Kanza Vina, seorang transjender perempuan, berpidato saat menerima penghargaan Tasrif Award di Jakarta. Foto: Youtube



KBR, Jakarta - “Nama saya Kanza Vina. Usia saya 23 tahun dan saya seorang transjender perempuan. Dulu aku selalu berpikir, aku tuh sama kayak adik aku. Cuma bedanya rambutku pendek,” katanya memperkenalkan diri pada KBR.

Vina --begitu ia disapa, lahir di Rejang Lebong, Bengkulu. Ketika kecil dulu, ia masih ingat orangtuanya marah jika ketahuan bermain dengan perempuan. "Kalau aku mulai kelihatan main sama perempuan disalahin, terus pulang dipukulin. Kamu ngapain main sama cewek?!”

Kesedihan Vina kecil bertambah, saat tetangganya mulai mengejeknya dengan sebutan bencong. "Ketemu salon terus biasa pada teriak bencong. Terus baru berasa ohhh kayak-kayak gitu kali ya yang disebut bencong kali ya.”

Menginjak remaja, Vina mulai menyadari dirinya bukan laki-laki. Tapi meski begitu, ia tak berani menceritakan hal itu pada kedua orangtuanya. Takut, begitu yang ada dalam pikirannya. "Nah itu mulai-mulai tuh mulai nggak beres. Kok kenapa gue kayak gini? Mau ngomong sama orangtua tapi sudah nolak banget. Mau ngomong sama orang lain, nggak mungkin.”

Di sekolah pun, Vina, kerap jadi bahan ejekan teman-temannya. Dia masih ingat, suatu hari, begitu turun dari angkutan umum langsung diteriaki. Pernah ia berniat melawan karena tak tahan dengan olok-olok itu. Tapi urung dilakukan, karena baginya sekolah bukan tempat untuk adu otot.

Bahkan yang kian menjengkelkan Vina, seorang guru agamanya selalu menjadikan dirinya dan seorang temannya yang tomboy sebagai contoh kaum Nabi Luth. "Setiap pelajaran agama kalau nyinggung Nabi Luth pasti nunjuknya ke meja kita. Semua murid melihatnya ke kita. Kalau keluar ruangan teman-teman bilang,'Hey kalian awas awan panas...'”

Sementara mengadu ke orangtua atas sikap teman-teman dan guru, kata Vina, percuma. Sebab sang ayah juga terang-terangan murka jika melihat dirinya bergaya seperti perempuan. Karena itulah, ia hanya bertahan sampai kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Vina kemudian memilih minggat ke kota. Di tempat yang asing itu, dirinya tak punya tujuan. Dia lalu mencari lokasi pangkalan waria. Di sanalah ia diterima dan menghidupi diri. "Di jalan itu kita bisa meluapkan, ini loh aku berekspresi yang kayak kita mau. Aku dandan seperti ini atas dasar kemauanku sendiri." Selama beberapa waktu, Vina menyenangi hidupnya yang baru. Tapi, kabar tentang ibunya yang sakit-sakitan membuatnya harus pulang ke kampung halaman. “Aku shock lihat keadaan nyokap. Karena dia yang disalahkan sama ayahku. Karena dianggap gagal mendidik. Jadi ibuku pas ketemu itu kurus banget."

Tak tega melihat kondisi sang ibu, Vina bertahan untuk menetap di rumah dan memulai usaha kecil-kecilan. Hanya saja, kakaknya tak suka dengan kehadirannya. "Tapi abangku kayak nggak seneng gitu nyindir-nyindir mana biasanya orang merantau bawa pulang duit." Maka kali kedua, Vina memutuskan minggat ke Jakarta.

Pada 2009, Kanza menginjakkan kaki di Jakarta. Di sini, ia sempat menjadi pekerja seks jalanan selama tiga tahun. Hingga kemudian, dia bertemu Sanggar SWARA –sebuah LSM yang fokus membangun hubungan baik antara waria dan masyarakat di kawasan Jakarta. Di sanalah, Kanza  memulai hidup barunya.


Menjadi Pekerja Seks Jalanan 


 

Di Jakarta, Kanza Vina jadi pekerja seks jalanan. Dikejar satpol pp atau diperlakukan buruk oleh pelanggan, sudah jadi makanan sehari-harinya. Padahal saat itu usianya masih remaja; 17 tahun.

Pengalaman itulah yang kemudian membuatnya ingin mengakhiri hidup. Sebab ia merasa hidup tak adil padanya. "Ketika dengar doktrin orang yang katanya kita dosa banget apa, pengen bunuh diri aja rasanya." Malah berkali-kali pula, ia disarankan bertobat.

Hingga kemudian, Vina berkenalan denga Sanggar SWARA. Di sana, ia aktif dalam Transgender School --sebuah sekolah alternatif untuk komunitas waria muda. Tak hanya itu, Vina pun belajar tentang seksualitas dan jender. "Aku nggak bisa ngomong diri aku perempuan, aku nggak bisa ngomong diri aku laki-laki, ya aku adalah transjender, begitu.”

Stigma negatif yang melekat pada waria, menurut Vina, muncul karena kebanyakan orang tak tahu perjalanan hidup waria yang penuh kepedihan. Mereka, kata dia, kerap mencap waria pemalas. Padahal persoalan utamanya waria tak pernah diberi kesempatan yang sama dalam hal mendapat pekerjaan. Pun, kalau bekerja di perkantoran waria akan dipaksa mengikuti standar publik. "Ketika mereka memilih ekspresinya, untuk mengenakan rok atau rambutnya panjang, mereka nggak boleh. Mereka harus mengikuti standarnya laki-laki.”

Persoalan lainnya, kata Vina, waria tak punya akses ke perbankan. Dampaknya, waria tak punya simpanan di hari tua. Itu mengapa, kini Vina membantu Sanggar SWARA membuatkan koperasi. "Karena mereka nggak punya KTP, mereka sulit buat akun bank. Akhirnya itu berdampak pada manajemen keuangan teman-teman. Kami sekarang lagi melakukan penguatan. Membantu teman-teman dapat akses sosial. Teman-teman kita yang kemarin mereka sulit uang. SWARA bentuk koperasi. Kita realistis.”

Vina, tak ingin ada anak yang mengalami perundungan sepertinya. Sebab, ekspresi jender apapun tak semestinya diejek dan diolok. "Jangan karena dia feminin, dia dilecehkan nggak dapat perlakuan yang harusnya dia dapatkan, dia dilecehkan."

Kebencian terhadap kelompok transjender perempuan memiliki akar masalah yang sama dengan yang dihadapi perempuan. LSM Arus Pelangi mencatat sebanyak 62.2 persen waria dan 45.1 persen LGBT pernah mengalami kekerasan seksual sementara tidak ada perlindungan hukum spesifik bagi mereka.

Melihat itu, Vina memutuskan ingin menjadi ahli hukum atau pengacara. Dengan begitu, setidaknya ia bisa membela teman-temannya. "Mau ambil hukum. Itu paling penting ya untuk konteks sekarang. Beberapa kasus waria adem-adem aja. Pelakunya nggak ditangkep." Dan sekarang, dia tengah mengurus paket B untuk kemudian meneruskan ke universitas.

Kanza Vina belajar bahwa seksualitas bukan penyakit. Ia bukan sesuatu untuk disembuhkan. Dan gerakan LGBTIQ yang kini ia lakoni, adalah bagian dari memperjuangkan hak-haknya. Satu hal yang Kanza harapkan; semua manusia tanpa memandang jender bisa berjalan bersama, bergandengan tangan, dan belajar menerima perbedaan.





Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!