. Tapi kan terus menawar, tawar-menawar, sampai harganya disepakati.”
 
Jawa Tengah menjadi wilayah penyumbang produksi beras tertinggi setelah Jawa Timur dan Jawa Barat.
 
Untuk itulah, Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, blusukan ke berbagai daerah yang menjadi lumbung padi nasional.
 
Di antaranya ke Karesidenan Surakarta meliputi Sukoharjo, Boyolali, Sragen dan Klaten.
 
Di sana, bekas Wali Kota Surakarta ini menyemangati para petani.
 
“Kalau target Jawa tengah tidak tambah dua juta ton, saya ulangi tiga kali, dua juta ton, dua juta ton. Permintaan kita Jawa tengah meningkat target produksi padi dan tanaman pangan dua juta ton. Ini juga untuk berlaku daerah lain di Indonesia yang menjadi lumbung pangan nasional. Kita ingin dalam 2-3 tahun ini, bisa swasembada pangan, pertama untuk beras, kedua dilanjutkan kedelai, jagung dan produk pertanian lainnya," kata Jokowi ketika berkunjung ke Surakarta.

"Kita tidak ingin komoditas pertanian itu impor dari negara lain, jangan, kita malu. Kita punya sawah yang sangat luas, siapa yang butuh beras datang ke Indonesia.”
 
Demi mencapai cita-cita swasembada pangan pada 2017 mendatang, Jokowi pun membagi-bagikan secara gratis mesin traktor, penyediaan bibit pangan dan pupuk.
 
Hanya, Presiden Jokowi menekankan tak ada makan siang gratis.
 
Sanksi kata dia, akan diberlakukan bagi daerah yang gagal mencapai target.
 
“Ini semua kita beri tidak gratis loh, artinya target produksi pangan harus meningkat. Akan saya hitung, saya awasi, dan saya cek langsung. Setelah ini akan ada bantuan lagi untuk para petani, diberi lagi traktor, pupuk, benih. Kalau target produksi bahan pangan tidak tambah tidak akan saya beri lagi bantuan seperserpun, termasuk traktor satu pun,” sambungnya.
 
Tak hanya itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjanjikan pembangunan saluran irigasi, bendungan, embung demi mendorong produksi beras.
 
Anggaran yang digelontorkan sebesar Rp32,8 triliun pada tahun ini untuk kebutuhan irigasi, bendungan dan embung. Tapi dari angka itu, anggaran yang terserap baru Rp13,6 triliun.

Dan Jawa Tengah menargetkan produksi berasnya sekitar 2 juta ton.
 
“Bantuan untuk Jawa Tengah kita siapkan untuk pembangunan irigasi sebanyak 172 ribu hektar dengan target produksi sebanyak dua juta ton. Jawa tengah, sebagai  salah satu daerah lumbung pangan nasional harus bisa. Gubernur sempat menawar target ini jadi 1,9 juta ton,” kata Amran Sulaiman.
 
Ditantang Presiden Jokowi, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta para petani berkreasi menghadapi kekeringan.
 
Meski ia menyadari, kekeringan bakal menganggu target swasembada pangan di wilayahnya.
 
“Dengan kondisi Jawa Tengah menghadapi kekeringan saat ini, termasuk di wilayah Solo Raya paling parah terjadi di Wonogiri. Untuk kondisi kekeringan ini target produksi pangan yang kemarin ditingkatkan, tidak optimal sampai di situ. Tapi kami yakin akan melebihi target produksi pangan tahun lalu," kata Ganjar.

"Ada banyak rekayasa-rekayasa yang dilakukan para petani untuk bertahan di musim kekeringan ini. Ya mudah-mudahan generasi muda berikutnya mampu mengembangkan teknologi pertanian yang maju. Ini sudah memasuki masa tanam ke 3, pas kekeringan kita dorong para petani untuk tetap meningkatkan produktifitas pertanian agar bisa tercapai.”
 
Lantas, langkah kreatif apa yang dilakukan para petani di Boyolali? Simak kisah bagian kedua.
 



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!