Seorang tetua adat memimpin ritual acara Ngadiukeun pada rangkaian upacara adat Seren Taun di Kasepuhan Cipta Gelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (18/9). Foto: ANTARA



KBR, Jakarta - Suara lesung bertalu-talu terdengar dari Kasepuhan Cirompang, Kecamatan Sobang, Lebak, Banten. Alat penumbuk padi itu selalu dimainkan jika memasuki panen raya seperti saat ini.

Mereka tinggal di tanah adat di sekitar Taman Nasional Halimun-Salak. Dan di sana, tak pernah kekurangan pangan. Bahkan, kala kemarau panjang atau musim yang tak menentu. Itu semua berkat petuah Olot atau Tetua Adat, Abah Amir.

Dialah yang menentukan musim tanam setiap tahunnya. Perhitungan menanam pun tak sembarang, tapi berpatokan pada rasi bintang. Hal itu diyakini bisa mengantisipasi serangan hama seperti burung, ulat, tikus, dan burung, serta kekeringan.

"Jadi ngitung padi itu patokannya pada bintang. Pas nanam padi merekah berbarengan dengan hama turun, diusahakan penanamannya ketika kidang (bintang-red) terlihat," kata Abah Amir.

Abah Amir juga bercerita, masyarakat adat Kasepuhan Cirompang dilarang membunuh hama pemakan tanaman padi. Bahkan, mereka pun tak boleh menggunakan pestisida atau obat-obat lain.

"Menyiasati hama itu dengan mengubah jadwal tanggal tanam padi karena bintang itu kan berjalan. Ketika hama keluar itu binatang apa saja bisa makan padi. Di Kasepuhan tidak ada hama yang dibunuh karena itu hak mereka. Karena kalau membunuh satu saja hama, maka akan celaka," lanjutnya.

Masyarakat adat Kasepuhan Cirompang sudah berabad-abad tinggal di sana. Di lahan seluas 637 hektar itu, terbentang hamparan sawah seluas 185,105 hektar, kebun sayuran seluas 392,484 hektar yang terdiri dari palawija, sayur, tanaman kayu dan buah, hutan adat seluas 52,588 hektar, dan pemukiman warganya seluas 7,324.

Selama itu pula, mereka diajari dua masa musim tanaman padi. Pada enam bulan pertama, masyarakat adat kasepuhan wajib menanam pare gede atau padi. Sedangkan enam bulan berikutnya, masyarakat adat kasepuhan dipersilakan untuk berkebun –atau warga setempat menyebutnya ngebon.

Untuk jenis sawahnya sendiri, ada dua yang macam; sawah tangtu –yang khusus diperuntukkan untuk tetua adat dan sawah yang ditujukan pada warganya. Sementara hutan adat, tak boleh diusik.

Padi yang ditanam di Kasepuhan Cirompang ada 24 varietas. Uniknya, bibit-bibit itu dihasilkan dari bulir padi yang sebelumnya telah melewati proses yang tak biasa.

Mulanya, bulir direndam satu hingga dua malam, kemudian dibungkus daun pisang selama sepekan. Barulah bulir padi yang sudah berakar itu disemai ke lahan mereka. Itu pun tak boleh menggunakan pupuk, traktor/pacul. Mereka, harus menanam dengan tangan.

Masyarakat adat Kasepuhan Cirompang juga bergantung pada hujan dan sungai untuk mengairi sawahnya. Lantaran berada di daerah ketinggian, Kasepuhan menetapkan sejumlah larangan menjamah hutan yang ada di atas gunung. Itu, demi menjaga air tetap mengalir.

Mereka juga memberlakukan pantangan lain. Semisal tak boleh menggarap sawah pada hari Jumat dan Minggu. "Kalau hari Minggu dan Jumat itu sawah tidak boleh digarap, hanya untuk dikebon," sambung Abah.

Saat panen raya tiba, gabah-gabah itu akan dibagikan ke lumbung atau leuit pribadi dan adat –yang jumlahnya mencapai seratusan. Sehingga jika ada warga yang kehabisan, bisa minta dari lumbung adat.
 
Dan dari sekali panen tersebut sanggup menghidupi 1.690 jiwa warganya. Malah, mampu bertahan hingga setahun ke depan. Di Kasepuhan Cirompang pula, ada larangan menjual beras ke luar daerah.

"Padi di sini tahan lama biar puluhan tahun disimpan di lumbung. Jauh berbeda antara pari (padi-red) gede dan pari leutik, pari leutik setahun juga sudah beda rasanya. Pari gede nggak boleh diperjual belikan, kecuali pari leutik. Bibit pari gede asalnya bukan dari pemerintah ataupun dari siapapun, langsung dari alam."

Tak hanya menanam padi, masyarakat adat Kasepuhan mulai menanam sayuran untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Seperti cabai, tomat, sawi, timun, bawang daun dan jenis lainnya.

Selain itu, mereka juga melakukan ngaborek atau ternak ikan di dasar sungai. Caranya menggali dasar sungai hingga kedalaman enam meter dan melapisinya dengan bambu.

“Kita mulai ngaberok atau ternak ikan untuk mencukupi kebutuhan. Satu berok, terbuat dari bambu yang ditanam ke dasar sungai bisa berjumlah hampir seratus. Bibitnya kita semai dulu di sawah, nanti kalau sudah besar baru dipindahkan ke sungai."

Kemandirian pangan ala Kasepuhan Cirompang, sepatutnya ditiru. Toh bersandar pada nilai-nilai leluhur nyatanya mampu menjauhkan mereka dari ketergantungan impor.





Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!